Catatan Iran Sebelum Demo

Saya sudah tiga kali ke Iran. Pertama, saya diajak Ketum PWI Pusat Pak Margiono untuk mengikuti pertemuan wartawan negara-negara Islam. Kedua, saya diundang kedutaan Iran di Jakarta untuk menghadiri pertemuan negara-negara Teluk. Ketiga, saya mendampingi Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel untuk kunjungan kerja.

Saat kali pertama, ada empat hal penting yang saya catat. Pertama, Iran cukup beringsut akibat diembargo PBB. Gedung termegah hanya hotel tempat pertemuan. Itu pun hotel tua.

Dulu itu Hotel Hilton di masa Shah Pahlevi, sebelum Revolusi Islam yang dipimpin Khomeini. Kedua, Teheran ternyata cukup hijau. Pohon-pohon rindang dan taman-taman hijau. Saat itu bahkan lebih hijau dari Jakarta yang negeri tropis.

Ketiga, saya datang ke pasar. Wow, pangan melimpah dan harga murah. Semua hasil pertanian sendiri. Keempat, saya datang ke Qum, kota suci yang jadi basis rezim revolusi. Wow, suasananya seperti pesantren. Namun ini pesantren level kota. Maksudnya, seluruh kota seperti pesantren.

Nah, yang mau saya catat adalah dua hal terakhir tersebut: pangan dan kaderisasi. Sebuah negara yang pangannya tercukupi secara mandiri dan terjangkau tak mudah dilumpuhkan. Ini yang membedakan Iran dengan Irak di masa Saddam.

Begitu kena embargo, Irak yang kaya minyak dan memiliki senjata canggih langsung kolaps. Sehingga ketika AS menyerbu Irak, langsung tumbang.

Dengan kaderisasi yang masif dan militan, Iran tidak akan kehabisan sumber daya manusia. Ini yang membuat Iran sangggup berperang puluhan tahun. Mereka memiliki kader yang berlimpah untuk menopang kekuasaan.

Apakah situasi politik di Iran tidak ada yang menentang? Wah di Iran banyak kaum sekuler. Melimpah. Jangan lupa, Revolusi 1979 juga ditopang kaum sekuler seperti Bani Sadr, yang kemudian tersingkir. Belum lagi ada pengikut Shah.

Jadi, demo yang lagi ramai di Iran saat ini merupakan keniscayaan. Namun untuk merobohkan rezim, sepertinya berat.

Nah, saat kunjungan kedua, terjadi saat embargo ekonomi dari PBB sudah dicabut. Apa yang saya lihat? Teheran sudah jauh lebih berkembang. Suasana tua dan lusuh sudah tak terlihat. Teheran sudah gemerlap.

Pertemuan juga dilakukan di kota baru di pinggiran kota dengan gedung-gedung yang megah. Kemandirian yang teruji dalam suasana embargo, begitu bebas dagang lagi langsung melesat.

Ini tentu berbahaya bagi AS dan Israel. Maka AS memberlakukan embargo ekonomi secara sepihak. Negara-negara yang tak ikut mengembargo bisa kena sanksi AS.

Nah, saat kunjungan ketiga, saya berkesempatan melihat kemajuan riset nano technology Iran dan teknologi robotik dalam kesehatan. Iran termasuk unggul dalam dua hal ini.

Sebagai catatan akhir, Iran belajar dari Revolusi 1979, masjid-masjid dikontrol. Dulu revolusi berawal dari masjid, maka hal itu tidak boleh terulang. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *