Jadi Gaya Hidup, Coffee Shop Berikan Ruang Aman Ketika Rumah Terasa Bising

6 Min Read
Coffee shop menawarkan suasana yang membuat pengunjung merasa nyaman. (Ilustrasi Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Beberapa tahun lalu, menikmati kopi identik dengan warung sederhana dan obrolan santai para orang tua.

Namun kini pemandangan telah bergeser. Coffee shop kini banyak bermunculan di berbagai kota dan menarik minat anak muda.

Setiap akhir pekan, media sosial dipenuhi unggahan gelas latte art, ruangan estetik, hingga caption “me time” atau “healing tipis-tipis“. Nongkrong di coffee shop perlahan berubah dari sekadar aktivitas menjadi bagian dari gaya hidup.

Fenomena ini muncul bukan tanpa alasan. Coffee shop menawarkan suasana yang membuat pengunjung merasa nyaman dan “diterima”.

Musik lembut, aroma kopi, pencahayaan hangat, serta interior kayu menciptakan atmosfer yang mendukung berbagai aktivitas.

Ada yang datang untuk mengerjakan tugas, rapat kecil, quality time dengan teman, hingga mencari ketenangan setelah hari-hari yang melelahkan.

Ruang Aman Ketika Rumah Bising

Coffee shop seolah memberikan ruang aman ketika rumah terasa bising dan ruang publik terasa terlalu ramai.

Menariknya, bagi sebagian orang, kopi bukan lagi alasan utama datang. Fokus sebenarnya ada pada suasana dan citra diri. Banyak pengunjung memilih minuman non-kopi, tetapi tetap mengabadikan momen sebelum menyeruput.

Suasana dan dokumentasi menjadi bagian dari ritual. Kehadiran di coffee shop sering kali memberi kesan produktif, estetik, dan “berkualitas”, terutama di mata media sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa nongkrong di coffee shop tidak hanya memenuhi kebutuhan rekreasi, tetapi juga kebutuhan akan identitas sosial.

Selain faktor media sosial, perubahan pola kerja turut memengaruhi tren ini. Munculnya pekerjaan jarak jauh, freelancer, membuat coffee shop berperan sebagai “kantor kedua” bagi sebagian orang.

Internet yang cepat, colokan listrik di setiap sudut, serta fasilitas meeting room mini memperjelas bahwa coffee shop kini bukan hanya tempat bersantai, melainkan ruang produktivitas.

Bagi pelajar dan mahasiswa, belajar di coffee shop dianggap membantu fokus karena suasana yang tenang, berbeda dari rumah yang penuh distraksi.

Banyak mahasiswa mengaku lebih mudah berkonsentrasi ketika dikelilingi orang lain yang juga sibuk, dibandingkan belajar di rumah yang kadang ramai dan penuh gangguan.

Coffee shop menjadi tempat bertemu dan berbagi gagasan. Banyak tugas kuliah rampung di meja kecil sudut ruangan, peluang kerja tercipta dari obrolan santai, bahkan ada hubungan pertemanan atau percintaan yang berawal dari kursi bersebelahan.

Tidak sedikit orang yang menjadikan coffee shop sebagai ruang untuk refleksi diri dan sekadar duduk sendiri sambil menata ulang pikiran.

Namun, ada hal yang perlu dicermati. Budaya nongkrong terkadang berubah menjadi kewajiban sosial. Ada kalanya seseorang merasa “kurang gaul” jika akhir pekan hanya di rumah.

Sebagian lainnya rela mengeluarkan uang lebih demi mengikuti tren agar tidak tertinggal. Jika tidak hati-hati, gaya hidup ini dapat mendorong gaya konsumtif dan kebutuhan validasi sosial.

Coffee shop seharusnya menjadi tempat menikmati waktu, bukan arena kompetisi estetika atau produktivitas palsu.

Pada akhirnya, coffee shop hanyalah ruang yang dipilih untuk beristirahat sejenak, bekerja, atau berbincang dengan orang-orang terdekat.

Kebermaknaan tempat itu tidak ditentukan oleh dekorasi atau pencahayaan, tetapi oleh bagaimana orang menghabiskan waktu dan dengan siapa membagikan.

Entah orang tersebut hanya tipe penikmat latte, penggemar matcha, atau hanya numpang Wi-Fi. Satu hal tetap sama, yaitu nongkrong adalah pilihan, bukan kewajiban. Yang terpenting, bisa menikmati waktu dengan cara yang paling membuat individu merasa menjadi diri sendiri.

Kebiasaan Nongkrong Bergeser

Kebiasaan nongkrong masyarakat di Yogyakarta  saat ini mengalami pergeseran. Dulu generasi boomers atau para orang tua menjadikan warung kopi konvensional sebagai andalan tempat nongkrong. Kebiasaan itu mulai hilang dan bergeser ke coffee shop modern yang digandrungi milenial dan gen Z.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Odam Asdi Artosa, mengatakan, para anak muda terutama mahasiswa memiliki kecenderungan memilih coffee shop sebagai ruang baru mereka.

Coffee shop saat ini sering dijadikan sebagai ruang sosial. Mereka tak hanya nongkrong, tetapi mengerjakan tugas, belajar, diskusi, dan kegiatan sosial produktif lainnya.

Bahkan aktivisme-aktivisme yang terjadi dalam level mahasiswa banyak terjadi dari tongkrongan di coffee shop.

“Mereka membicarakan hal-hal yang sederhana sampai yang sifatnya serius,” ucapnya, Selasa (1/9/2026).

Odam menjelaskan, fenomena tersebut tidak hanya pergeseran ruang tapi juga ada komodifikasi ruang. Ruang tersebut hanya untuk ngopi, namun sekarang banyak coffee shop menyediakan sarana pendukung untuk bekerja seperti wifi, colokan, dan sebagainya.

Setelah rumah, setelah kampus, mereka mempunyai ruang alternatif, yaitu ruang ketiga, untuk melakukan aktivisme mereka.  

“Atas dasar itu, banyak anak muda yang meninggalkan angkringan dan memilih coffee shop karena lebih banyak fasilitas pendukung untuk bekerja maupun belajar,” katanya.

Odam menjelaskan, banyak orang yang menilai nongkrong di coffee shop lebih valuable daripada duduk di angkringan.

Padahal secara utilitas sama saja, sama-sama cari minuman dan kudapan, tetapi ada value yang berbeda. Perbedaannya ada pada komodifikasi ruang.

Menjual Kreasi Desain Interior

“Di sana menjual desain interior, sedangkan di angkringan ya cuma itu. Sehingga tidak ada yang bisa dipamerkan di dalam media sosial, TikTok misalnya atau Instagram, oleh anak-anak Gen Z,” ucapnya.

Odam menuturkan, pergeseran itu, ditandai dengan media sosial yang mulai booming yang tidak dirasakan oleh generasi terdahulu.

Misalnya, Instagram yang mulai booming tahun 2010-an hingga tahun 2020-an, hingga saat ini TikTok juga populer sekali di kalangan mahasiswa.

“Momentum masifnya penggunaan media sosial ini menjadi salah satu hal yang memengaruhi bagaimana kemudian para anak muda, Gen Z, memiliki preferensi untuk menggunakan coffee shop itu tadi,” jelasnya.

Menurut Odam, konsep coffee shop saat ini juga diadaptasi oleh sejumlah kantor Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Kantor yang tadinya berupa bilik-bilik dengan kursi putar, kini mulai diubah seperti coffee shop dengan bean bag lesehan,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar