Inilah Asal-Usul Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia

4 Min Read
A large crowd in a street parade, with white-clad participants carrying a tall, green-yellow ceremonial structure atop a blue cloth, surrounded by spectators and umbrellas.
Ilustrasi prosesi gunungan dalam perayaan grebeg maulud Nabi Muhammad SAW di titik nol kilometer kota Yogyakarta (Foto: ANTARA)

Mabur.co – Tanggal 25 Agustus ini menjadi momen yang sangat spesial, karena tanggal ini bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan hijriah.

Tanggal 12 Rabiul Awal juga menjadi tanggal kelahiran seorang baginda Rasulullah SAW, yang menjadi nabi terakhir di dunia ini sampai hari akhir kelak.

Di Indonesia sendiri, terdapat perayaan hari lahir Rasulullah, yang disebut sebagai Maulid Nabi Muhammad SAW, dengan melakukan berbagai kegiatan tradisi dan kebudayaan sesuai ciri khas masing-masing daerah.

Dilansir dari laman Dompet Dhuafa, Selasa (25/8/2026), berikut adalah sekelumit asal-usul perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang terus bertahan sampai saat ini.

Sejarah Awal

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali dimulai pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-10 Masehi (sekitar abad ke-4 Hijriah). Peringatan yang dilakukan awalnya cukup sederhana, melalui kegiatan keagamaan dan doa bersama di kalangan Syiah Ismailiyah.

Kemudian pada tahun 1404 masehi, perayaan Maulid Nabi mulai masuk dan dikembangkan di Indonesia. Di mana pada saat itu, Wali Songo menjadi pihak yang paling gencar menyebarkan perayaan ini ke seluruh lapisan masyarakat, khususnya sebagai sarana dakwah Nusantara, agar mereka mau memeluk agama Islam secara persuasif dan damai.

Kemudian, Wali Songo juga turut memasukkan unsur-unsur kearifan lokal di dalam perayaan Maulid Nabi tersebut (akulturasi budaya), agar tetap sesuai dengan tradisi di masing-masing daerah, seperti prosesi grebeg maulid di Keraton Jogja dan juga Solo.

Perkembangan hingga Saat Ini

Secara turun-temurun, tradisi perayaan Maulid tidak banyak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Artinya, dari waktu ke waktu, peringatan kelahiran Rasulullah SAW ini tetap mampu dilestarikan oleh setiap generasi, yang selalu memelihara tradisi ini sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing.

Bahkan, momen ini juga kerap dimanfaatkan untuk menggelar pesta rakyat, yakni Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) yang biasanya diadakan selama satu bulan penuh menjelang hari-H pelaksanaan proses grebeg maulid, atau tanggal 12 Rabiul Awal untuk kalender hijriah.

Artinya, selain berupa tradisi atau ritual yang diakulturasi dengan kearifan lokal, momen perayaan Maulid Nabi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperoleh keuntungan ekonomi, yang dapat dirasakan manfaatnya oleh berbagai lapisan masyarakat.

Meskipun pesta rakyat atau PMPS di wilayah Yogyakarta telah ditiadakan sejak 2019, namun kebermanfaatan dari perayaan Maulid Nabi di Yogyakarta masih tetap terasa sampai saat ini.

Karena dalam momen perayaan seperti itu, masyarakat dari berbagai daerah dapat berkumpul di kawasan keraton atau Alun-alun Yogyakarta, untuk mengikuti prosesi gunungan dalam perayaan grebeg maulid, serta penyampaian nilai-nilai dakwah yang tetap terjaga, terutama dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta.

Selain itu, momen ini juga dapat menjadi edukasi wisata dan budaya, sehingga para generasi muda tetap mampu mempelajari sejarah beserta nilai-nilai kearifan lokal dalam prosesi Maulid Nabi secara keseluruhan, dan seterusnya.

Jangan lupakan juga bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah ditetapkan sebagai hari libur nasional, tepatnya sejak 1967 silam. Hal ini menegaskan betapa pentingnya peringatan ini bagi seluruh masyarakat Indonesia, baik yang merayakannya secara langsung, maupun yang hanya merayakan hari liburnya saja.

***

Dengan segala dinamika kehidupan dan kecanggihan teknologi seperti saat ini, perayaan Maulid Nabi tetap eksis dan terus dipertahankan, sebagai salah satu ritual tahunan yang wajib dirayakan oleh segenap masyarakat, khususnya di lingkungan keraton.

Ketika melihat antusiasme masyarakat dalam setiap perayaan ini, tak salah memang jika tradisi ini masih mampu menarik perhatian banyak orang dari berbagai generasi dan lapisan masyarakat, untuk bersama-sama merayakan Maulid Nabi dalam bentuk yang sederhana, namun tetap bermakna, dan mampu menjadi penopang kehidupan yang sejahtera, bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar