Kerap Diremehkan, BRIN Kini Kembangkan Komoditas Budidaya Unggulan Ikan Betok

3 Min Read
Several green tilapia fish with orange fins piled in a pink tub / bucket.
Ikan betok, bethik, atau papuyu. (Foto: Facebook)

Mabur.co – Ikan papuyu atau ikan betok atau ikan betik selama ini sering diremehkan karena hanya dianggap sebagai ikan liar yang hidup di rawa, sungai, maupun sawah. 

Popularitas ikan betok sebagai ikan konsumsi juga kalah jauh jika dibandingkan dengan komoditas ikan budidaya lainnya seperti nila, gurami, bawal atau lele. 

Namun siapa sangka, pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini justru tengah melirik pengembangan ikan betok sebagai komoditas ikan unggulan bernilai tinggi.

Melalui Program Pemuliaan Papuyu Terpadu (PPPT) BRIN tengah berupaya meningkatkan kualitas benih sehingga ikan betok dapat dibudidayakan secara lebih produktif dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dilansir dari laman resmi BRIN, Kamis (6/8/2026), Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Imron, mengatakan, ikan betok merupakan ikan endemik Indonesia yang memiliki prospek besar sebagai komoditas akuakultur unggulan.

Daya Tahan Hidup Baik

Selain memiliki daya tahan hidup yang baik, ikan betok juga dikenal mampu bertahan di berbagai jenis perairan dengan kadar oksigen rendah. 

Namun sayangnya tingginya permintaan pasar saat ini, belum diimbangi dengan ketersediaan benih berkualitas. Selama ini kebutuhan konsumsi masih banyak dipenuhi dari hasil tangkapan di alam.

Karena itu, BRIN mengembangkan program pemuliaan untuk menghasilkan induk dan benih unggul ikan betok secara berkelanjutan.

Imron menjelaskan, salah satu kendala utama budidaya ikan betok adalah ukuran ikan yang tidak seragam saat panen. Kondisi tersebut membuat harga jual tidak maksimal karena hanya ikan dengan kualitas Grade A yang memperoleh harga premium.

Melalui Program Pemuliaan Terpadu, BRIN melakukan pengembangan marka genetik, karakterisasi populasi, seleksi induk, hingga hibridisasi untuk menghasilkan benih dengan pertumbuhan lebih cepat dan kualitas yang lebih baik.

Riset Peningkatan Populasi

Salah satu fokus riset adalah menghasilkan populasi ikan betok betina karena pertumbuhannya terbukti 1,4 hingga dua kali lebih cepat dibandingkan ikan jantan.

Untuk itu, peneliti memanfaatkan teknologi neo-male, yaitu teknik yang memungkinkan menghasilkan keturunan betok betina dalam jumlah lebih banyak sehingga produktivitas budidaya meningkat.

Selain itu, BRIN juga menerapkan metode mix model untuk menghitung potensi genetik setiap induk secara lebih akurat sekaligus mengendalikan risiko perkawinan sedarah.

Menurut Imron, program pemuliaan ini merupakan upaya jangka panjang yang membutuhkan kolaborasi berbagai bidang ilmu agar mampu menghasilkan benih unggul secara berkelanjutan.

Melalui riset tersebut, BRIN berharap ikan betok yang selama ini identik sebagai ikan rawa dapat naik kelas menjadi komoditas budidaya bernilai ekonomi tinggi. 

Selain meningkatkan pendapatan pembudi daya, program ini juga diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap tangkapan alam sekaligus menjaga kelestarian populasi ikan betok di habitat aslinya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar