Mabur.co – Kegiatan Sambang Komunitas kini memasuki edisi yang ke-19, dilangsungkan di Halaman Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD DIY), kompleks Grhatama Pustaka, Jalan Janti, Banguntapan, Bantul, Senin (7/9/2026).
Sambang Komunitas #19 kali ini mengambil tema “Mereka-reka Mimpi Yogya sebagai Kota Sastra Dunia”, dengan pemateri R. Toto Sugiharto (redaktur, editor, sastrawan), dan Tedi Kusyairi (penulis, editor, pegiat sastra), dan dipandu oleh moderator Niken Puji Lestari.
Sudah Siap Mendunia lewat Sastra
Ketika melihat segala potensi dan infrastruktur sastra yang dimiliki Yogya sampai saat ini, Yogya dianggap sudah memiliki segala yang dibutuhkan, untuk bisa menembus dunia internasional lewat bidang sastra.
Apalagi jika melihat dari sisi historis maupun ekosistem yang ada, Yogya sudah dianggap mampu menjadi kiblat sastra nasional. Karena Yogya selalu menjadi rujukan bagi masyarakat dari berbagai daerah, sebagai tempat untuk belajar, menimba ilmu, menambah pengalaman, dan menambah relasi baru melalui bidang yang satu ini.
“Yogya kan punya banyak potensi ya (di bidang sastra). Sastrawannya banyak, terkenal, dan karya sastranya juga banyak, penerbitan banyak, sekolah-sekolah sastra, universitas atau kampus-kampus sastranya juga bagus-bagus dan luar biasa. Lalu komunitas dan sanggar sastranya juga banyak. Anak-anak muda yang suka sastra juga banyak. Nah semua ini kan menjadi sebuah potensi yang bisa kita upgrade lebih jauh,” papar salah satu pembicara, Tedi Kusyairi, saat ditemui di sela-sela acara, Senin (7/9/2026).
Menciptakan Kerja Sama Kolaboratif
Dengan segala potensi dan infrastruktur tersebut, Tedi meyakini bahwa langkah selanjutnya adalah bagaimana menyatukan seluruh elemen pelaku sastra dari berbagai generasi, untuk kemudian bisa menciptakan satu kerjasama yang bersifat kolaboratif, agar dapat membawa Yogya melangkah jauh ke dunia internasional, dan mendapat predikat sebagai “kota sastra dunia”.
“Tentu saja harapan kami agar sastra tidak hanya berhenti di komunitas, atau berhenti di kelompok masing-masing, tapi sastra juga bisa kita kenalkan ke publik yang lebih luas, baik skala nasional maupun internasional. Nah salah satu bentuk yang bisa dikembangkan adalah bagaimana mengkolaborasikan seluruh iklim ekosistem sastra yang ada di Yogya, untuk dapat membuat gerakan sastra bersama-sama (kolaboratif), yang isinya adalah memperkenalkan Yogya sebagai kota sastra dunia.
Selanjutnya bagaimana mengemas setiap karya sastra di Yogya itu agar lebih go international. Misalnya melalui alih media, termasuk diterjemahkan dalam bahasa asing, dijual (ke audiens internasional), membuat event-event (berskala) internasional, dan sebagainya, yang kemudian dapat mengangkat potensi sastra di Yogya,” tambah Tedi.
Selain itu, kegiatan Sambang Komunitas kali ini juga sekaligus menjadi momen peluncuran antologi puisi berjudul “Dari A Hingga I”, yang merupakan kumpulan puisi karya peserta Temu Karya Sastra (TKS) periode 2021-2025.
Di zaman yang serba canggih dan modern seperti saat ini, tentu saja salah satu cara yang paling mudah dilakukan untuk membuat sastra go international adalah terus mem-publish kegiatan sastra di media sosial.
Dengan begitu, dunia akan melihat bagaimana Yogyakarta terus tumbuh dan lestari melalui sastra, yang diharapkan akan mampu menarik minat dunia internasional, untuk mulai mempelajari sastra, mendalami sastra, membuat karya sastra, dan bahkan ikut menjadikan sastra sebagai bagian dari keseharian “para bule” di kehidupan mereka sehari-hari. (*)
