Mabur.co – Tombak Kyai Wijoyo Mukti adalah pusaka kebesaran dan simbol moral kepemimpinan Pemerintah Kota Yogyakarta. Pusaka ini dikenal memiliki panjang 3 meter, dibuat tahun 1921 pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, dan dianugerahkan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 2000.

Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Victor Mukhammadenis Hidayatullah, mengatakan, sejak dulu, banyak orang Jawa yang memiliki benda pusaka.
Benda itu bisa bermacam-macam wujudnya, seperti tombak, keris, perhiasan, dan lain sebagainya.
“Benda pusaka itu banyak yang berumur panjang dan terawat hingga kini. Setahun sekali, benda pusaka itu dijamas atau dicuci. Sebagai benda pusaka yang memiliki arti lebih, proses penjamasan itu harus dilakukan dengan ritual tertentu,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Victor Mukhammadenis Hidayatullah, menjelaskan, prosesi sakral tersebut sebagai salah satu cara untuk menjaga kondisi pusaka pemberian Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 2000 agar tetap dalam kondisi prima meskipun tombak tersebut sudah berusia satu abad.
Tombak Kyai Wijoyo Mukti ada di Balai Kota Yogya
Sebelum dilakukan prosesi jamasan, pusaka ini dikirab terlebih dahulu mengelilingi kompleks Balaikota. Kirab dilakukan untuk mengingatkan kembali keberadaan Tombak Kyai Wijoyo Mukti ada di Balai Kota Yogya.
“Usai kirab, dilakukan prosesi melepas rangkaian melati yang menghiasi pegangan tombak dan juga sarung mata tombak,” katanya.
Warga Pakualaman, Kota Yogyakarta, Sri Wahyuni mengatakan, bahwa pusaka warisan leluhur harus dijaga.
“Melihat pusaka ini dijamas memberi energi positif. Seolah kota ini diberkahi kembali. Saya jadi semangat menjalankan usaha,” pintanya.
Menurut Sri, dalam filosofi Jawa, pusaka memiliki makna spiritual mendalam: bukan semata senjata, tetapi penyatuan logam mulia dan jiwa penciptanya.
Tegaknya Tombak Kiai Wijaya Mukti diyakini sebagai penanda harmonisasi antara rakyat dan pemimpinnya (kawula-Gusti), serta simbol kemenangan sejati (wijoyo-wijayanti) ketika rakyat mencapai kamukten, kesejahteraan lahir batin.
“Kegiatan seperti ini membuktikan bahwa Yogyakarta tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga menanamkan semangat budaya untuk masa depan. Dan lewat jamasan pusaka, masyarakat diajak mengingat: harapan selalu bisa mekar seperti kudhuping gambir dari tanah yang menjunjung nilai-nilai adiluhung,” ucapnya.
