Di Jogja, hidup seperti berjalan lamban. Hidup tak berburu. Orang masih punya waktu tidur siang, nongkrong, ngelilir di malam hari sambil ongkang-ongkang, ngopi, ngeteh, makan nasi kucing yang sesungguhnya belum tentu cocok dan mengenyangkan perut orang-orang tertentu.
Namun ruang nongkrong di bangku-bangku angkringan, atau ngemper di pinggir-pinggir jalan, apalagi di sekitar perdesaan seputar Jogja, justru menjadikan momentum makan dan minum ala ngangkring inilah yang sulit terbeli.
Makan gorengan dan berbagai camilan lainnya toh kadang salah ngitung jumlah yang dimakan dan dibayar. Ini bisa saja secara iseng ada yang sengaja atau tak sengaja. Tapi di Jogja semua itu lumrah, biasa saja, kata Tono anak muda yang suka nongkrong di angkringan dekat rumahnya di Jokteng Wetan.
Warung Legendaris
Ada pula warung-warung legendaris ala Lek Min di Keloran Bantul, atau warung teh nasgitel angkringan Nganggo Suwi di perempatan Giwangan arah ke Kotagede, ada angkringan Kopi Jos Tugu, dan banyak lagi lainnya dengan keunikan masing-masing.
Di Sedayu Jogja bagian barat, terdapat salah satu kawasan asri dengan bentangan persawahan yang luas, ada jalan membelah persawahan secara simetris.
Di kejauhan nampak hutan kecil di antara persawahan, ada gemericik air pagi hari mengaliri persawahan, sesekali burung pipit dan burung-burung kecil lainnya bermain di pohon-pohon jati, sengon dan trembesi yang berbaris sepanjang jalan.
Cericit burung dan desau angin menambah ritmis pagi hari, sesekali menimpali langkah para pejalan kaki, atau sedang joging, lari pagi di sepanjang jalan yang membela persawahan.
Di perempatan jalan yang menghubungkan semua jalan itu, ada lapak nasi megono ngisor ringin (di bawah pohon beringin), begitu para pejalan kaki dan pengunjung menyebutnya.

Selain nasi megono, ia juga menjual jajanan pasar, tempe, tahu goreng dan banyak lagi cemilan lainnya. Ada pula dawet gula Jawa asli perdesaan, penawar haus usai joging pagi di sekitar persawahan yang hijau nan luas.
Sesekali deru kereta di kejauhan membelah persawahan, memecah kesunyian pagi, menderu menuju Bandara YIA Kulon Progo.
Killing Time
Puluhan pengunjung menjadikan ruang hijau terbuka ini setiap pagi untuk berolah raga, atau sekadar berjalan pagi, killing time dengan keluarga di akhir pekan.
Mobil-mobil dan motor dengan berbagai plat yang berbeda, termasuk yang di luar Jogja, terparkir sepanjang jalan.
Orang-orang yang masih berpeluh keringat ngemper di pinggir jalan, di atas gorong-gorong, di bawah-bawah pohon, sambil menghirup udara pagi yang segar, memandangi langit biru putih kekuningan di kejauhan, sawah yang mulai menguning, menambah syahdu suasana pagi.
Namun catat, jangan sampai telat. Datang setelah jam 7 sampai jam 8 pagi, biasanya lapak Nasi Megono sudah tutup, ludes diserbu pengunjung. Begitu kesaksian Prayitno, seorang pengunjung, pengusaha asal Jawa Timur, tetapi sudah lama tinggal di Jogja.
Di sini waktu seperti berhenti berdetak, matahari seperti lamban memanjati bumi, begitulah desa-desa di Jogja-Sedayu mengukir hari-hari. ***
