Mabur.co – Warga Sleman kini sedang berbahagia terkait Hari Jadi ke-110 yang tersematkan sebagai penanda ulang tahun pemerintahan Kabupaten Sleman tepat pada 15 Mei 2026.
Semalam juga telah digelar malam tirakatan sebagai momentum gelar rasa syukur warga dan pemerintah yang diadakan di Pendopo Parasamya, Sleman.
Lalu apa arti Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman itu setidaknya bagi masyarakat Sleman sendiri?
Inilah pendapat sastrawan Muhammad Hariwijaya yang tinggal di Sambilegi Baru Lor, Maguwoharjo, Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Bagi Hariwijaya, belum ada pencapaian esensial yang membuatnya harus berbangga dengan Sleman. Baginya, mungkin, dulu orang bangga dengan Sleman karena mempunyai sebagian Merapi, tanah subur dan kearifan leluhur.
“Mungkin juga, dulu orang Sleman bangga sebab menjadi ibukota leluhur, dengan adanya bukti Candi Prambanan, Kalasan, Candi Sari, Candi Sambisari, dan lain-lain. Mungkin lagi, dulu orang bangga dengan Sleman karena bisa membangun universitas seperti UGM, UNY, UIN, dan 30-an PTN PTS lain. Mungkin lainnya, dulu orang bangga dengan Sleman karena punya pusat bisnis dan hotel megah. Tapi, itu kan dulu, ya?” gugat Hariwijaya, Jumat (15/5/2026).
Menurut Hariwijaya pula, itu semua adalah pencapaian para pendahulu Sleman. Baginya, Sleman era kini belum ada yang layak dibanggakan.
“Bahkan banyak bupati dan pejabat ngandang di Wirogunan, seperti Ibnu Subiyanto, Sri Purnomo. Lalu disuruh bangga apanya? Karena ada Amien Rais? Karena ada Mahfud MD? Ada Ganjar Pranowo?” tukas Hariwijaya menutup perbincangan pendek dengan mabur.co. ***




