Menceramahi Diri Sendiri Sebanyak “Dua Bait” melalui Antologi Puisi - Mabur.co

Menceramahi Diri Sendiri Sebanyak “Dua Bait” melalui Antologi Puisi

Mabur.co – Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan ceramah. Salah satunya melalui tulisan yang tertuang di dalam buku.

Itulah yang menjadi awal mula seorang Afifah Abasrin (Arin), salah satu lulusan program Temu Karya Sastra “Daulat Sastra Jogja” dari Dinas Kebudayaan DIY tahun 2025 lalu, untuk menuliskan karya antologi puisi berjudul Khotbah Dua Bait.

Dalam acara Selasa Sastra edisi Mei 2026 bertajuk “Batas Asa, Ruang Harap” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (5/5/2026), Arin, panggilan akrabnya, mengaku bahwa ia butuh siraman khotbah dari para pemuka agama, untuk bisa memberikan pencerahan bagi hidupnya yang dianggap sudah mulai “offside” ke jalan yang tidak semestinya.

Namun melalui kumpulan puisi ini, Arin mampu menemukan sesuatu yang berbeda.

Ketimbang menunggu dan mendengarkan khotbah dari pemuka agama yang hanya diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu, serta topiknya yang belum tentu sesuai dengan keresahan pribadinya, Arin pun mencoba “menceramahi diri sendiri” dengan menuliskannya dalam bentuk puisi, dan dijadikan sebuah buku antologi.

“Antologi puisi ini sebenarnya ditujukan untuk diri saya sendiri. Jadi ibaratnya saya juga sedang “menceramahi” diri sendiri. Karena mau bagaimanapun, soal ibadahmu, soal apa pun yang kamu lakukan saat ini, baik-burukmu, itu semua kembali kepada dirimu sendiri,” ucap Arin, sapaan akrabnya, dalam sesi bedah buku Khotbah Dua Bait, dalam rangkaian kegiatan Selasa Sastra, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (5/5/2026).

Uniknya, Arin mengaku bahwa ia sebenarnya bukanlah orang yang suka diceramahi.

Namun ada kalanya, ia tetap membutuhkan hal tersebut. Karena ia menyadari, hidup yang dijalaninya masih penuh dengan lika-liku yang penuh dengan ketidakpastian.

Sehingga bagi Arin, khotbah sebanyak “dua bait” (dalam artian hanya sedikit) tetap ia butuhkan, untuk bisa kembali “meluruskan” jalan hidupnya ke arah yang benar.

“Dan kenapa (judulnya) cuma “Dua Bait”? Karena memang menurut saya percuma kalau ngomong panjang lebar, kalau pada akhirnya kita tidak bisa menangkap (isi ceramah tersebut) dengan cepat. Jadi sengaja saya buat (judulnya) hanya sederhana, supaya apa yang saya sampaikan untuk diri saya sendiri (melalui antologi puisi “Khotbah Dua Bait” ini) tuh lebih mudah diterima, dan saya tidak memberikan banyak bantahan dan seterusnya. Karena saya sendiri sebenarnya tipikal yang nggak suka diceramahi. Jadi bisa dibilang ini lebih ke penyampaian dari hati ke hati,” tambah Arin.

Meskipun faktanya antologi “khotbah” ini tidak benar-benar hanya berisi dua bait, namun Arin memandang bahwa kiasan “dua bait” ini merupakan sebuah refleksi tajam bagi dirinya sendiri, agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi di kemudian hari, tanpa harus terlalu banyak mendengarkan ceramah dari orang lain (yang belum tentu mengenal dia), dan sebagainya.

Sesi bedah buku antologi puisi berjudul Khotbah Dua Bait ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Selasa Sastra edisi Mei 2026 bertajuk “Batas Asa, Ruang Harap”.

Selain sesi ini, ada pula sesi bedah buku-buku lainnya, yang sudah diterbitkan oleh para lulusan Temu Karya Sastra dari tahun-tahun sebelumnya.

Ada pula sesi diskusi khusus mengenai tips bagi para sastrawan muda agar mampu menembus dunia penerbitan buku dengan lebih mudah dan cepat.

Tak ketinggalan juga performance sastra spesial dari beberapa sastrawan ternama, di antaranya dari Tedi Kusyairi, Endang Winarsih, Fitria Eranda, Sunawi, Nur Budi, Singgih Indarta, dan masih banyak lagi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *