Mabur.co– Di era digital, transformasi media telah bergerak dari media arus utama ke media-media homeless.
Transformasi ini mendorong para praktisi public relation untuk mengidentifikasi, mengenali, dan memahami keberadaan homeless media dalam strategi media handling untuk menjaga reputasi brand dan organisasi, terutama dalam situasi krisis.
Homeless media merupakan sebuah ekosistem distribusi informasi yang tidak terikat pada institusi media, tidak tunduk pada etika jurnalistik, dan bergerak mengikuti logika keterlibatan, bukan verifikasi.
Dalam ruang ini, siapa pun bisa menjadi produsen narasi, dan tidak ada satu pun otoritas yang benar-benar memegang kendali.
Berbeda dengan media konvensional, homeless media tidak bekerja dengan struktur editorial, tenggat waktu, atau mekanisme koreksi yang jelas.
Informasi berpindah dari satu platform ke platform lain, mengalami pemaknaan ulang, distorsi, bahkan amplifikasi emosional tanpa jeda refleksi.
Temuan riset menunjukkan bahwa konten dalam ekosistem ini sering kali bersifat fragmentaris, personal, dan berbasis pengalaman subjektif, namun justru karena itulah ia terasa lebih “jujur” dan dipercaya publik.
Dengan kata lain, otoritas bergeser dari institusi ke kedekatan emosional dan resonansi identitas.
Kepala Bakom RI, M. Qodari, menyampaikan, kehadiran media baru menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan dalam ekosistem komunikasi saat ini.
Oleh karena itu, pemerintah memilih pendekatan kolaboratif untuk meningkatkan kualitas sekaligus memperkuat distribusi informasi kepada masyarakat.
“Kehadiran teman-teman new media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya, tidak hanya melalui media konvensional, tapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realitas komunikasi kita,” ujarnya dilansir Bisnis Indonesia, Kamis (7/5/2026).
Qodari mengatakan, kehadiran New Media Forum merupakan kolaborasi berbagai pelaku media digital di Indonesia.
Menurutnya, transformasi dari apa yang sebelumnya dikenal sebagai “homeless media” menjadi new media menunjukkan perkembangan signifikan dalam industri komunikasi digital.
“Sejumlah platform yang tergabung dalam forum tersebut antara lain Folkative, Indozone, Dagelan, Indomusicgram, Narasi, USS Feed, hingga Kok Bisa? dan CXO Media,” ucapnya.
Qodari menjelaskan, kanal-kanal ini memiliki basis audiens yang sangat besar, bahkan mampu menjangkau puluhan hingga ratusan juta pengikut dengan total tayangan mencapai miliaran setiap bulan.
“Dengan realitas bahwa new media sudah punya followers yang cukup besar, mungkin bisa sampai 100 juta dengan views yang bisa mencapai 4 sampai 5 miliar per bulan, menurut kami, yang terbaik adalah kita engage agar kualitas new media semakin meningkat,” katanya.



