Keju Asli Nusantara Ini Sudah Dikenal Sebelum Ada Penjelajah Eropa

Mabur.co – Siapa bilang keju hanya dibuat oleh orang-orang dari Eropa? Siapa pula mengatakan, keju baru dikenal oleh masyarakat Nusantara, setelah dibawa oleh penjelajah asal Portugis, Spanyol, atau Belanda?

Jauh sebelum itu, nyatanya, masyarakat asli Nusantara telah mengenal dan memproduksi keju untuk mencukupi kebutuhan gizi mereka. 

Tak hanya memiliki bahan yang sama, keju asli Nusantara juga dibuat dengan cara atau proses yang tak jauh berbeda dengan keju yang biasa dibuat oleh orang-orang Eropa. 

Sejarah mencatat, sejak sebelum kedatangan para penjelajah Eropa, masyarakat asli Nusantara telah mengenal dan memproduksi keju. Salah satunya Danke atau Dangke, keju tradisional yang dibuat oleh masyarakat Enrekang, Sulawesi Selatan. 

Sejak lama, Enrekang memang dikenal sebagai daerah penghasil daging sapi maupun kerbau. Tak sedikit masyarakat di sini memelihara sapi dan kerbau untuk diambil daging, kulit, maupun susunya. 

Melihat fakta itu, tak aneh bila masyarakat setempat memiliki kemampuan untuk mengolah dan menghasilkan berbagai olahan makanan dari bahan susu sapi atau kerbau.

Sebagaimana dikutip dari Agropustaka, Danke atau Dangke menjadi salah satu makanan trasional khas daerah Enrekang. Keju lokal ini biasa dibuat masyarakat Enrekang sebagai makanan  sehari-hari.

Nama Danke atau Dangke sendiri konon baru diberikan sekitar tahun 1900-an. Yakni ketika ada orang Belanda tiba di Sulawesi dan disuguhi makanan tradisional berupa keju lokal ini. 

Orang Belanda tersebut lantas mengucapkan ‘Danke’ yang merupakan bahasa Belanda yang berarti ‘terima kasih’. Sejak saat itulah orang-orang di sana lebih banyak memakai Danke untuk menyebut keju lokal ini.

Keju lokal Enrekang sendiri biasa dibuat dengan cara tradisional menggunakan teknik yang sangat sederhana.

Pertama, bahan baku berupa susu sapi atau kerbau, dipanaskan hingga mendidih. Susu kemudian dicampur dengan air perasan daun pepaya yang berfungsi sebagai penggumpal. 

Setelah itu, gumpalan yang terbentuk lalu dipisahkan dan dicetak menggunakan wadah, bisa berupa cetakan kayu atau pun tempurung kelapa.

Setelah kadar air jauh berkurang Danke kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dan siap disajikan. 

Agar lebih awet atau tahan lama, masyarakat Enrekang biasanya akan menyampurkan Danke dengan sedikit garam.

Hingga saat ini Danke atau keju lokal asal Enrekang ini masih bisa ditemui. Selain menjadi makanan tradisional, Danke juga menjadi salah satu oleh-oleh khas Sulawesi Selatan. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *