Mabur.co – Kemeriahan perayaan Sekaten terdapat juga sisi lain yang cukup menarik yaitu para penjual kinang atau sirih di sekitaran Masjid Gedhe, Kauman, Yogyakarta.
Para penjual kinang banyak didominasi oleh para kaum wanita yang sudah paruh baya. Mereka kerap menggelar dagangannya di selasar pintu atau regol hingga pelataran Masjid Gedhe, Kauman.
Kinang identik dengan snack para nenek, terutama nenek-nenek yang bersuku Jawa. Tradisi nenek di Jawa yang sudah berumur lebih dari seratus tahun, sudah ada.
Tradisi Nginang Setelah Makan
Tradisi nginang atau mengunyah kinang itu sendiri merupakan ritual atau tradisi yang dilakukan setelah selesai makan. Makan tiga kali, maka nginang pun juga tiga kali.
Mbah Widi Martono, menuturkan, setiap Sekaten ia selalu jualan kinang di dekat Masjid Gedhe.
“Kinang terdiri dari campuran tembakau kering, daun sirih, gambir, jambe, injet (kapur sirih) dan kembang kanthil. Campuran tersebut dibungkus dengan conthong (kerucut) yang terbuat dari daun pisang. Lima unsur ini melambangkan rukun Islam yang ditegaskan kembali dengan jumlah kelopak bunga kanthil yang biasanya disisakan berjumlah lima. Semua unsur tersebut disatukan dengan daun sirih sebagai pembungkus,” ucapnya, Selasa (25/8/2026).

Mbah Widi mengatakan, untuk harga antara 3-5 ribu rupiah per buah. Tapi sekarang berjualan kinang sudah tidak selaris dulu lagi, dulu kinang banyak dicari orang untuk dinikmati saat menonton gamelan Sekaten.
“Sekarang yang beli hanya orang-orang tua atau sepuh saja yang memang suka akan kinang,” ceritanya.
