Mabur.co– Ratusan warga di kawasan budaya Kotagede, Minggu (10/5/2026) mengikuti kirab budaya Ambengan Ageng di pelataran Masjid Agung Kotagede.
Kirab budaya tersebut untuk mengiringi prosesi Nawu Sendang Seliran, yang ada di kompleks makam raja-raja Mataram Kotagede.
Kirab budaya diawali dari Balai Desa Jagalan, Banguntapan Bantul, lalu pawai dengan jalan kaki menuju kompleks makam raja-raja Mataram yang berjarak sekitar satu kilometer.
Kirab ini membawa dua gunungan berupa sayuran dan makanan tradisional khas warga setempat.

Delapan bregodo dan berbagai kelompok kesenian ikut menjadi bagian mengawal kirab dua gunungan sayur tersebut, serta ratusan masyarakat sekitar.
Sampai di pelataran Masjid Agung Kotagede, kedua gunungan tersebut didoakan oleh abdi dalem dan warga yang disaksikan oleh pengageng abdi dalem juru kunci makam raja Mataram Kotagede dan juru kunci makam Keraton Surakarta.
Usai didoakan, dua gunungan sayur langsung diperebutkan warga di pelataran masjid.
Sementara abdi dalem membawa dua kendi berisi air kembang untuk menguras sendang.
Pangarsa Tepas Kotagede, KRT Hastononegoro, menegaskan masyarakat terus menjaga tradisi resik sendang sebagai warisan leluhur Mataram.
“Tradisi ini menjadi kegiatan adat turun-temurun yang sarat makna spiritual dan budaya,” ujarnya kepada mabur.co usai acara.

KRT Hastononegoro menjelaskan, Sendang Seliran terdiri atas dua sendang yakni Sendang Kakung dan Sendang Putri.
Sementara itu gunungan kuliner langsung diperebutkan oleh warga yang sudah menunggu sejak pagi.
“Filosofi nawu adalah simbol kebersihan yang wajib dijaga oleh manusia. Tidak hanya kebersihan fisik, namun moral dan batiniahnya. Siwur juga bentuk simbolis, setelah itu proses menguras selanjutnya dilakukan dengan menggunakan genset biar cepet,” ungkapnya.
KRT Hastononegoro menjelaskan, sejarah awal, Sendang Kakung merupakan sendang yang pertama ada dan digunakan oleh Panembahan Senopati saat melakukan babat alas.
Sendang tersebut digunakan oleh kaum putra atau putri. Sedangkan Sendang Putri, dibangun pada masa pemerintahan Raja Keraton Jogjakarta Hamengku Buwono I.
“Sendang Putri dibangun karena Sendang Putra dipakai bersama-sama. Oleh karena itu, dibangun Sendang Putri agar tempat mandi bisa dipisah antara putra dengan putri,” ungkapnya.

KRT Hastononegoro mengatakan, kompleks makam peninggalan Panembahan Senopati hingga kini masih menjadi pusat ziarah masyarakat.
Warga juga rutin menjalankan tradisi wulan suruh sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Namun demikian, modernisasi mulai memengaruhi sebagian masyarakat. Meski begitu, warga Kotagede tetap berkomitmen menjaga budaya Jawa agar tidak hilang ditelan zaman.
“Tradisi Bulan Sura di Kotagede tidak hanya menghadirkan resik sendang. Prosesi lain juga digelar, seperti kirab pusaka, siraman pusaka, hingga upacara adat keraton. Kawasan Kotagede menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya yang terus diminati wisatawan lokal maupun luar daerah,” ucapnya.
Salah satu warga Kotagede, Nanang Dwiantoro mengatakan, kegiatan Nawu Sendang Seliran merupakan cerminan pelestarian budaya adiluhung yang di dalamnya ada nilai-nilai luhur budi pekerti.
“Kegiatan ini bisa menjadi alat pemersatu bangsa,” katanya.
Nanang mengatakan, tradisi resik sendang bukan sekadar seremoni budaya. Sebaliknya, tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, leluhur, dan nilai kebersamaan masyarakat Yogyakarta.
“Saya berharap tradisi budaya Kotagede terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.




