Sampean Pergi Terlalu Cepat, Kang Nasirun

5 Min Read
Perupa Nasirun. Foto: Dok. Ohana Gallery

SAMBIL berpamitan pulang kepada teman-teman, dalam pembukaan pameran lukisan Bung Karno oleh 47 perupa di Yogya hampir dua bulan lalu, Nasirun mengempaskan tubuhnya ke ruang kosong di sofa yang saya duduki.

“Sampean kok belum pernah ke rumah saya…,” katanya. “Nanti mampir, ya. Saya mau kasih hadiah lukisan.”

Saya pura-pura tidak kaget dengan tawaran simpatiknya. Kami tidak pernah sangat dekat; mengobrol pun tidak pernah secara sengaja dan serius. Tawarannya terlalu ramah untuk ukuran kedekatan hubungan kami, yang sudah bertahun-tahun tapi tak pernah membicarakan kualitas karya rupa dan hal-hal serius lainnya.

Obrolan mendadak dan sambil lalu itu kemudian menyentuh soal resepsi pemirsa terhadap suatu karya. Kebanyakan orang, saya bilang, merasa awam terhadap suatu karya, mengaku “tidak paham karya seni” dan dengan demikian tidak berani berkomentar apa-apa karena “takut salah”.

Padahal dalam seni tidak ada yang salah atau benar. Setiap orang bebas menafsirkan suatu karya sesuai selera masing-masing — dan semuanya sah belaka sebagai interpretasi.

“Bahkan si pembuat karya pun tidak bisa atau tidak boleh merasa yang paling berhak memaknai karyanya sendiri,” saya bilang. “Sebab, begitu sebuah karya selesai dikerjakan dan dilempar ke publik, maka karya itu menjadi milik publik dan mereka semua berkedudukan setara dalam memberi makna terhadapnya. Si pembuat karya pun hanya menjadi salah satu penafsir saja di antara sekian banyak orang yang mengajukan tafsir masing-masing.”

Saya mengajukan teori itu sebagai analogi dari teori kritik sastra Roland Barthes yang masyhur dengan frasa “pengarang sudah mati.”

Nasirun antusias mendengarnya, lalu menyambar: “Wah, saya pinjam ya ucapan sampean ini! Besok lusa saya diwawancarai oleh sebuah podcast, dan saya mau kutip omongan sampean ini! Boleh, ya?”

Tentu saja boleh, Kang Nasirun. Anda tidak menyebut sumbernya pun tidak mengapa. Itu cuma pendapat saya — pengembangan dari teori Barthes. Orang lain boleh saja punya opini berbeda — dan pendapat saya tidak lebih benar dibanding opini mereka.

Nasirun, dengan rambut ikal di ubun-ubunnya yang kian menipis tapi bagian belakangnya menjuntai sampai ke punggung, segera pamit, menanggapi ajakan istrinya yang sudah tuntas berpamitan dengan para hadirin lain.

Saya memandangi punggungnya — sambil membayangkan “personal statement”-nya sejak lama, yang baru berlalu dari pandangan saya: syal motif etnik yang siang-malam membelit lehernya, sarung yang selalu tampak kedodoran, jaket tipis yang melapisi kaos oblongnya, dengan batang rokok menyala yang seakan 24 jam sehari tercekik di jarinya.

Tentu saja juga suara kekehnya yang ditingkahi desis yang seolah tanpa putus dari bawah kumis tebalnya. Dan ia tak pernah berupaya memanipulasi identitasnya: seorang santri NU dari Cilacap — yang sukses menjelajah ke banyak galeri dan museum terkenal di luar negeri, termasuk dengan pameran-pameran tunggalnya.

Ekspresionistik Mitologis Jawa-Bali

Karya-karyanya, dengan corak ekspresionistik dan warna-warna suram yang memadati seluruh bidang kanvas dengan figur-figur mitologis Jawa-Bali, mencapai harga ratusan juta, jika bukan miliaran rupiah.

Ia seakan mampu membaca pikiran lama saya: sangat ingin berkunjung ke rumah-studionya di Jalan Wates, Bantul yang, menurut laporan kawan-kawan yang pernah mampir ke sana, sangat luas, dengan kontur tanah hilly, sangat menarik dan artistik.

Maka ketika ia menawari saya untuk mampir ke rumah-studionya itu, apalagi dengan janji bonus berupa karyanya, saya sungguh gembira dan terkejut — meski saya hanya mengucapkan terima kasih dengan datar dan pura-pura bersikap biasa.

Setelah obrolan enteng di sofa di kafe LeGareca Jogja itu, saya tidak mendengar kabarnya lagi.

Sampai siang tadi, ketika seorang kawan memberitahu bahwa asam lambung Nasirun yang sudah akut menyelinap ke jantungnya dan memukulnya dengan keras.

Kepergian yang terlalu cepat untuk seorang perupa tekun yang tak pernah menunjukkan kesan sedikit pun bahwa ia seniman sukses berkelas internasional. Ia tetaplah santri Cilacap yang merasa Yogya adalah ekosistem yang paling cocok untuk merawat kesuburan daya kreatifnya yang terus mengalir sampai akhir hayat.

Share This Article
Avatar photo
Alumni UII, Penulis & Jurnalis Senior, Cendekiawan
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar