Perlukah Perekrutan Pelatih Sepak Bola Menerapkan “Transfer Window” Seperti Pemain Profesional?

Oleh: Azka Qintory

Keluarnya Enzo Maresca dan Ruben Amorim dari kursi kepelatihan Chelsea dan Manchester United hanya dalam waktu beberapa hari di awal tahun 2026 ini, memunculkan pertanyaan besar. Keduanya bahkan tak sampai dua tahun menangani timnya masing-masing, namun sudah harus berhenti di tengah jalan.

Pertanyaannya sekarang, apakah posisi pelatih sepakbola sebegitu rentannya tergeser, hanya karena rentetan hasil buruk di depan mata? Padahal catatan mereka sebelumnya tidaklah terlalu buruk.

Industri sepakbola dunia, khususnya di Inggris, setiap tahunnya memang selalu diwarnai dengan berita pemecatan pelatih, akibat rangkaian hasil buruk dalam beberapa pertandingan terakhir, tanpa mempedulikan capaian apik pada periode sebelumnya.

Akibatnya jelas, pihak manajemen harus memutar otak untuk mencari pelatih pengganti, yang tentunya diharapkan akan mampu membawa hasil instan. Kondisi keuangan klub pun mau tak mau ikut terganggu, akibat ketidaksabaran dalam pengambilan keputusan.

Jebakan Durasi Kontrak

Sama seperti di Indonesia, biasanya pelatih akan dikontrak selama dua hingga tiga tahun maksimal, untuk dapat membawa klub tersebut going forward atau menuju sesuai target yang diinginkan. Namun kenyataannya, kontrak tersebut bagaikan game by game, atau dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.

Di persepakbolaan modern, durasi kontrak seringkali lebih singkat dari yang tertulis dalam perjanjian. Hal itu umumnya terjadi karena hasil buruk di lapangan yang tidak sesuai ekspektasi.

Hal ini tampak sangat ironis, sebab pelatih sudah dianggap seperti “juru selamat” atau “pesulap” yang mampu mengubah segalanya (terutama hasil di lapangan) dalam waktu singkat. Padahal, dalam kehidupan pun, segala sesuatunya memerlukan waktu untuk bisa benar-benar settle dengan lingkungan yang baru.

Lantas, ketika pelatih ini gagal menjadi “tukang sulap” di tim barunya, siap-siap saja ia akan kehilangan pekerjaannya kapan pun, tanpa perlu menunggu durasi kontraknya usai dan semacamnya.

Menerapkan Manager Transfer Window

Sebuah ide menarik pun muncul, di tengah maraknya pemecatan pelatih seperti yang dialami oleh Enzo Maresca dan Ruben Amorim, termasuk juga Patrick Kluivert di timnas Indonesia. Ketiganya diberhentikan tanpa harus menunggu durasi kontraknya berakhir.

Ada baiknya, jika perekrutan pelatih juga menerapkan bursa transfer, seperti yang terjadi pada pemain profesional. Pemain sepakbola profesional tidak bisa sembarangan pindah klub sana-sini, karena aturan bursa transfer, serta aturan finansial yang cukup ketat oleh FIFA.

Dengan menerapkan aturan bursa transfer bagi pelatih atau bisa disebut juga Manager Transfer Window, maka pelatih dapat diberi keleluasaan (dan waktu) untuk menerapkan taktik dan strateginya kepada tim barunya, sekaligus mencoba untuk meraih hasil yang baik secara perlahan-lahan. Dan yang tak kalah penting adalah menghormati durasi kontrak yang telah disepakati. Dengan begitu, kondisi klub akan lebih stabil, termasuk soal aspek keuangan.

Mungkin hasil yang diperoleh tidak akan terlalu mulus di awal-awal. Namun hanya perlu sedikit kesabaran, untuk bisa benar-benar menemukan ritme yang tepat dalam mengeksekusi setiap keputusan di lapangan.

Karena bagaimanapun, pelatih bukanlah tukang sulap. Mereka juga manusia biasa yang perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Hadirnya Manager Transfer Window setidaknya dapat memberikan pelatih lebih banyak waktu, agar dapat merencanakan sesuatunya dengan lebih baik, dan mampu mengeksekusi setiap rencana tersebut di saat yang tepat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *