Mabur.co- Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul, Jumat (22/5/2026) menggelar lomba dongeng Kompetisi Bahasa Sastra 2026, di Balai Kalurahan Wukirsari, Imogiri.
Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa dan Sastra, Kundha Kabudayan, Kabupaten Bantul, Purwanto, S.Pd. M.Si, mengatakan, perkembangan bahasa, sastra dan aksara mulai dari pembinaan, pengembangan, dan pelestarian bahasa begitu dinamis di Bantul.
Bertumbuhnya kelompok, komunitas, dan paguyuban yang bergerak di bidang bahasa, sastra dan aksara di Bantul, terlihat dari terbentuknya Paramarta dan Surya Sakethi (sastra Jawa), Sekar Tamansari (Macapat), PPY (Panatacara), Sega Jabung, Pacibita, Lintang Aksara, Dipa Aksara, dan Kembang Cengkir (aksara Jawa).
Banyak sastrawan dan ahli bahasa juga telah berkiprah menghasilkan karya sastra-karya sastra baru dengan menggunakan media bahasa Jawa. Keikutsertaan sastrawan-sastrawan muda dalam dunia bahasa dan sastra di Bantul menjadi kebanggaan bersama dan sekaligus menjadi catatan penting bahwa peran dan dukungan pemerintah bersama masyarakat dalam pembinaan, pengembangan bahasa dan sastra di Bantul sudah terbina dengan baik.
Purwanto mengatakan, peserta kompetisi Bahasa dan Sastra Tahun 2026 ini berbeda dengan peserta kompetisi bahasa dan sastra tahun 2025 yang merupakan warga Kabupaten Bantul.
Kini peserta berdasarkan sekolah yang berada di wilayah Kabupaten Bantul, sesuai dengan tingkatan sekolah (SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA) pada setiap mata lomba.
“Pemenang Kompetisi Bahasa dan Sastra di tingkat Kabupaten Bantul akan diambil 5 terbaik sebagai pemenang. Dari 5 terbaik akan diambil 3 terbaik yang akan mewakili Kabupaten Bantul ke kompetisi Bahasa Sastra dan Aksara yang diselenggarakan oleh Kundha Kabudayan DIY,” katanya.
Menjaring Peserta Generasi Muda
Purwanto mengatakan, kegiatan Kompetisi Bahasa dan Sastra ini merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan dalam rangka mencari peserta terbaik pada jenjang dan jenis kemampuan bahasa dan sastra yang dikuasai peserta.
“Pada kegiatan ini melibatkan beberapa pihak, yaitu panitia, penyelenggara, penanggung jawab, juri, peserta, pendamping, dan penonton. Tujuan kegiatan ini sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan bahasa Jawa di Kabupaten Bantul terutama pada generasi muda.
Untuk mengembangkan potensi seni sastra masyarakat Bantul serta memberikan wawasan dan pengalaman langsung kepada peserta lomba tentang seni bahasa dan sastra Jawa sebagai ajang untuk mengasah, mengekspresikan, dan mengukur kemampuan para peserta dengan mengikuti lomba ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kundha Kabudayan Bantul, Yanatun Yunadiana, SSi, MSi, mengatakan, penggunaan Bahasa Jawa dirasa semakin tidak populer terutama di kalangan generasi muda.
“Masyarakat luas mempunyai kecenderungan untuk memilih menggunakan bahasa nasional ataupun bahasa asing. Untuk itu diperlukan upaya untuk tetap melestarikan dan mengembangkan Bahasa Jawa,” katanya.
Yanatun mengatakan, Kundha Kabudayan Kabupaten Bantul dalam membina dan mengembangkan Bahasa Jawa telah mengadakan Pelatihan/Pawiyatan Pranatacara berbahasa Jawa, juga fasilitasi paguyuban sastrawan Jawa dan Macapat.
“Dari beberapa wujud pembinaan tersebut kiranya perlu diadakan event untuk tampil dan berkompetisi, untuk menambah semangat dan minat berlatih bahasa, sastra dan aksara Jawa. Diadakanlah Kompetisi Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa Tingkat Kabupaten Bantul tahun 2026 ini,” katanya.
Yanatun menjelaskan, kompetisi Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa ini bertujuan untuk memberikan ruang kepada peserta lomba dalam mengekspresikan kemampuan seni bahasa, sastra dan aksara, melatih keberanian dalam menyampaikan materi lomba bagi para peserta untuk tampil di depan umum dengan berbahasa Jawa, mewujudkan individu, dan masyarakat berkarakter yang mencintai kearifan lokal di Indonesia, khususnya bahasa, sastra dan aksara Jawa.
“Melestarikan bahasa Jawa di lingkungan pendidikan dan masyarakat Kabupaten Bantul. Mengenalkan busana Jawa Gagrak Ngayogyakarta kepada generasi muda sehingga mereka mengenal dan mencintai budaya sendiri khususnya berbusana Jawa,” katanya.
Yanatun memaparkan, kompetisi Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa pada tahun ini berbeda dengan kompetisi tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini kompetisi diperuntukkan bagi siswa-siswi sekolah yang ada di Kabupaten Bantul, bukan berdasarkan alamat domisili atau warga Kabupaten Bantul.
Peran dari bapak ibu guru, MGMP bahasa Jawa serta pihak sekolah/madrasah sangat kelihatan terutama dalam pengiriman peserta lomba. Juga khusus lomba mendongeng, peserta berasal dari utusan Kalurahan Rintisan Budaya, Kalurahan Budaya dan Mandiri Budaya. Adapun jumlah peserta lomba total ada 613 peserta.
“Saya berharap semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi para peserta kompetisi, juga bagi Pelestarian Bahasa Jawa di Kabupaten Bantul,” katanya. ***




