Mabur.co – Selama ini, orang kerap merasa enggan untuk mempelajari sejarah. Baik itu sejarah kemerdekaan, sejarah peradaban, sejarah teknologi, maupun sejarah keluarga atau bahkan sejarah hidupnya sendiri, dan seterusnya.
Argumen yang paling sering digunakan dalam penolakan (untuk belajar sejarah) tersebut adalah karena sejarah merupakan cerita di masa lalu, tidak relevan lagi dengan masa kini, tidak menarik untuk diketahui, dan berbagai alasan klasik lainnya.
Namun menurut Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) wilayah DIY, Agus Toni Widodo, belajar sejarah tidak selalu berkaitan dengan sesuatu yang kuno, masa lalu, tidak relevan lagi, dan semacamnya.
Penguatan Literasi Ilmu Pengetahuan
Baginya, belajar sejarah adalah bagian dari penguatan literasi ilmu pengetahuan, sekaligus sebagai pembelajaran penting bagi setiap individu, sehingga ia akan tumbuh menjadi manusia yang lebih unggul di masa depan.
“Menurut saya, ada baiknya para generasi muda ini selalu perkuat literasi, apapun yang dibaca, tidak harus buku sejarah. Karena itu bisa jadi nilai tambah kalian di masa depan, ketika teman-teman lainnya (yang tidak memperkuat literasi) hanya membaca literasi lewat scrolling (di media sosial dan semacamnya). Sehingga ketika Anda mampu membaca literasi itu secara tuntas, maka Anda akan jadi manusia yang lebih unggul,” papar Agus Toni Widodo, dalam sesi Sinau Sejarah, seperti dilansir dari kanal YouTube Paniradya Kaistimewan, Senin (17/8/2026).
Calon Pemimpin di Masa Depan
Tidak hanya menjadi manusia unggul, menurut Agus, belajar sejarah juga dapat menuntun seseorang untuk menjadi pemimpin hebat di masa depan.
Karena pemimpin hebat adalah mereka yang mampu belajar dari sejarah para pendahulunya, agar tidak mengulanginya kembali di masa depan, serta berinovasi dengan berbagai kecanggihan yang ada saat ini, untuk bisa menciptakan sesuatu yang akan menjadi warisan kepada generasi selanjutnya, dan sebagainya.
“Sejarah itu memang masa lalu, dan masa lalu itu adalah milik manusia. Milik kita semua. Kita masih ingat satu menit, dua menit, atau satu-dua jam yang lalu kita masih ingat, tapi masa depan adalah milik Tuhan. Kita tidak akan pernah tahu, sejam kemudian akan jadi apa. Tetapi pemimpin di masa depan adalah mereka yang bisa menguasai dan mengerti masa lalu,” tambah Agus.
Agus juga turut menyinggung salah satu quote terkenal dari presiden pertama Indonesia yang juga dikenal sebagai “bapak proklamator”, yakni Soekarno, yang pernah menyatakan singkatan unik bernama “Jasmerah”, yang berarti “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”.
Quote semacam itu seolah menjadi pengingat bagi Agus sebagai guru mata pelajaran sejarah, dan juga para generasi muda, agar selalu mengingat-ingat sejarah yang pernah diciptakan oleh bangsa Indonesia, termasuk juga sejarah Yogyakarta, sebagai satu-satunya daerah istimewa di Indonesia. Karena sejarah itulah yang membawa Indonesia bisa mencapai kemerdekaan hingga berusia 81 tahun pada 2026 ini. (*) .
