Mabur.co – Banyak momen menarik seputar kebudayaan di area Yogyakarta sepanjang bulan Agustus. Misalnya saja, momen Sekaten, pameran buku dan arsip, Art Jog, meninggalnya perupa maestro Nasirun, Festival Sastra Yogyakarta, Hari Keistimewaan Yogyakarta, termasuk digencarkannya program Pendidikan Khas Kejogjaan.
Belum lagi aktivitas budaya di tingkat kalurahan yang berbasis pada pelestarian tradisi, ada banyak juga. Misalnya terkait dengan permainan tradisional, seni tradisi, dan lain sebagainya.
Dalam banyak acara budaya tersebut bisa terpampang dengan jelas, potensi yang tak pernah habis digali. Sinergi antara kekuatan komunitas, pemerintah, sekolah, dan varian lagi menjadikan Yogyakarta semakin kukuh sebagai kota yang memang layak disebut istimewa.
Seni Partisipatoris
Geliat dinamika budaya di Yogyakarta yang menguat sepanjang Agustus bisa menjadi tengara bahwa seni partisipatoris tetap mengedepan dan menjadi bagian penting dari gotong royong kebudayaan yang patut dijunjung tinggi.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dan semuanya terjalani dengan penuh kesadaran. Upaya menumbuhkan spirit keistimewaan pun terbangun dari kesadaran kebudayaan yang dimulai dari bawah. Kita tahu, kini juga ada kalurahan budaya dan desa budaya sebagai basis massa potensial untuk selalu menumbuhkan seni hingga awet sebagai ekspresi budaya massa.
Ekspresi seni publik pun menemukan katup idealnya dengan banyaknya kanal ekspresi. Melalui ekspresi festival, pameran, atau apa pun saja.
Seni dan budaya yang terekspresikan pun menjadi penanda zaman yang baik. Pastilah ekspresi seni publik di Yogyakarta terfasilitasi dengan ideal salah satunya karena ada dana keistimewaan. Lebih dari itu sumber daya manusia dan seni yang ada memang sudah kondusif.
Catatan Rekomendasi
Dalam perjalanan dinamika budaya Yogya ke depan tentu saja butuh perhatian pada banyak hal. Khususnya untuk memajukan budaya Yogya.
Pertama, penguatan kemandirian komunitas sehingga bisa melahirkan karya-karya yang selalu optimal.
Kedua, kestabilan pendanaan sehingga acara tetap bisa terselenggara secara rutin.
Ketiga, kemudahan kerja sama antara pemerintah, pihak swasta, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Jika sejumlah catatan rekomendasi ini bisa berjalan dengan baik niscaya cita-cita terciptanya ekosistem seni yang saling menopang bisa terwujud. Seni partisipatoris pun menjadi seni yang memang digerakkan oleh kebutuhan berekspresi bukan karena tekanan apa pun.
Momentum tampil hanyalah salah satu faktor pendorong agar terbangun ruang aktualisasi. Momentum tampil ini pun bisa di mana saja.
Dramawan Putu Wijaya menyatakan seni yang bagus bertolak dari yang ada. Artinya, tidak ada alasan bagi seni partisipatoris untuk mewujudkan dirinya. Bahkan di ruang terbuka, di tepi jalan, misalnya, tanpa lampu dan kostum yang ideal, seni bisa bicara dengan baik.
Tinggal kemauan saja bagaimana gagasan estetik yang diusung memang bisa terakomodasi dengan representatif. ***
