Mabur.co – Dalam menjalani kehidupan, setiap orang akan selalu dihadapkan pada berbagai pilihan, dengan berbagai konsekuensinya masing-masing.
Termasuk dalam menjalani karier (pekerjaan), setiap orang setidaknya harus memilih satu jenis pekerjaan atau bidang, yang dapat menunjang kebutuhan hidup sehari-hari, baik untuk dirinya sendiri, maupun keluarganya, dan seterusnya.
Namun ada kalanya, tidak semua pilihan itu disetujui, terutama oleh pihak keluarga. Beberapa profesi atau pilihan hidup seringkali dinilai tidak menjanjikan, tidak menghasilkan gaji yang signifikan, atau tidak memiliki progres yang matang, alias hanya di situ-situ saja sampai bertahun-tahun lamanya.
Hal itulah yang coba diangkat oleh Rirana Khairagani Legowo, seorang lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY periode 2025, dengan menjadikannya sebagai kisah dalam antologi naskah lakon pertamanya.
Dalam antologi naskah lakon tersebut, Aira, panggilan akrabnya, mengangkat kisah seorang anak yang dihadapkan pada situasi sulit, di mana orang tuanya menentang pilihan hidupnya yakni di bidang seni lukis.
Selayaknya pandangan atau stigma masyarakat umum, pilihan hidup di bidang seni seringkali tidak begitu menjanjikan, tidak memiliki masa depan yang jelas, serta tidak memiliki penghasilan tetap atau stabil, yang dapat menunjang perekonomian keluarga, dan sebagainya.
“Antologi ini menceritakan tentang seorang anak yang menyukai bidang seni (seni lukis). Kemudian dia kurang didukung oleh pihak keluarga. Dan biasanya kalau dari pandangan masyarakat umum, seni itu bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan, atau ditekuni secara serius. Tidak seperti bidang-bidang kayak sains atau semacamnya. Seni itu juga sering dianggap kayak ‘ujungnya mau ke mana (kerja apa) sih?’, kayak gitu,” imbuh Aira, dalam sesi diskusi buku antologi naskah lakon berjudul “Kondhang”, dalam rangkaian Selasa Sastra bertajuk “Sajak Rindu pada Desa”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Luluh dengan Pilihan Sang Anak
Dalam perkembangannya, Aira pun menuliskan sudut pandang yang cukup kontras, namun tetap masuk akal. Di mana orang tua dari anak tersebut akhirnya mulai luluh, dan bersedia menuruti pilihan hidup sang anak, yang tetap ingin berkecimpung di bidang seni lukis.
Karena sang anak meyakini, bahwa dengan menekuni bidang seni lukis itu, ia akan merasa bahagia, dan mampu bertahan hidup dari sana, sekalipun stigma umum berkata sebaliknya.
“Dari situ terbersit di pikiranku untuk menulis naskah lakon, di mana anak itu akhirnya bisa meyakinkan orang tuanya, bahwa pilihan hidupnya ini sanggup membuatnya bahagia. Jadi di sini yang saya angkat (ceritanya) adalah ‘Kondhang’, begitu,” tambah Aira.
Aira mengakui, cerita di dalam antologi ini merupakan sekelumit isi hati pribadinya. Di mana ia juga pernah mengalami hal serupa seperti yang dikisahkan dalam buku antologi naskah lakon tersebut.
Dengan mengangkat kisah ini, Aira berharap adanya semacam kesadaran dari para pembaca atau masyarakat secara umum, bahwa setiap pilihan pasti memiliki risiko masing-masing, dan tidak melulu harus dinilai dari aspek materi, dan lain sebagainya. (*)
