Tragedi Trisakti, Proses Lengser Soeharto - Mabur.co

Tragedi Trisakti, Proses Lengser Soeharto

Mabur.co- Perlawanan terhadap pemerintah yang represif pernah dilakukan mahasiswa Univeristas Trisakti tanggal 12 Mei 1998.

Mereka melakukan aksi turun ke jalan menuntut Soeharto dan Orde Baru (Orba) mundur. Mereka tak mau lagi rezim represif terus buat rakyat menderita.

Kondisi itu membuat aparat keamanan berang. Mereka menginjak, memukuli, menembaki, dan membunuh mahasiswa.

Kekerasan itu memakan korban jiwa: Elang Mulia Lesmana, Hafidhin Royan, Hery Hartanto, dan Hendriawan Sie. Dalam demonstrasi yang menuntut pengunduran diri Presiden Soeharto.

Mantan aktivis mahasiswa UGM era 1990-an, Fadjar Pratikto mengatakan, Tragedi Trisakti bagian dari proses lengsernya Soeharto.

Terkait peristiwa ini, lengsernya Soeharto sendiri disebabkan oleh beberapa faktor yakni situasi politik nasional dan krisis ekonomi.

“Faktor penentu lainnya adalah gerakan mahasiswa dan rakyat sudah terkonsolidasi cukup baik sejak awal 1990-an dengan terbentuknya organisasi mahasiswa, buruh, petani, kaum miskin kota dan seniman baik di tingkat nasional maupun daerah,” katanya saat diwawancarai mabur.co via telepon, Selasa (12/5/2026).

Mantan aktivis mahasiswa UGM era 1990-an, Fadjar Pratikto (Foto: Dok. Pribadi)

Fajar mengatakan,  perlawanan terhadap rezim Orde Baru awalnya menemukan momentumnya ketika terjadi pembredelan pers dan penyerangan terhadap kantor DPP PDI pimpinan Megawati pada 1996, penangkapan para aktivis  SMID dan PRD yang berlanjut terjadi kerusuhan sosial di sejumlah daerah hingga 1998.

“Peristiwa penembakan sejumlah mahasiswa di Semanggi dan kampus Trisakti Jakarta pada aksi mahasiswa Mei 1998 mempertinggi eskalasi politik nasional, aksi massa yang lebih besar di tingkat nasional dan pendudukan gedung DPR/MPR di Senayan,  semakin mempercepat kejatuhan Soeharto,” katanya.

Fajar berharap,  generasi sekarang bisa belajar dari sejarah bahwa perubahan kekuasaan dan perbaikan kondisi ekonomi politik tidak datang secara kebetulan.

Itu merupakan proses yang panjang dan dinamis dalam gerakan perlawanan yang terorganisir.

“Kita tidak boleh diam dan apatis dalam menyikapi kondisi bangsa dan negara yang kita cintai ini,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *