Fenomena Enam Gunung Api di Indonesia Alami Erupsi Bersamaan, Simak Pandangan Dr. Indranova Suhendro

4 Min Read
Volcano erupting on a small island, sending a tall ash plume into a blue sky over calm sea.
Gunung Anak Krakatau saat mengalami erupsi. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang relatif bersamaan. Fenomena yang melibatkan Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ile Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung tersebut tergolong tidak biasa karena kejadian serupa jarang ditemukan dalam beberapa dekade terakhir.

Meski demikian, kemunculan aktivitas erupsi pada enam gunung api tersebut tidak menunjukkan bahwa semuanya berada dalam satu sistem vulkanik yang sama.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc, menjelaskan, bahwa setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus aktivitasnya masing-masing.

Siklus Aktivitas yang Berbeda

Kesamaan waktu erupsi, dengan demikian, lebih tepat dilihat sebagai pertemuan siklus aktivitas yang berbeda.

“Ada gunung api yang memang memiliki frekuensi erupsi tinggi, seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara gunung lainnya memiliki periode istirahat yang lebih panjang sebelum kembali aktif. Ketika siklus-siklus tersebut beririsan pada satu periode, sejumlah gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan. Menurut saya ini lebih ke masalah timing”, ujarnya, Rabu (9/9/2026).

Portrait of a young man with short black hair in a brown collared shirt, neutral expression, white background.
Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc. (Foto: Dok. Pribadi)

Indranova, menuturkan, kesamaan jalur subduksi di Indonesia pun tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan langsung antarsistem magma.

Sistem Magma yang Bekerja Lokal

Setiap gunung memiliki sistem magma yang bekerja secara lokal, sehingga erupsi pada satu gunung tidak serta-merta menjadi pemicu bagi gunung lainnya.

Kemungkinan keterkaitan dapat lebih terbuka pada gunung-gunung yang lokasinya berdekatan, tetapi kondisi tersebut berbeda dengan enam gunung yang saat ini tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, dan Maluku.

“Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar-satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin,” jelasnya.

Indranova, menjelaskan, perbedaan sistem tersebut kemudian tercermin pada mekanisme erupsi masing-masing gunung.

Pada Sinabung, Ibu, dan Semeru, adanya mekanisme ketika panas dari magma di bawah gunung memanaskan air yang tersimpan di tubuh gunung, sehingga tekanan dapat meningkat dan memicu erupsi freatik tanpa selalu disertai tanda kenaikan aktivitas kegempaan vulkanik yang jelas.

Mekanisme semacam ini berbeda dengan erupsi magmatik pada Anak Krakatau yang berkaitan dengan magma dengan kandungan gas tinggi.

“Layaknya minuman bersoda, erupsi magmatik bersifat eksplosif disebabkan karena adanya nukleasi gas secara masif akibat proses dekompresi yang intens,” katanya.

Indranova, mengatakan, tingkat status gunung api menjadi salah satu indikator penting untuk memahami tingkat kewaspadaan, sementara karakter erupsi menentukan jenis bahaya yang perlu diantisipasi.

Pada Semeru, misalnya, awan panas dapat bergerak mengikuti lereng dengan suhu dan kecepatan tinggi, sedangkan gunung seperti Sinabung, Ibu, dan Anak Krakatau dapat menghasilkan material jatuhan yang penyebarannya dipengaruhi angin.

“Setiap gunung itu punya karakteristik erupsi masing-masing,” tuturnya.

Menurut Indranova, perbedaan karakter membuat dampak erupsi tidak berhenti pada kawasan di sekitar kawah.

Abu vulkanik yang terbawa angin dapat mencapai wilayah yang lebih jauh dan mengganggu kualitas udara serta kesehatan, sementara gangguan terhadap penerbangan dapat merembet pada sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi lainnya.

Kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun berdasarkan pemahaman mengenai jenis bahaya yang mungkin muncul di wilayahnya, bukan semata-mata berdasarkan informasi bahwa sebuah gunung sedang erupsi.

“Kita harus sangat intens mengedukasi masyarakat untuk memberitahu bahwa ada bahaya yang jenisnya berbeda, ada yang jatuhan, ada yang aliran, supaya masyarakat lebih aware dan tidak panik,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar