Cagar Budaya Pabrik Gula Randugunting, Sepenggal Kisah Kejayaan Masa Silam

3 Min Read
Weathered single-story house with an arched doorway, peeling walls, a small window, and a large green tree in the foreground.
Eks klinik kesehatan di Pabrik Gula Randugunting yang berada di Padukuhan Tamanan Pabrik, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Padukuhan Tamanan Pabrik, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, ternyata memiliki potensi yang lebih dari cukup untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berkarakter sejarah. Dari hasil identifikasi sementara atas beragam jejak dan situs sejarah yang ada, padukuhan ini telah ada sejak lama.

Kepala Dukuh Tamanan Pabrik, Sugiono, menjelaskan, Pabrik Gula Randugunting juga menyisakan jejak kejayaan berupa klinik kesehatan.

Eks klinik kesehatan di Pabrik Gula Randugunting ini bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya di Kabupaten Sleman melalui SK Bupati Nomor 79.21/Kep.KDH/A/2021 tentang Status Cagar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2021 Tahap XXI.

Close-up of a person wearing a teal traditional shirt and a black head wrap, standing by a pond with trees at sunset behind them.
Kepala Dukuh Tamanan Pabrik, Sugiono. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Pabrik tersebut didirikan oleh K. A. Erven Klaring pada 1870. Pabrik Gula Randugunting berawal dari perkebunan tanaman nila (indigo), namun karena pada akhir abad ke-19 harga indigo jatuh, kalah dengan pewarna kain sintesis, menyebabkan perkebunan Randugunting beralih fungsi. Menjadi perkebunan tebu dan kemudian menjadi pabrik gula.

Ambil Alih Aset

“Tahun 1900, Koloniale Bank mengambil alih aset pabrik dari pemilik sebelumnya yang gagal membayar utang kepada Koloniale Bank,” ucapnya kepada mabur.co, Minggu (21/6/2026). 

Sugiono mengatakan juga, pada abad ke-20, kemunculan klinik atau rumah sakit di lingkungan pabrik gula menjadi fenomena baru. Khususnya dalam sejarah perkembangan rumah sakit di Hindia Belanda yang dipengaruhi anjuran H.F. Tillema.

Anjuran agar setiap pemilik pabrik memerhatikan kesejahteraan karyawan, lantaran berdampak pada produktivitas pabrik.

“Di Yogyakarta, Koloniale Bank pun membangun klinik untuk karyawan pribumi di dekat Pabrik Gula Randugunting pada 1910. Menjadikannya sebagai pabrik gula pertama di Yogyakarta yang memiliki fasilitas kesehatan tersebut,” katanya.

Sugiono kembali menjelaskan, peninggalan bekas pabrik gula sampai sekarang masih ada di tengah-tengah pemukiman warga, yakni adanya bekas cerobong asap.

“Untuk masyarakat yang akan mengunjungi harus lewat gang sempit dekat masjid. Warga di sini bangga  dengan bangunan peninggalan kolonial sebagai ikon wilayah dusun. Bahkan wilayah ini pun sampai diberi nama Dusun Tamanan Pabrik,” katanya.

Tanaman Indigo

Menurut Sugiono pula, pada 1870, wilayah tersebut dipenuhi oleh tanaman indigo, bukan tanaman yang memiliki indra ke-6, tetapi tanaman yang berfungsi sebagai pewarna tekstil.

Namun sayangnya, karena kalah bersaing dengan pewarna sintesis tersebut, maka menyebabkan harganya turun drastis. Pada 1900 itulah kemudian diambil alih dan diganti menjadi pabrik gula. Masyarakat pun menyebutnya Pabrik Gula Randugunting.

“Pabrik gula ini menjadi salah satu dari 19 pabrik gula yang beroperasi di wilayah Yogyakarta pada saat itu. Sayangnya, krisis ekonomi global atau yang dikenal krisis malaise turut menghantam pabrik gula Randugunting. Menyebabkan pabrik gula ini kolaps dan ditutup. Sisa kejayaannya bisa dilihat dari cerobong asap, yang paling menyolok antara permukiman warga dan klinik pertama di Yogyakarta, yang bangunannya masih ada sampai sekarang,” pungkasnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment