Mabur.co – Putra PB XIII dari istrin kedua KRAy Winari, yakni KGPH Mangkubumi atau Hangabehi secara resmi dilantik sebagai raja Keraton Surakarta yang baru.
Hal itu setelah KGPH Hangabehi menjalani prosesi kenaikan tahta atau Jumenengan dengan gelar Paku Buwono XIV.
Prosesi sakral tersebut digelar melalui serangkaian upacara adat di Keraton Kasunanan Surakarta, Sabtu (5/9/2026).
Dilansir Detik, prosesi Jumenengan diawali dengan miyos, atau keluarnya Sinuhun dari kedhaton menuju Pagelaran. PB XIV kemudian melanjutkan perjalanan ke Mangguntur Tangkil di Sitihinggil.
Di tempat tersebut, tepat di depan Meriam Nyai Setomi yang merupakan pusaka peninggalan Sultan Agung, PB XIV Hangabehi membacakan ikrar dan menyatakan kesanggupannya menjalankan amanah leluhur serta menjaga tata adat dan tradisi Keraton Surakarta.
Prosesi pembacaan ikrar ini diikuti kerabat, pengiring dan perangkat upacara yang telah ditentukan dalam tata adat keraton.
Diwarnai prosesi dan ritual sakral
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan ikrar di Mangguntur Tangkil menjadi bagian penting dari jumenengan.
“Di Mangguntur Tangkil, Sinuhun menyampaikan kesanggupannya untuk menjalankan apa yang menjadi amanah dan perintah para leluhur melalui pagelaran atau prosesi adat yang telah diwariskan,” ujarnya.
Menurut Gusti Moeng, hal itu membuktikan takhta dalam tradisi Keraton Surakarta bukan hanya persoalan kedudukan. Lebih dari itu Raja juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga adat serta warisan leluhur.
Rangkaian jumenengan ini juga turut diwarnai keluarnya sejumlah pusaka sakral salah satunya perangkat gamelan langka dari zaman Sunan Paku Buwono (PB) IX tahun 1872 yakni gamelan bernama Kyai Udan Arum dan Udan Asih.
Tarian sakral yakni Tari Bedhaya Ketawang juga turut ditampilkan dalam acara jumenengan raja Keraton Surakarta ini.
Sejumlah tamu undangan juga nampak hadir dalam prosesi penobatan raja ini. Yakni sejumlah raja dan utusan kerajaan dari berbagai daerah di Nusantara. Diantaranya dari Rote, Jailolo, Buni Lampung, Mempawah, Sumedang, Sumenep hingga Cirebon dan Kasepuhan.
Berlangsung di Tengah Polemik Suksesi
Jumenengan PB XIV Hangabehi sendiri berlangsung di tengah polemik suksesi Keraton Surakarta yang muncul setelah wafatnya PB XIII pada November 2025 lalu.
Pasalnya selama ini terdapat dua pihak yang sama-sama mengklaim gelar Paku Buwono XIV. KGPH Mangkubumi atau Hangabehi ditetapkan sebagai PB XIV oleh pertemuan kerabat keraton.
Sementara KGPAA Hamangkunegoro atau Purbaya yang merupakan adik beda ibu dari KGPH Mangkubumi sebelumnya juga mengukuhkan diri sebagai PB XIV.
Dalam prosesi jumenengan PB XIV Hangabehi ini sendiri, pihak atau kubu KGPAA Hamangkunegoro atau Purbaya nampak tidak hadir.
Hingga saat ini pihak KGPAA Purbaya juga belum memberikan keterangan atau tanggapan apapun terkait pelantikan PB XIV Hangabehi sebagian raja baru Keraton Surakarta ini.
