Mabur.co – Media sosial berpengaruh bagi kehidupan masyarakat terutama bagi generasi muda. Isu-isu yang beredar biasanya akan ramai diperbincangkan di media sosial, baik di facebook, instagram dan juga twitter.
Media sosial bagian dari sarana untuk memberikan informasi atau publikasi baik pribadi maupun umum. Di dalam kegiatannya, media sosial tidak terlepas dari kehadiran buzzer atau yang diserap dalam bahasa Indonesia disebut “pendengung”.
Sensasi Palsu
Fenomena buzzer mengacu pada praktik individu atau kelompok yang dengan sengaja membuat buzz atau sensasi palsu mengenai produk, topik atau isu tertentu dengan tujuan memanipulasi opini publik dan memengaruhi diskusi online.
Buzzer seringkali merupakan aktor yang dibayar atau dikoordinasikan yang bekerja untuk memperkuat pesan tertentu, mempromosikan ideologi tertentu atau menyebarkan informasi yang salah untuk melayani kepentingan mereka sendiri atau kepentingan sponsor mereka.
Dosen Ilmu Komunikasi UGM dan Komunikasi Publik Digital, Pratiwi Utami, PhD, menuturkan, intinya pengaruh buzzer ada pada kemampuannya memecah kekuatan di network media sosial yang berdampak pada konsolidasi massa di medsos bisa menjadi tidak solid.
Tapi kalau melihat kondisi riil di lapangan, faktor yang membuat demo sering buyar itu bukan hanya karena buzzer.
Di lapangan, faktornya ada beberapa, di antaranya dinamika di lapangan, persoalan koordinasi dan konsolidasi, serta kemungkinan adanya strategi dari pihak-pihak yang kontra dengan aksi demo atau protes/ekspresi publik.
Artinya, persoalannya cukup kompleks dan tidak bisa semata-mata disimpulkan sebagai akibat kuatnya buzzer.
“Saya menilai makin ke sini netizen makin pintar menghadapi buzzer. Di medsos, sejumlah advokasi menghadapi buzzer sudah sering muncul. Artinya, buzzer tidak lagi semudah dulu memecah kekuatan aksi di medsos,” ucapnya, Minggu (6/9/2026).

Menurut Pratiwi, buzzer bukan berarti tidak berperan, narasi online soal demo itu mengganggu dan merusak, misalnya. Itu sangat mungkin memengaruhi pandangan orang terhadap demo. Kemudian ketika sudah di lapangan, masyarakat tidak simpati pada pendemo.
Sentimen-sentimen riil ini yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang kontra aksi untuk kemudian membuat demo menjadi kesulitan mencapai legitimasi di masyarakat.
“Ini artinya kita nggak bisa memandang hanya dari satu sisi soal buzzer saja. Dalam aktivisme dan kontra aktivisme, faktor online dan offline sama-sama memiliki peran,” katanya.
