Mabur.co – Kelompok musik religi asal Yogyakarta, Ki Ageng Ganjur, berhasil meraih penghargaan bergengsi “The Preservation Development and Promotion of Traditional Music Performance” dalam ajang International Folklore Festival Boysun Bahori yang digelar di Boysun, Uzbekistan, pada 1–3 Mei 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Daerah (Hokim) Boysun kepada pimpinan Ki Ageng Ganjur, Dr. Ngatawi Al Zastrouw. Selain trofi, kelompok ini juga menerima sertifikat dan hadiah uang sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam pelestarian musik tradisional.
“Kami bersyukur atas penghargaan ini. Kami senang dan bangga perjuangan kami diapresiasi oleh dunia. Ini menjadi kejutan karena kami sama sekali tidak menyangka akan memperoleh penghargaan,” ujar Zastrouw dikutip Antara, Selasa (5/5/2026).
Ki Ageng Ganjur dinilai berhasil menghadirkan komposisi musik yang memadukan unsur tradisi dengan sentuhan modern. Pendekatan ini dianggap sebagai bentuk konservasi budaya yang kreatif sekaligus inovatif, serta mampu mendorong perkembangan musik tradisional ke arah yang lebih dinamis.
Menurut Zastrouw, penghargaan ini merupakan buah dari konsistensi kelompoknya selama hampir 30 tahun dalam menggali dan mengembangkan musik tradisional Nusantara.
Didirikan pada 1996 atas inisiatif KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ki Ageng Ganjur dikenal mengusung misi dialog lintas iman dan perdamaian melalui musik. Mereka menggabungkan instrumen tradisional dengan gaya kontemporer, serta menyampaikan pesan keberagaman, persaudaraan, dan inklusivitas.
Dalam berbagai penampilannya, Ki Ageng Ganjur membawakan aransemen unik dari lagu-lagu internasional seperti “Sweet Child o’ Mine”, “Heal the World”, “Imagine”, hingga “Wind of Change”, serta lagu-lagu Nusantara seperti “Lir-ilir” dan “Medley Nusantara”.
Kepala Pensosbud KBRI Uzbekistan, Sintia Christian Saeh, menyatakan bahwa pencapaian ini menjadi kejutan membanggakan, mengingat Indonesia baru pertama kali berpartisipasi dalam festival tersebut.
Hal serupa disampaikan Duta Besar RI untuk Uzbekistan dan Kyrgyzstan, Ruhaini Dzuhayatin, yang menilai penghargaan ini sebagai pengakuan dunia terhadap kekayaan budaya Indonesia.
Festival Boysun Bahori sendiri merupakan ajang seni tradisi internasional yang diselenggarakan oleh UNESCO bekerja sama dengan pemerintah Uzbekistan. Festival ini rutin digelar setiap dua tahun dan menghadirkan partisipasi dari puluhan negara.
Pada tahun ini, sebanyak 39 negara turut ambil bagian, di antaranya Jerman, Belarus, Yunani, Amerika Serikat, Jepang, Pakistan, dan Indonesia.
Selain sebagai upaya pelestarian seni tradisi, festival ini juga bertujuan memperkuat dialog antarbudaya serta mendorong saling pengertian dan penghormatan antarbangsa. ***



