Mabur.co – Ratusan naskah kuno berusia lebih dari 100 tahun ditemukan di sebuah rumah warga di Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Temuan tersebut berisi sejumlah peninggalan bersejarah, mulai dari karya sastra, kitab keagamaan, hingga naskah perhitungan tradisional yang menjadi gambaran kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau.
Dilansir dari Solobalapan.com, Kamis (6/8/2026), naskah-naskah itu merupakan koleksi milik almarhum Cipto Raharjo, seorang tokoh Desa Tumang yang dikenal memiliki kegemaran menulis dan mengoleksi berbagai manuskrip.
Tersimpan di Rumah Keluarga
Selama bertahun-tahun, koleksi tersebut tersimpan di rumah keluarga sebelum akhirnya ditemukan dan dilaporkan kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Boyolali.
Penemuan itu kemudian ditindaklanjuti dengan proses pendataan, konservasi, serta digitalisasi untuk menyelamatkan isi manuskrip dari ancaman kerusakan akibat usia.
Pustakawan Dinas Arpus Boyolali, Anang Abdulharap, mengatakan dari ratusan naskah yang ditemukan, tidak semuanya langsung didigitalisasi. Tim menggandeng ahli filologi untuk menentukan manuskrip yang memiliki nilai sejarah paling tinggi dan perlu diprioritaskan.
Naskah Aksara Jawa dan Pegon
Pada tahap awal, sebanyak tujuh naskah beraksara Jawa dan Pegon dipilih untuk menjalani proses digitalisasi. Sebagian besar masih dalam kondisi cukup baik, meski beberapa lembar telah mengalami kerusakan akibat kelembapan dan usia.
Temuan tersebut mencakup berbagai jenis manuskrip. Salah satunya adalah naskah berbahasa Jawa berjudul Roman Pedesaan yang berisi karya sastra.
Selain itu ditemukan pula sejumlah naskah Petung-Petung atau primbon yang memuat pengetahuan masyarakat Jawa mengenai perhitungan tradisional.
Salah satu temuan yang paling menarik adalah manuskrip Safinatun Najah, kitab fikih dasar yang hingga kini masih dipelajari di banyak pondok pesantren di Indonesia.
Filolog bahasa Arab, Asep Yudha Wiraraja, menyebut Safinatun Najah merupakan kitab penting yang membahas dasar-dasar ibadah dalam Islam, mulai dari tata cara bersuci, salat, tayamum hingga pengurusan jenazah.
Naskah Petung-petung
Selain kitab tersebut, tim juga menemukan naskah Petung-Petung yang diperkirakan ditulis sekitar tahun 1917–1918. Manuskrip itu memuat doa-doa Al-Qur’an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa sehingga lebih mudah dipahami masyarakat pada zamannya.
Sementara itu, filolog Rendra Agusta menjelaskan sebagian besar manuskrip berasal dari awal hingga pertengahan abad ke-20. Beberapa naskah diketahui dibuat pada tahun 1917, 1918, 1939 hingga dekade 1950-an dengan menggunakan berbagai bahasa, seperti Jawa, Indonesia, dan Arab.
Sebelum ditemukan, seluruh manuskrip disimpan di dalam lemari tua yang lembap sehingga rentan mengalami kerusakan akibat jamur maupun serangan hama. Kondisi tersebut mendorong Dinas Arpus Boyolali segera melakukan konservasi agar isi naskah tidak hilang dimakan waktu.
Setelah proses digitalisasi selesai, seluruh naskah fisik akan dikembalikan kepada ahli waris. Namun pemerintah daerah berencana membantu menyediakan tempat penyimpanan yang lebih layak agar manuskrip tetap terjaga.
Hasil digitalisasi nantinya juga akan didaftarkan ke Perpustakaan Nasional serta diunggah ke perpustakaan digital daerah Remen Maos, sehingga masyarakat, peneliti, hingga akademisi dapat mengakses isi naskah tanpa harus membuka dokumen asli yang rentan rusak.
