Mabur.co – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, M. Qodari, resmi merangkul sebanyak 40 “new media” atau media baru untuk berkolaborasi strategis dengan pemerintah pusat.
Dalam keterangan terbarunya, Qodari menyampaikan bahwa “new media” merupakan kanal-kanal di platform YouTube (serta website) yang sudah cukup settle, memiliki alamat keredaksian yang jelas, memiliki jumlah followers mencapai 100 juta, serta viewers hingga empat sampai enam milyar per bulannya.
Dengan dinamika komunikasi saat ini yang lebih banyak terjadi di ruang-ruang digital, Qodari merasa perlu merangkul “new media” tersebut, agar mampu menjangkau publik yang seluas-luasnya, kaitannya dalam melakukan komunikasi dengan baik kepada publik.
“Kehadiran teman-teman new media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya. Tidak hanya melalui media konvensional, tapi juga melalui kanal-kanal digital, yang pada hari ini sudah menjadi realita media, atau realita komunikasi di kita (pemerintah), sebagai bentuk dari perkembangan teknologi dan sosial kemasyarakatan,” ungkap Qodari, seperti dilansir dari kanal YouTube Nusantara TV, Kamis (7//5/2026).
Melalui kolaborasi ini, Qodari berharap bahwa produk pemberitaan atau jurnalistik dari setiap “new media” ini bisa terus ditingkatkan. Karena selama ini kerap terjadi ketidaksinkronan informasi yang disampaikan oleh pemerintah, dengan bagaimana “new media” ini mengolah berbagai informasi yang ada, sehingga akhirnya timbul perbedaan persepsi di ranah publik.
“Menurut pandangan kami, new media harus dirangkul, agar dapat meningkatkan kualitas dan standar, agar produk dari new media ini makin berkualitas, seperti halnya media konvensional. Karena kalau “new media” ini dijauhi (dimusuhi karena produk pemberitaannya yang kerap mengkritik pemerintah), kita justru jadi susah ngomongnya (kepada publik). Jadi kami merasa perlu tabayyun atau silaturrahmi terlebih dahulu dengan para “new media” ini,” tambah Qodari.
Salah satu aspek yang ingin ditekankan oleh Qodari, sebagai perwakilan dari pemerintah, adalah bagaimana membuat para “new media” ini mampu memberitakan peristiwa sesuai prinsip cover both sides (netral). Sehingga tidak tendensius dalam setiap konten yang disajikan, lantaran mendukung salah satu kubu, serta berusaha memojokkan kubu lainnya. (*)



