Wayang Perlu Dikemas Memasuki Ranah Ekonomi Kreatif - Mabur.co

Wayang Perlu Dikemas Memasuki Ranah Ekonomi Kreatif

Mabur.co-Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya yang ke-80 dan Lustrum ke-16, Jumat (22/5/2026), digelar Ceramah Pakar Wayang sebagai Budaya Benda dan Tak Benda di Halaman Pusaka Jawa UGM.

Ketua Panitia, Dr. Rudi Wiratama, S.IP, MA, mengatakan, acara ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis dan Lustrum Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Pada hari kedua dipilih Ceramah Pakar Wayang sebagai Budaya Benda dan Tak Benda sesuai dengan penghargaan UNESCO yang secara resmi diterima sebagai warisan budaya dunia sejak 2003. Pengakuan ini memperkuat posisi wayang sebagai aset budaya Indonesia.

“Masyarakat hanya mengerti wayang dari pedalangan, pentasnya yang begitu megah, glamor, adiluhung dan lain sebagainya. Tetapi kalau kita memahami dan mempelajari wayang kita  bisa mengetahui juga dari sisi lainnya yakni sisi perspektif wayang. Bagaimana kita bisa mempelajari cara pandang dalam memahami nilai, filosofi, dan estetika pertunjukan wayang,” kata Rudi Wiratama.

Peserta sedang mengikuti Ceramah Pakar Wayang Sebagai Budaya Benda dan Tak Benda yang digelar di Halaman Pusaka Jawa UGM. (Foto; Setiaky.A.Kusuma)
Peserta sedang mengikuti Ceramah Pakar Wayang sebagai Budaya Benda dan Tak Benda yang digelar di Halaman Pusaka Jawa UGM. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Rudi Wiratama menjelaskan, tahun ini agak berbeda dengan tahun sebelumnya. Karena dalam Dies Natalis dan Lustrum Fakultas Ilmu Budaya UGM, terkena efisiensi. Jadi dalam Dies Natalis tahun ini, dibuat acara sangat sederhana.

“Saya berharap Festival Wayang Gajah Mada yang kecil dan sederhana ini, yang penuh pesona, dapat tumbuh menjadi program atau gerakan budaya yang lebih besar karena memiliki Fakultas Ilmu Budaya, banyak potensi,” katanya.

Dosen dan Mahasiswa FIB Tersebar Menjadi Dalang

Rudi mengatakan juga, saat ini, FIB UGM memiliki dosen dan mahasiswa yang merupakan dalang tersebar di Kedu, Yogyakarta, Kebumen, Purworejo. Ada juga dalang yang merupakan ahli wayang, seperti Bima Yasa, ahli wayang gagrak Ngayogyakarta. Juga ada peneliti wayang, ada juga banyak seniman wayang atau dalang yang bisa memotong, menggambar, mempertunjukkan, dan menjual wayang.

“Tidak ada tradisi tanpa inovasi, eksistensi suatu budaya yang tidak hanya hidup melalui seni. Tetapi juga melalui cara jual beli, sehingga produk-produk yang termasuk dalam koleksi ini juga dapat dibeli,” katanya.

Sementara itu, salah satu pembicara yang hadir, Ir. Yuwono Sri Suwito, MM dari Yayasan Javanologi Panunggalan Bakti Nusantara memaparkan, wayang yang diakui UNESCO menjadi budaya tak benda, yakni dari sisi artistik, namun dari sisi filosofi merupakan Heritage Budaya Culture.

Yuwono mengingatkan, Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan seni tradisional yang unik, salah satunya adalah seni pertunjukan wayang kulit. Wayang kulit adalah sebuah bentuk teater bayangan tradisional yang telah menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang paling terkenal.

“Wayang kulit memiliki sejarah yang panjang di Indonesia, dengan akar yang mencapai ribuan tahun lalu. Meskipun ada berbagai teori tentang asal-usulnya, banyak yang setuju bahwa wayang kulit pertama kali muncul di pulau Jawa dan Bali. Wayang berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘bayangan’ atau ‘gambar’ dan kulit mengacu pada bahan kulit yang digunakan untuk membuat figur dalam pertunjukan ini,” katanya.

Yuwono mengatakan, saat ini untuk pementasan sudah bergeser, dulu art by destination (seni berdasarkan destinasi), sekarang menjadi pseudo-traditional art yang memiliki ciri khas dikurangi nilai sakralnya.

Diperpendek waktu, penuh variasi dan protection cost juga lebih murah, pementasan ini pun biasanya untuk konsumsi wisatawan. Untuk pseudo traditional art biasanya menggunakan lakon carangan yang merupakan cerita wayang yang tidak terikat oleh pakem atau keluar dari jalur standar wiracarita Mahabharata dan Ramayana.

”Lakon ini murni merupakan hasil kreativitas dan improvisasi dalang untuk mengembangkan cerita, menyampaikan pesan moral, atau bahkan memberikan sindiran sosial dan politik pada zamannya,” katanya.

Yuwono mengatakan, meskipun kini sudah sampai pseudo traditional art, jangan sampai meninggalkan yang art by destination, jadi seni yang masih murni.

“Orang asing kebanyakan mempelajari pseudo traditional art yang meninggalkan art by destination, yakni seni yang sangat murni itu, yang saya sangat khawatirkan, nanti wayang yang murni bisa ditinggalkan dan bisa diakui negara lain,” katanya.

Yuwono menjelaskan, orang yang membuat wayang dengan jiwa tidak sembarangan, ditatah dan dijual. “Dulu dalang bisa menatah, sekarang dalang tidak bisa menatah wayang,” katanya.

Yuwono menjelaskan pula, sejarah wayang kulit sangat terkait dengan agama Hindu dan Buddha, yang masuk ke Indonesia pada abad ke-1 Masehi.

“Pertunjukan wayang kulit awalnya digunakan sebagai sarana penyampaian ajaran agama dan cerita epik seperti Mahabharata dan Ramayana. Namun, seiring waktu, wayang kulit juga memasukkan elemen-elemen lokal dan mitologi pribumi, menciptakan paduan seni yang unik,” katanya.

Yuwono memaparkan, wayang harus dikenalkan ke generasi sekarang, baik art by destination dan pseudo traditional art karena sebagai budaya seni tradisi, wayang mampu menjadi sumber inspirasi dari nilai-nilai dalam budaya ide, gagasan, ekspresi dan perilaku. Tidak hanya itu wayang mampu menjadi sumber identitas.

“Fungsi wayang mampu sebagai perekat dan relasi dari komponen masyarakat,” katanya.

Yuwono menyatakan, selain minimnya dukungan dari negara, ia menilai kreasi dan inovasi wayang untuk mendekatkan wayang ke publik lewat kreator wayang juga masih sangat rendah. Oleh karena itu, inovasi dan kreasi wayang sangat dibutuhkan agar wayang tidak ditinggal penonton serta perlu adanya regenerasi penonton wayang.

“Jika tidak maka wayang kehilangan stakeholder,” tegasnya.

Yuwono mengatakan, wayang relatif lebih dekat dengan generasi muda yang tinggal di desa. Sejak kecil mereka cenderung akrab dengan berbagai narasi, tokoh, dan pesan sosial wayang. Berbeda dengan generasi muda yang tinggal di kota yang lebih banyak dipengaruhi budaya massa.

Bahasa Wayang Rumit Perlu Memasuki Ekonomi Kreatif

Alasan generasi muda berjarak dengan wayang menurutnya disebabkan bahasa yang digunakan dalam wayang dianggap terlalu rumit sehingga sulit untuk dipelajari dan dipahami.

Cerita atau lakon dan pesan sosial yang disampaikan cenderung berat. Bahkan pertunjukan wayang bercorak konvensional, durasi wayang terlalu lama dan frekuensi pergelaran wayang terhitung masih rendah.

“Saya mengusulkan wayang perlu didorong untuk memasuki ekonomi kreatif  yang memiliki basis penonton, pasar dan berbasis budaya yang berorientasi nilai. Selain itu wayang perlu didorong memunculkan karya yang memberi napas baru tanpa harus merusak nilai-nilai dalam wayang. Generasi muda perlu dikenalkan wayang dengan bahasa, lakon, pesan sosial, dan ajaran wayang,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *