Haornas 2026, Momentum Penting Selaraskan Kesehatan dan Prestasi

6 Min Read
Two female athletes in matching red‑white jackets celebrate on a podium, biting their gold medals and holding bouquets with sunflowers.
Greysia Polli (kiri) dan Apriani Rahayu (kanan) merayakan keberhasilan meraih medali emas di cabang bulutangkis sektor ganda putri, dalam ajang Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: AP Photo)

Mabur.co – Tanggal 9 September menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Tanggal ini bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional (Haornas), yang kali ini sudah memasuki edisi ke-43.

Peringatan ini tentunya tidak datang secara tiba-tiba. Melainkan hadir melalui berbagai peristiwa penting di waktu yang bersamaan.

Pada 9 September 1983, Presiden Soeharto meresmikan pemugaran stadion Sriwedari, yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah.

Jauh sebelum itu, tepatnya pada 9 September 1948, stadion Sriwedari juga sempat menjadi lokasi pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) edisi pertama.

Soeharto pun mengusulkan tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional, yang akhirnya disahkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) nomor 67 tahun 1985, tentang peringatan Hari Olahraga Nasional setiap tanggal 9 September.

Pada 9 September 1983 itu pula, Soeharto juga meluncurkan slogan yang cukup populer terkait olahraga, yakni “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat”.

Slogan itu bermakna bahwa olahraga adalah kegiatan yang baik untuk kesehatan, sehingga perlu dimasyarakatkan (disosialisasikan kepada masyarakat), agar bisa menjadi rutinitas dalam kehidupan sehari-hari.

Sekaligus dapat mempopulerkan setiap jenis atau cabang olahraga itu sendiri (mengolahragakan), yang dapat menjadi pilihan masyarakat saat mengisi waktu luang, dan seterusnya.

Bukan Hanya Kesehatan

Sementara di zaman yang serba canggih seperti sekarang, olahraga bukan lagi soal memperoleh atau mempertahankan kesehatan semata. Melainkan sudah menjadi semacam industri bisnis, gaya hidup, sekaligus ajang untuk memperoleh prestasi, yang nantinya menjadi pertaruhan martabat bagi suatu negara, kelompok, atau bahkan individu tertentu.

Untuk Haornas tahun 2026 ini sendiri, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengusung tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar”. Tema ini menjadi momentum krusial untuk menyelaraskan fungsi olahraga sebagai penunjang kesehatan tubuh (sport for all), serta penunjang prestasi atlet (sport for excellence), sekaligus penunjang kehormatan sebuah bangsa.

Dilansir dari laman resmi Kemenpora, Rabu (9/9/2026), berikut adalah beberapa pesan penting dari Kemenpora, untuk dapat menyelaraskan dua fungsi olahraga tersebut.

1. Fondasi Meraih Prestasi Selalu Berawal dari Masyarakat yang Bugar

Ketika seorang atlet mampu meraih prestasi atau juara dalam kompetisi tertentu, hal itu tentunya merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan dan membanggakan.

Namun untuk menuju ke sana, perjuangan yang harus ditempuh sangatlah tidak mudah, dan butuh perjalanan panjang sejak usia belia, agar bisa meraih prestasi demi prestasi di berbagai kesempatan.

Adapun salah satu fondasi yang cukup penting dalam meraih prestasi tersebut adalah kesehatan, yang juga salah satu fungsi dalam olahraga itu sendiri.

Dengan memiliki kesehatan yang prima (bebas dari cidera dan lain-lain), seorang atlet akan mampu menampilkan seluruh performa terbaiknya saat bertanding. Sehingga kemungkinan untuk meraih kemenangan atau juara juga pastinya akan lebih besar.

2. Olahraga sebagai Investasi Kesehatan Preventif

Kemenpora juga mendorong agar masyarakat dapat menjadikan olahraga sebagai investasi kesehatan secara preventif, alias mencegah sebelum terkena penyakit atau cidera tertentu.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mendorong budaya bergerak (dari pasif ke aktif, aktif ke bugar, dan bugar ke produktif). Hal ini merupakan upaya promotif yang dapat menekan risiko penyakit degeneratif, sekaligus menjaga kesehatan mental.

Karena masyarakat yang sehat dan bugar merupakan aset utama bangsa, dalam membentuk sumber daya manusia unggul di semua bidang.

3. Pemerataan Akses dan Fasilitas Inklusif

Salah satu aspek lainnya (untuk memperoleh kesehatan dan prestasi) yang juga perlu didorong adalah dengan memperbanyak ruang-ruang publik untuk melakukan aktivitas olahraga maupun latihan (bagi atlet profesional).

Masyarakat berhak mendapatkan tambahan fasilitas yang layak, untuk bisa berolahraga dan berlatih secara aman dan nyaman. Seperti misalnya penambahan jalur sepeda, optimalisasi program Car Free Day (CFD) yang diadakan setiap Minggu pagi, perbaikan sarana dan prasarana stadion, sirkuit, lapangan atletik, dan lain sebagainya.

Dengan begitu, tujuan kesehatan dan prestasi akan lebih mudah diraih, berkat bantuan dan kerjasama dari semua pihak.

4. Penguatan Ekosistem Industri Olahraga

Tak bisa dipungkiri, di masa kini olahraga telah berkembang sebagai gaya hidup dan fashion, yang berpotensi menghasilkan cuan yang cukup besar.

Potensi ini juga perlu ditangkap oleh sejumlah stakeholder maupun masyarakat umum, agar dapat menjadikan olahraga sebagai peluang ekonomi menjanjikan, serta terus mengembangkannya secara bertahap, dengan memanfaatkan berbagai platform digital yang sudah ada saat ini.

Belum lagi dengan potensi besar ketika menjadi tuan rumah sebuah event olahraga tertentu, yang sudah pasti akan mampu mendatangkan cuan lebih banyak lagi di kemudian hari. Atau yang dikemas dengan istilah sport tourism.

***

Momen Haornas 2026 tidak lagi hanya dipandang sebagai peringatan seremonial biasa, atau sesuatu yang sekadar numpang lewat.

Tapi bagaimana agar momentum ini juga dapat dijadikan peluang yang sangat baik bagi seluruh lapisan masyarakat, guna memperoleh kesehatan, keuntungan, sekaligus prestasi (bagi atlet) di waktu yang sama. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar