Gereja Katolik Santo Antonius Padua Kotabaru, Inlander pun Beribadah Duduk Lesehan

6 Min Read
Urban street view with a white building and red-tiled roof, power lines crossing a clear blue sky, trees along the sidewalk.
Bangunan Gereja Kotabaru yang menghadap ke arah timur akan terlihat berdiri megah di simpang tiga jalan utama yang menghubungkan Stadion Kridosono menuju kawasan Malioboro. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Gereja Katolik Santo Antonius Padua atau dikenal dengan nama Gereja Kotabaru adalah salah satu gereja Katolik yang berada di wilayah Kota Yogyakarta.

Lokasi Gereja Kotabaru tepatnya di Jalan Abu Bakar Ali No 1, Kalurahan Kotabaru, Kapanewon Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Bangunan Gereja Kotabaru yang menghadap ke arah timur akan terlihat berdiri megah di simpang tiga jalan utama yang menghubungkan Stadion Kridosono menuju kawasan Malioboro.

Erwin story teller dari Jogja Walking Tour, menjelaskan, awal kegiatan keagamaan Katolik di sekitar Kotabaru bermula dengan kehadiran Romo F. Strater pada sekitar tahun 1918.

Sejarah Gereja Kotabaru

Sebelum Gereja Kotabaru berdiri, Romo F. Strater merintis pendirian Kolese Santo Ignatius (Kolsani) dan Novisiat Kolsani pada 18 Agustus 1922.

Kolsani ini juga mempunyai kapel yang terbuka untuk umum. Romo F. Strater akhirnya memutuskan untuk mendirikan gereja yang lebih besar dan representatif, untuk menampung umat Katolik yang terus bertambah.

Akhirnya Provinsial Serikat Jesus Indonesia saat itu, yaitu Romo J. Hoeberechts, mendapatkan bantuan dana dari Belanda untuk membangun sebuah gereja.

“Sebagai syaratnya, gereja yang akan dibangun itu nantinya akan diberi nama Santo Antonius van Padua,” ucapnya, Jumat (18/9/2026).

Erwin mengatakan pula, saat Gereja Kotabaru dibangun pada 1926 dengan pendiri Romo F. Strater, penanggung jawab pendirian gereja adalah Romo J. Hoeberecht Sj.

Bangunan Gereja Kotabaru didirikan dengan dana dari pemerintah Belanda.

“Pada awal masa berdiri, Gereja Kotabaru merupakan bagian dari Kolese St. Ignatius yang merupakan sekolah bagi para romo muda,” ucapnya.

Black-and-white photo of a large church service with clergy at the altar and a crowded congregation, dated 1931.
Para inlander (penduduk asli pribumi Indonesia) saat beribadah lesehan dan orang-orang Eropa memakai kursi. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Erwin, Gereja Kotabaru diresmikan pada 26 September 1926 oleh Mgr. A. van Velsen, SJ. Semula, gereja ini adalah bagian dari Komunitas Kolese Ignatius (Kolsani) dengan Rektor Kolsani merangkap sebagai Pastor Kepala.

Gereja Kotabaru kemudian berstatus menjadi paroki mandiri pada 1 Januari 1934. Namun pada masa pendudukan Jepang, Gereja Kotabaru sempat berubah fungsi menjadi gudang senjata. Pada masa itu, di kawasan Kotabaru memang banyak bangunan yang kemudian diambil alih oleh tentara Jepang untuk diubah fungsinya sesuai kebutuhan.

Kegiatan peribadatan pun dipindahkan ke rumah joglo di daerah Kemetiran yang kemudian menjadi cikal bakal Gereja Kemetiran.

Karena perubahan fungsi tersebut, menyebabkan beberapa komponen bangunan gereja hilang. Salah satu di antaranya adalah patung logam manusia kudus pada pilar yang kini sudah tidak dapat dijumpai lagi.

Baru setelah Indonesia merdeka, bangunan ini kemudian dikembalikan fungsinya menjadi gereja seperti semula.

Pada 1967, Kolsani menyerahkan gereja pada paroki, tetapi pemisahan sepenuhnya baru terjadi pada awal 1975 pada saat Gereja Kotabaru di bawah penggembalaan Romo Contanstinus Harsosuwito, SJ.

Pada 1990–1995 atau di masa penggembalaan Romo Gundhart Gunarto, SJ, Gereja Kotabaru menampilkan budaya Indonesia melalui lukisan-lukisan di dinding bangunan utama gereja yang terinspirasi dari kisah Injil.

Arsitektur Kolonial yang Khas

Menurut Erwin, Gereja Kotabaru memiliki bentuk bangunan khas dengan gaya kolonial yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Bangunan gereja ini mempunyai menara yang menjadi penghias bagian fasad depan. Bagian atap menara Gereja Kotabaru berbentuk limas dengan bagian puncak diberi hiasan berupa windwijzer (penunjuk arah tiupan angin) dengan hiasan ayam jago di bagian atasnya.

Bagian atap menara berupa limasan dengan bagian dinding di bawah yang memiliki banyak ventilasi adalah bentuk adaptasi terhadap iklim tropis.

“Pada bagian dalam gereja terdapat ruang untuk mempersiapkan upacara, tempat penyimpanan alat-alat upacara, ruang-ruang pengakuan dosa, dan ruang utama. Pada bagian ruang utama ini terdapat kursi sebagai sarana peribadatan yang masih menggunakan kursi asli sejak pertama kali dibangun. Pada bagian dindingnya juga terdapat hiasan berupa mural yang menceritakan tentang Yesus,” ucapnya.

Menurut Erwin, kondisi Gereja Kotabaru saat ini masih menunjukkan bentuk asli meskipun terdapat penambahan bangunan di sayap utara sebagai salah satu cara untuk mengakomodasi banyaknya jemaah.

“Bangunan Gereja Kotabaru juga pernah direhabilitasi pada 2007 sebagai langkah pemulihan pasca-bencana Gempa Jogja yang melanda di tahun 2006 silam,” ucapnya.

Erwin menuturkan pula, pada 1931 altar gereja sebelum ada konsili gereja Katolik, dulu hanya menghadap ke depan. Para romo dan pastor pun menghadap membelakangi umat.

Untuk sekarang mejanya ada dua, karena ada konsili Vatikan waktu itu, bahwa harus disediakan juga meja di depan supaya nanti menghadap ke umat.

Oleh sebab itu, sekarang jika pastor atau para romo memimpin misa, keadaannya menghadap ke depan dan membelakangi karena altarnya ada dua.

Dulu para inlander (penduduk asli pribumi Indonesia), saat beribadah lesehan dan orang-orang Eropa memakai kursi. Hal ini bukan karena perbedaan di gereja.

”Orang pribumi memang sejak dulu suka beribadah dengan cara lesehan daripada duduk di kursi. Oleh sebab itu, dulu disediakan di bagian depan kosong, sengaja untuk para inlander,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar