Dalam Penulisan Cerpen, Konflik Cerita Anak Lebih Mudah Dikembangkan

2 Min Read
Panel of four women seated on stage; leftmost in maroon hijab speaks into a microphone against a neutral backdrop.
Penulis buku antologi cerpen "Kalian Tidak Mengenal Aku", Endang Winarsih (Foto: Bang Tedi Way)

Mabur.co – Ide penulisan cerita pendek (cerpen) memang bisa datang dari mana saja. Baik dari kisah nyata dalam kehidupan sehari-hari, maupun sesuatu yang sifanya fiksi atau imajinasi, yang sifatnya tidak terbatas di ruang-ruang lingkup tertentu, dan seterusnya.

Namun bagi guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Endang Winarsih, yang baru saja merilis antologi cerpen berjudul “Kalian Tidak Mengenal Aku”, ide penulisan cerpen justru terasa lebih mudah jika menulis tentang konflik anak-anak, terutama yang berusia di rentang sekolah dasar (SD).

Apalagi dalam cerita anak-anak, konflik yang dihasilkan biasanya tidaklah terlalu rumit, dan bisa mengambil contoh yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Saya sebagai penulis itu kadang nulisnya (konflik cerita anak) itu gampang. Hanya kasus sandal hilang satu aja itu sudah bisa jadi konflik. Sesederhana itu, Karena kalau konfliknya orang dewasa itu ruwet. Jadi terkadang menjadi dewasa itu memang benar-benar melelahkan,” ucap Endang Winarsih, dalam sesi diskusi buku antologi cerpen berjudul “Kalian Tidak Mengenal Aku”, dalam rangkaian Selasa Sastra bertajuk “Sajak Rindu pada Desa”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, beberapa waktu lalu.

Dunia Anak Lebih Simpel

Selain soal penulisan cerpen, Endang juga turut menyinggung bagaimana dunia anak yang terlihat lebih simpel, dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Cukup dengan belajar dan bermain bersama teman-temannya, anak-anak sudah merasa ceria dengan kehidupannya sehari-hari.

“Filosofinya kan gini, kenapa anak-anak itu (lebih suka) memakai pensil daripada pulpen? Karena pensil itu lebih gampang dihapus. Tapi kalau pulpen, kalau salah itu hanya di-Tipe-X. Tipe- X pun pada dasarnya tidak benar-benar menghapus, tapi hanya menutupi sebuah kesalahan. Itu sih sebetulnya, terkadang jadi anak-anak itu jauh lebih enak,” imbuh Endang.

Hal itu masih belum ditambah dengan daya imajinasi anak, yang cenderung tanpa batas sekaligus tanpa beban, sekalipun mungkin bagi orang-orang tua, hal itu dianggap mustahil, tidak masuk akal, dan lain sebagainya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar