Mabur.co – Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, Bantul, adalah sebuah tempat ibadah umat Katolik yang berlokasi di Jalan Ganjuran, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY.
Gereja ini dibangun pada 1924 oleh keluarga Schmutzer (Julius dan Joseph Schmutzer) yang berasal dari Belanda.
Keluarga ini adalah pemilik pabrik gula Gondang Lipuro di Ganjuran, Bantul, yang berinisiatif membangun rumah ibadah bagi umat Katolik di lingkungan sekitar mereka, sebagai wujud rasa syukur serta bentuk perwujudan ajaran sosial Katolik, terhadap para buruh dan masyarakat sekitar di zaman Kolonial.
Joglo
Dilansir dari laman Katolikana, Selasa (18/8/2026), bangunan utama gereja ini memakai atap berbentuk joglo, atau disebut sebagai joglo tajug, yang merupakan rumah adat khas Jawa.
Tidak seperti gereja pada umumnya yang berbentuk seperti rumah (memiliki dinding dan pintu di bagian tengah), gereja ini dibangun dengan konsep terbuka layaknya pendopo. Hal ini dimaksudkan agar kehadiran Gereja Ganjuran atau HKTY menjadi lebih dekat dengan masyarakat sekitar.
Interior Gereja Ganjuran

Di area dalam, terdapat empat tiang utama (soko guru) dari kayu di bagian tengah, sebagai penyangga atap bangunan.
Selain itu, bagian dalam gereja ini juga menampilkan sebuah candi setinggi 10 meter, dengan bentuk yang menyerupai candi bercorak Hindu-Buddha.
Di bagian relung candi itu, terdapat patung Tuhan Yesus, yang digambarkan dengan pakaian dan mahkota raja adat Jawa.
Di bagian pilar, dinding (sebelah dalam), dan juga altar pada gereja ini turut dihiasi ukiran kayu bermotif flora dan fauna khas Jawa.
Untuk bagian jendela, gereja ini memakai kaca hias berwarna cerah, yang memuat simbol-simbol rohani Katolik di dalamnya.
Secara umum, desain bangunan dari gereja ini mengikuti patron budaya Jawa, mulai dari ornamen, warna, bentuk, hingga tata ruangnya.
Dengan konsepnya yang unik dan lebih menyerupai pendopo, wajar bila Gereja Ganjuran sangat kental dengan nuansa adat Jawa.
Perpaduan Arsitektur Jawa dan Katolik
Karena arsitektur bangunan ini memang ditujukan untuk mewujudkan akulturasi antara budaya Jawa dengan tradisi agama Katolik.
Meskipun sempat mengalami renovasi besar-besaran pasca-gempa bumi tahun 2006, namun konsep utamanya tetap dipertahankan hingga saat ini.
Karena nilai-nilai budaya Jawa dan tradisi Katolik merupakan perpaduan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain di tempat ini. Sehingga unsur-unsur dari keduanya tetap harus dimasukkan sedemikian rupa, dan seterusnya.
Selain itu, keberadaan Gereja Ganjuran atau HKTY juga mengajarkan satu hal penting. Bahwa budaya lokal dan keagamaan sejatinya tetap bisa bersatu padu (akulturasi), tanpa harus saling mengalahkan, atau saling mendahului antara satu dengan yang lainnya.
Terlebih ketika pembangunan gereja ini justru diinisiasi oleh para penjajah, yang kental dengan zaman kolonialisme pada saat itu. (*)
