Mabur.co – Angkringan adalah tempat paling nyaman buat siapa pun di Yogyakarta. Mau mahasiswa, tukang parkir, seniman, sampai dosen, semua bisa duduk melingkar, makan nasi kucing, dan ngobrol santai di bawah temaram lampu petromaks. Tapi sekarang, pemandangan itu mulai jarang kelihatan.
Anak muda Yogyakarta sekarang lebih banyak nongkrong di kafé. Tempatnya ber-AC, ada Wi-Fi, kursinya empuk, dan pasti Instagramable.
Angkringan bukan cuma tempat makan murah. Bisa pula menjadi ruang diskusi paling jujur dan terbuka. Banyak obrolan penting, dari politik, filsafat, sampai urusan pribadi, lahir dari bangku kayu dan gelas teh manis panas. Tapi sekarang, ruang-ruang itu tergeser oleh kafe yang lebih nyaman secara fisik, tapi kadang terlalu mahal dan eksklusif buat semua kalangan.
Tidak sedikit wisatawan yang dulu datang ke Yogyakarta buat “mencicipi suasana angkringan” sekarang lebih sering upload foto kopi latte di kafe tematik.
Kalau tren ini terus berlanjut, angkringan bisa tinggal romantisme masa lalu. Yang tersisa cuma nama dan cerita, tanpa ada ruang nyata buat menjadi tempat berkumpul masyarakat lagi. Jika itu terjadi, Yogyakarta yang merupakan kota budaya dan kota pelajar, kehilangan salah satu ruang sosial terbaiknya.
Mengabadikan Angkringan
Sudah waktunya jika Kota Yogya mengabadikan angkringan. Tapi bukan cuma dilestarikan sebagai “barang kuno” yang dipajang di brosur wisata, lalu dibiarkan begitu aja. Angkringan tetap butuh diberi napas baru, bukan diubah jadi kafe kecil-kecilan. Tapi disegarkan dengan cara yang tetap menjaga roh sebagai ruang berkumpul rakyat.
Bisa dibayangkan jika angkringan punya fasilitas dasar yang lebih layak. Ada penerangan yang cukup, tempat duduk yang nyaman tapi tetap sederhana, akses air bersih, bahkan mungkin colokan listrik atau Wi-Fi gratis ala kampung digital. Bukan untuk membuat makin jadi “kekinian” tapi biar pengunjung, terutama generasi muda, merasa bahwa nongkrong di angkringan bukan hal yang ketinggalan zaman.
Di tengah banyaknya ruang publik yang makin komersil dan eksklusif, angkringan justru bisa jadi alternatif yang lebih manusiawi. Tempat di mana orang bisa ngobrol tanpa harus beli kopi seharga makan siang. Tempat di mana ide-ide besar bisa lahir dari obrolan santai sambil makan nasi kucing dan tempe mendoan.
Budaya Diskusi Terbuka
Dari angkringan, siapa tahu muncul lagi budaya diskusi terbuka yang tidak hanya hidup di ruang kelas atau seminar formal, tapi juga di trotoar.
Di bawah langit malam Kota Yogyakarta, ditemani suara ceret mendidih. Karena pada akhirnya, yang membuat kota ini istimewa bukan sekadar gedung megah atau kafe estetik, tapi ruang-ruang kecil yang membentuk keakraban, yang membuat orang merasa pulang.
Karakter Budaya Yogya, Tarik Wisatawan
Poniman, salah satu penjual angkringan di Kotagede, Yogya, mengatakan, angkringan menjadi karakter budaya Kota Yogyakarta yang menarik wisatawan luar daerah.
Sekaligus menjadi tempat nongkrong yang terjangkau bagi kaum menengah ke bawah. Jika dibandingkan dengan kafe, angkringan justru lebih berhadapan dengan warung makan, warmindo, dan tempat makan kaki lima lainnya. Ini menunjukkan bahwa angkringan memiliki segmen pasar yang berbeda dengan kafe.
“Angkringan bukan hanya sekadar tempat nongkrong, tapi juga bagian integral dari kehidupan masyarakat Yogyakarta, melekat erat dengan tradisi dan budaya lokal,” ucapnya, Selasa (1/9/2026).
Menurut Poniman, angkringan akan tetap eksis asalkan mampu menjaga keunikannya dan beradaptasi dengan zaman.
“Angkringan bukan sekadar tempat nongkrong, tapi juga sebuah wajah dari budaya Yogyakarta,” tuturnya.
