Mabur.co – Beberapa tahun silam, Dusun Segajih, yang terletak di Perbukitan Menoreh, tepatnya di Kalurahan Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, hanyalah dusun terpencil yang hampir tidak pernah dijamah warga dari luar daerah.
Berada tak jauh dari hutan lindung Suaka Margasatwa Sermo yang masih alami, dusun ini hanya dihuni sekitar 100 kepala keluarga dengan sekitar 70 rumah tinggal.
Untuk bisa mengakses dusun ini, terbilang cukup sulit. Jalan yang sempit dengan tanjakan curam dan licin saat musim hujan, selalu menjadi tantangan tersendiri.
Namun siapa sangka, dusun kecil yang berjarak sekitar 41 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta ini, kini begitu dikenal dan ramai dikunjungi. Tak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, wisatawan yang datang ke Dusun Segajih ini juga berasal dari luar negeri, seperti Jerman, Ukraina, Rusia, Cina, hingga India.

Mayoritas pengunjung datang ke tempat ini untuk merasakan paket wisata live in atau hidup dan tinggal bersama warga desa. Selain menginap di rumah-rumah sederhana milik warga, pengunjung juga akan diajak melakukan berbagai aktivitas bersama kebiasaan penduduk sekitar.
Mulai dari menderes kelapa, membuat dan menikmati kuliner lokal seperti gula semut, belajar membatik, hingga mengenal kesenian dan budaya setempat.
Pengelola Segajih Live In, Haryanta, menyebut sejak dibuka 2017 silam, jumlah kunjungan wisatawan di Dusun Segajih tercatat terus meningkat setiap tahun. Kini setiap bulan sekitar 300-400 lebih pengunjung selalu datang ke tempat ini untuk merasakan pengalaman hidup dan tinggal di desa.
“Pengunjung paling banyak itu datang dari kota-kota besar seperti Jakarta. Mereka mengaku datang ke sini, karena selama ini belum pernah merasakan hidup di desa. Jadi mereka penasaran. Mungkin karena sejak kecil selalu tinggal di kota,” ujarnya saat dikunjungi mabur.co.

Menurut Haryanta, kerinduan akan kampung halaman itulah yang mendorong banyak orang kota selalu memilih untuk berlibur di desa. Terlebih bagi mereka yang sudah terputus dengan asal usulnya, sehingga tidak lagi punya tujuan untuk kembali pulang atau mudik ke desa.
“Saya sering mendapati pengunjung dari Jakarta itu, khususnya anak-anak yang bahkan tidak pernah melihat dan bertemu langsung ayam atau kupu-kupu. Sehingga begitu datang ke sini dan bertemu untuk pertama kalinya, sampai ada yang takut,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang warga, Jemiran, mengaku menyewakan 4 kamar di rumahnya sebagai homestay bagi wisatawan atau pengunjung yang datang ke dusunnya. Bersama istrinya, ia juga selalu mengajak setiap pengunjung itu untuk terlibat dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari mereka.

Mulai dari mencari kayu bakar untuk memasak, mencari rumput untuk pakan ternak, hingga memanjat dan menderes kelapa. Tak hanya itu mereka juga diajak untuk ikut menikmati makanan yang biasa disajikan di desa. Seperti tempe besengek, botok tawon, nasi tiplek, sayur lodeh, dan sebagainya.
“Walaupun cuma nginap satu atau dua hari. Tapi setiap pengunjung selalu kita anggap seperti saudara dan keluarga sendiri. Jadi saat akan pulang, kadang mereka malah terlihat sedih dan tak jarang sampai menangis,” ungkapnya.
Semakin berkembang dan menjamurnya wisata live in semacam ini menunjukkan begitu dinamisnya perkembangan tren pariwisata saat ini. Dusun Segajih menjadi bukti desa terpencil di pelosok desa pun bisa menjadi destinasi wisata yang sangat menarik bagi orang-orang kota. ***



