Mabur.co – Ahli komunikasi politik, Doktor Selamat Ginting, mengamati dengan seksama perbedaan pola komunikasi Presiden Prabowo Subianto saat masih menjadi oposisi (di luar pemerintahan) dengan saat dirinya sudah terpilih menjadi Presiden seperti saat ini.
Menurut Ginting, saat masih berada di luar pemerintahan, pola komunikasi Prabowo cenderung bersifat konfrontatif, emosional, populis, serta nasionalistik.
Dalam berbagai kesempatan, setelah ia dinyatakan kalah Pilpres berkali-kali sejak 2009 lalu, Prabowo kerap menyindir, mengkritik, dan juga berusaha mengoreksi apa yang salah atau masih kurang dalam pemerintahan SBY dan juga Jokowi sebagai pimpinan tertinggi dalam pemerintah pusat.
“Jadi sebelum beliau jadi Presiden, Prabowo itu cenderung gaya komunikasi politiknya itu populis (memihak sesuatu yang disukai publik), kemudian nasionalistik (mementingkan kepentingan nasional/negara). Narasinya keras, langsung (menyasar ke persoalan inti), emosional, kemudian penuh simbol perlawanan (terhadap ketidakadilan yang terjadi pada rezim-rezim sebelum dia berkuasa),” ungkap Selamat Ginting, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Forum Keadilan TV, belum lama ini.
Sementara setelah terpilih jadi Presiden Republik Indonesia pada 2024 lalu, Ginting melihat Prabowo mulai mengubah pendekatan komunikasinya menjadi lebih institusional.
“Namun setelah Prabowo terpilih menjadi Presiden, situasinya berubah total. Ucapannya tidak lagi menjadi simbol perlawanan (karena sekarang Prabowo sudah masuk ke dalam sistem yang selama ini dikritiknya sendiri). Ketika menjadi Presiden, dia harus menjadi simbol stabilitas nasional. Itu kan beda, bukan simbol perlawanan lagi, tapi simbol stabilitas nasional. Itulah mengapa komunikasi politik Prabowo Subianto (setelah menjadi Presiden) cenderung lebih tenang, lebih diplomatis, lebih akomodatif, dan lebih menghindari konflik, daripada saat masih menjadi oposisi,” tambah Ginting.
Bagi Ginting, pola komunikasi Prabowo saat masih menjadi oposisi memang sah-sah saja dilakukan, dan itu masih dalam koridor yang cukup sesuai. Hanya saja, ucapan-ucapannya yang sering berapi-api tersebut nyatanya tidak banyak yang terealisasi hingga saat ini.
Kalaupun ucapannya benar-benar terealisasi, polemik selanjutnya pasti akan muncul di kemudian hari. Dan ujung-ujungnya rakyat akan kembali menjadi korbannya. (*)




