Genthong HSA dan Teater Remaja

8 Min Read
Front-page news story about a big festival ending, with a center stage photo of performers in white costumes.
Kliping berita di koran Bernas 31 Oktober 1993 tentang Festival Teater SLTA se-DIY binaan Genthong HSA. Foto: Satmoko Budi Santoso

Kalau Anda para pembaca setia mabur.co langsung disergap dengan cover website berupa foto kliping berita di koran Bernas Yogyakarta berjudul Pesta Besar Telah Berakhir tertanggal Minggu Pon, 31 Oktober 1993, maka akan segera terpahami bahwa pada kurun waktu tersebut pernah ada pementasan Festival Teater SLTA se-DIY.

Acara tersebut berlangsung di SMKI Bugisan, Yogyakarta, diikuti 27 SLTA se-DIY. Acara seni bagi remaja yang berkelas prestisius tersebut merupakan proyek Pembinaan Generasi Muda (PGM) dan Pramuka, Dinas P dan K Provinsi DIY, bekerja sama dengan Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Yayasan Kelompok Kerja Bakti Budaya (YKKBB).

Nah, siapakah Ketua YKKBB kala itu? Siapa lagi kalau bukan Genthong HSA, yang belum lama ini berpulang, tepatnya pada 27 Juli 2026 lalu, pada usia 81 tahun, dan sudah dimakamkan di kompleks makam seniman, Imogiri, Yogyakarta.

A group of elderly men sit at a wooden table on a porch, drinking and chatting; man in foreground wears a plaid cap and beige vest, stirring a glass with a straw.
Seniman Genthong HSA. Foto: Herry Mardianto

Sosok seniman legendaris yang sudah membuat saya bergetar begitu mendengar namanya, apalagi membaca namanya di koran. Karya-karya Genthong HSA sudah saya kenal sejak remaja terutama yang bertebaran di berbagai koran.

Hingga kabar meninggalnya tiba belum lama ini, Genthong HSA memang dikenal sebagai seorang maestro, seniman teater, sastrawan, dan budayawan legendaris Yogyakarta. Lahir sebagai seniman serba bisa, ia dikenal luas sebagai pelukis, penyair, cerpenis, novelis, sekaligus dramawan yang aktif sejak era 1970-an hingga 1990-an.

Genthong HSA juga dikenal sebagai pendiri Sanggar Anom di Yogyakarta, sebuah wadah pembinaan seni yang berhasil menggembleng dan melahirkan banyak seniman teater generasi muda.

Sejauh berkiprah menyumbangkan karya kreatif di ranah kebudayaan Indonesia, Genthong HSA banyak menyutradarai pementasan teater penting, termasuk naskah legendaris Perang Sunyi, Sunyi Perang (1980), serta adaptasi karya dunia seperti Waiting for Godot karya Samuel Beckett.

Prestasi atas karya naskah dramanya yang bisa dicatat berjudul Ciut Pas Sesak Pas juara III dalam lomba penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Karya lainnya, Sang Naga dan Harimau, juara pertama lomba naskah teater di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

GEHASA adalah Genthong HSA

Kalau dulu semasa remaja saya suka baca koran Kedaulatan Rakyat, baru paham bahwa inisial nama GEHASA yang kerap menulis ulasan film adalah juga Genthong HSA tersebut.

Zaman saya remaja bisa nonton film sebuah prestise pergaulan tersendiri. Tentu bioskop Mandala di dekat Pasar Wates Kulon Progo menjadi ajang pelampiasan mencocokkan apa yang sudah ditulis Genthong HSA di koran dengan film yang sesungguhnya! Meskipun kadang menunggu lama. Genthong HSA menonton film di bioskop Yogya. Saya menunggu agak lama nonton di Wates. Hahaha…

Beruntung, nun dari SMA 2 Wates Kulon Progo pula, saya dapat ikut berkiprah menimba ilmu dari seniman Genthong HSA dan banyak seniman tenar Yogya lainnya dengan mengikuti program lokakarya teater yang merupakan rangkaian dari program pementasan parade teater SLTA se-DIY 1993 yang pernah dibina YKKBB pimpinan Genthong HSA.

Komitmen Pengembangan Teater Remaja

Kini, setelah sekian tahun berjarak dengan peristiwa budaya parade teater SLTA se-DIY itu, terumuskan satu refleksi betapa program semacam itu harus selalu hidup.

Beruntung kini di DIY juga ada program dana keistimewaan yang memungkinkan program pemberdayaan teater remaja semacam itu terus bisa terselenggara.

Oleh sebab itu, sekolah yang ada di DIY, boleh dikata tidak ada kendala lagi dalam komitmen pengembangan teater remaja. Apalagi di era sekarang, infrastruktur gedung pertunjukan teater yang memadai bisa diakses, kompetisi produksi teater juga digelar sejumlah instansi pemerintah dan bisa diikuti, maka sudah sewajarnya jika pertumbuhan teater remaja lebih progresif lagi.

Di media sosial, tutorial tentang keaktoran dan produksi teater juga melimpah ruah. Andai tanpa sosok pemimpin atau tokoh yang memandu produksi teater, maka produksi teater secara mandiri bisa dimungkinkan.

Menciptakan peristiwa teater juga bisa di mana saja dan bisa disiarkan dari mana saja. Semua tinggal kemauan untuk memperdalam saja. Fasilitas sudah lebih terjangkau. Tinggal memperkuat konten produksi saja. Meskipun begitu, jejaring antar-komunitas teater tetap penting dibangun sebagai bagian dari menumbuhkan basis penonton fanatik.

Newspaper clipping about school theater with the headline 'Teater Sekolah: Harapan Mungkin Patah' and a photo of two men dancing on a stage to the right.
Kliping berita koran Minggu Pagi, Minggu Keempat November 1993, liputan tentang Festival Teater SLTA Se-DIY. Foto: Satmoko Budi Santoso

Sekadar refleksi juga, ketika dulu saya ikut sebagai peserta lokakarya teater sebelum Festival Teater SLTA se-DIY 1993 digelar, berlangsung selama beberapa hari di Cangkringan, Yogyakarta. Pengalaman berharga bisa didapat dari program tersebut. Bisa bertemu dengan banyak tokoh teater Yogyakarta. Selain Genthong HSA, ada Whani Darmawan, Untung Basuki, Niesby Sabakingkin, dan lain-lain.

Naskah Alternatif Teater Remaja

Naskah-naskah yang dipilih sebagai alternatif pementasan teater dalam lokakarya pembinaan teater dan berujung Festival Teater SLTA se-DIY 1993 itu pun menarik.

Misalnya Malam Jahanam karya Motinggo Boesje, Petang di Taman karya Iwan Simatupang, Setan dalam Bahaya karya Taufiq Al Hakim, Informan karya Bertold Brecht, Beranda Berdinding Kaca karya August Strindberg, dan Tanda Silang karya Eugene O Neil.

Saya bersama kelompok teater dari SMA 2 Wates Kulon Progo, waktu itu sengaja memilih lakon Setan dalam Bahaya karya Taufiq Al Hakim. Ceritanya tentang ketakutan setan yang akan kehilangan pekerjaan. Juga tentang ironi kerusakan dunia akibat ulah manusia. Tak ketinggalan tentang perdebatan batin antara seorang filsuf dan setan. Pemainnya tiga orang, filsuf, istri filsuf, dan setan.

Demikian diceritakan dalam lakon Setan dalam Bahaya karya Taufiq Al Hakim tersebut. Syahdan, suatu hari, setan pun mengeluh, lalu mendatangi seorang filsuf tua untuk mengadu bahwa eksistensinya terancam.

Setan pun mengadu bahwa kejahatan manusia juga sudah melampaui setan. Lantas setan merasa dirinya kini kalah jahat dan kalah hebat dibanding manusia modern yang menciptakan perang, kehancuran, dan bom pemusnah massal.

Akibat kegelisahan setan itu maka sang filsuf pun terkecoh. Sang filsuf yang awalnya merasa bijak justru terjebak oleh rasa bangga diri saat setan memuji kepintarannya, hingga terjadi perdebatan sengit yang berujung pada konflik sang filsuf dengan istrinya sendiri.

Kisah penuh perenungan tersebut ternyata juga tetap relevan sampai sekarang. Bahkan sepertinya semakin terbukti saja. Karena tabiat manusia sudah semakin kalap melebihi perilaku setan. Korupsi merajalela, kejahatan lingkungan makin ganas juga, menunjukkan manusia semakin biadab antar-satu dengan lainnya.

Alhamdulilah sebagaimana dokumentasi autentik kliping koran yang ada, dari 27 peserta Festival Teater SLTA se-DIY pada 1993 tersebut, saya terpilih sebagai Pemeran Pria Terbaik, memerankan tokoh filsuf. Terima kasih Mas Genthong HSA dan para seniman yang telah membimbing memahami ilmu teater.

Lapang jalan kuburmu, Mas Genthong HSA. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar