Gereja Huria Kristen Batak Protestan, Kenangan Tempat Dansa Orang Belanda

3 Min Read
Front view of a white church tower with a cross, framed by green trees and a metal gate.
Gereja Huria Kristen Batak Protestan, bangunan ini diresmikan oleh Ds D. Baker pada 21 Mei 1923. Awalnya merupakan bangunan Gereformeerde kerk Djogja yaitu tempat dansa dan musik bagi orang-orang Belanda (Muziekenten). (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Gereja Huria Kristen Batak Protestan, bangunan ini diresmikan oleh Ds D. Baker pada 21 Mei 1923.

Awalnya merupakan bangunan Gereformeerde kerk Djogja yaitu tempat dansa dan musik bagi orang-orang Belanda (Muziekenten).

Pada masa pendudukan Jepang digunakan sebagai rumah tahanan wanita Belanda (Internerens Camp Belanda).

Pada 1942 sempat digunakan oleh warga Muslim sekitar sebagai masjid dan gudang atas bantuan kekuasaan Jepang. Pada 14 Agustus 1948 adalah saat pertama jemaat HKBP mengadakan kebaktian di Gedung Gereja, Jalan Soeltansboulevard 22 (sekarang Jalan I Dewa Nyoman Oka).

Erwin dari Jogja Walking Tour, menuturkan, Gereja Huria Kristen Batak Protestan merupakan Gereja HKBP Yogyakarta yang sudah berdiri sejak sekitar tahun 1910.

Atap Tumpang

“Arsitektur asli bangunan gereja HKBP Yogyakarta yaitu perpaduan antara unsur lokal dengan Eropa (kolonial) atau yang lebih dikenal dengan arsitektur bergaya Indis. Unsur lokal dapat dilihat pada puncak menara bangunan yang menonjolkan corak Hindu-Jawa dan model atap bersusun dua menyerupai atap tumpang. Sedangkan unsur Eropa dapat dilihat pada konstruksi/struktur dinding bangunan tebal.

Penasihat arsitektur kawasan Kotabaru Yogyakarta adalah Ir. Thomas Karsten, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang banyak mengeluarkan karya rancang bangun memadukan unsur lokal dengan unsur Eropa. Salah satu rancangan Karsten yang sangat monumental adalah Museum Negeri Sonobudoyo yang terletak di Jalan Trikora Nomor 6 Yogyakarta. Namun demikian apakah Gereja HKBP merupakan rancangan langsung Ir. Thomas Karsten?” ucapnya, Jumat (18/9/2026).

Menurut Erwin, gereja tersebut memang pernah dipergunakan sebagai tempat kebaktian bagi kaum elit Belanda selama masa kolonial.

“Pada masa revolusi kemerdekaan, gereja tersebut banyak dipergunakan oleh kaum republikein Suku Batak untuk tempat beribadah. Salah satu tokoh revolusi yang memiliki ikatan emosional dengan bangunan gereja tersebut adalah Amir Sjarifoeddin Harahap, seorang mantan Perdana Menteri Indonesia ke-2 merangkap Menteri Pertahanan (03 Juli 1947 sampai  29 Januari 1948).

Pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan Kabinet Sjahrir II dan III (14 November 1945 sampai 27 Juni 1947) dan Menteri Penerangan Kabinet Sjahrir I (02 September 1945 sampai 12 Maret 1946). Beliau pulalah yang memiliki andil mengupayakan gedung gereja sebagai tempat peribadatan jemaat HKBP,” ucapnya.

Erwin menjelaskan pula, bagi pemuda Batak di Yogyakarta, pada masa-masa revolusi kemerdekaan 1945, sosok Amir Sjarifoeddin Harahap selain dikenal sebagai tokoh revolusi, juga dikenal sebagai seorang pengkhotbah yang penuh semangat, energik, dan seringkali membuat pendengarnya berdecak kagum.

Sitor Situmorang

Salah satu pemuda batak tersebut adalah Sitor Situmorang, seorang sastrawan penyair Danau Toba yang pertama kali menginjakkan kaki di Kota Yogyakarta. Tepatnya menjelang perayaan Natal 1947 dalam kebaktian gereja tersebut.

“Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta telah menetapkan bangunan gereja HKBP Yogyakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya dengan mengeluarkan Keputusan Gubernur DIY Nomor 210/KEP/2010 tertanggal 02 September 2010,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar