Sleman – Ratusan warga Padukuhan Kranggan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, antusias mengikuti kegiatan merti dusun yang digelar di desa mereka.
Tradisi yang rutin digelar setiap tahun ini menjadi bentuk rasa syukur warga atas hasil panen yang melimpah sekaligus wujud pelestarian budaya warisan leluhur.
Pawai Budaya
Mengusung tema “Gumregah Rukun Nyawiji Mbangun Kranggan”, kegiatan dengan berbagai acara. Salah satunya kirab atau pawai budaya yang menampilkan arak-arakan gunungan dan kesenian warga.
Diikuti warga dari enam RT dan tiga RW, mereka berjalan mengelilingi wilayah padukuhan dengan jarak sekitar 2,6 kilometer. Mengenakan berbagai macam atribut mereka juga mengarak 3 buah gunungan berisi hasil bumi yang dibuat masing-masing RW.

Koordinator pelaksana Merti Dusun Kranggan, Antonius Irianto, mengatakan rangkaian kegiatan ini sebenarnya telah dimulai sejak bulan Agustus lalu. Diisi dengan berbagai lomba dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI.
“Intinya kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen tahun ini. Diwujudkan dengan pembuatan gunungan berisi hasil bumi seperti sayur-sayuran dan buah-bahan,” katanya, Senin (7/9/2026).
Kesenian Tradisional
Selian membawa gunungan, dalam kirab ini warga juga tampak menampilkan kesenian masing-masing. Mulai dari kesenian tradisional seperti jatilan, buto gedruk, hingga kesenian modern.
Antonius mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi semua warga desa, tetapi juga menjadi upaya mempertahankan budaya dan tradisi leluhur agar tetap dikenal oleh generasi muda.

Usai menggelar kirab, warga kemudian berkumpul di rumah tetua kampung untuk menggelar doa bersama serta kenduri. Mereka nampak membawa berbagai macam hidangan makanan untuk dinikmati secara bersama-sama.
Salah seorang warga, Himawan, mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Tak sedikit warga bahkan telah melakukan persiapan dengan bergotong royong sejak sekitar dua bulan sebelumnya.
Selain sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah, merti dusun ini juga diharapkan dapat semakin mempererat hubungan antarwarga.
“Kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya untuk mempererat rasa persaudaraan atau guyub antarwarga. Karena semua warga di tiap wilayah ikut ambil bagian dan terlibat dalam setiap acara,” ujarnya.

Usai acara kenduri serta pembacaan doa yang dipimpin ketua adat selesai, warga pun kemudian melakukan prosesi rayahan atau rebutan gunungan.
Lestarikan Tradisi Warisan Leluhur
Nampak sejumlah anak-anak saling berebut isi gunungan berupa uang, makanan, hingga buah-buahan, dan sayur-sayuran.
Setelah rangkaian kirab, kenduri, dan pentas seni selesai, kegiatan Merti Dusun Kranggan kemudian ditutup dan dipuncaki dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk.
Dua dalang lokal asal Dusun Kranggan, Ki Kukuh dan Ki Kartijo, membawakan lakon “Semar Boyong”. Lakon tersebut dimaknai sebagai gambaran untuk meninggalkan hal-hal yang kurang baik dan berusaha menjadi lebih baik ke depan.
Melalui merti dusun ini warga Kranggan membuktikan bahwa di tengah kehidupan modern saat ini mereka tetap melestarikan tradisi warisan leluhur.
Bukan hanya sebagai agenda kegiatan seremonial tahunan, tetapi terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
