Mabur.co – Udara sejuk akan menyapa begitu melintasi kawasan timur laut Malioboro, kawasan di seberang timur Sungai Code yang kini dinamai Kotabaru.
Pohon-pohon rindang tumbuh di tengah ruas jalan, menaungi dari terik sinar matahari sekaligus membatasi lajur dua arah yang berbeda. Dengan bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh di sisi kanan kiri jalan, kawasan Kotabaru menjadi sebuah kawasan yang terlalu sayang untuk sekadar dilintasi.
Storyteller Jogja Walking Tour, Erwin menuturkan, Kotabaru atau dulu disebut Nieuwe Wijk, adalah sebuah kawasan yang berkembang mulai tahun 1920 sebagai konsekuensi kian padatnya kawasan Loji Kecil.
Kemajuan industri gula, perkebunan dan meningkatnya ketertarikan mengembangkan pendidikan dan kesehatan menyebabkan jumlah orang Belanda yang menetap di Yogyakarta semakin meningkat.
Sejajar dengan Kawasan Menteng
“Kotabaru menjadi kawasan hunian alternatif yang berfasilitas lengkap, sejajar dengan kawasan Menteng di Jakarta,” ujarnya usai ditemui saat Jelajah Budaya Tour de Kotabaru, Jumat (18/9/2026).

Erwin mengatakan, rancangan kawasannya tertata mengikuti pola radial seperti kota-kota di Belanda pada umumnya.
Berbeda dengan kawasan Yogyakarta lainnya yang kebanyakan masih tertata mengikuti arah mata angin. Pohon-pohon besar, tanaman berbunga dan tanaman buah yang banyak terdapat di kawasan ini menandakan bahwa Kotabaru dirancang sebagai garden city, dilengkapi boulevard dan ruas jalan yang cukup lebar.
“Setiap sudut Kotabaru tidak saja indah, tetapi juga menyimpan cerita. Jalan Kewek yang menjadi gerbang selatan kawasan ini misalnya, menyimpan cerita yang cukup jenaka. Jalan berupa jembatan yang menghubungkan seberang timur dan barat Sungai Code itu sebenarnya dinamai Jalan Kerkweg. Namun karena banyak orang Jawa sulit melafalkannya, namanya pun berubah menjadi Kewek. Karena berupa jembatan, jalan yang kini bernama Abubakar Ali itu juga disebut Kreteg Kewek,” ucapnya.
Erwin menuturkan, hunian orang-orang Belanda itu pertama kali di Yogyakarta sejak Keraton Yogyakarta sendiri berdiri.
Menengok Sejarah
Ketika Keraton Yogyakarta berdiri pasca-Perjanjian Giyanti, terbelahnya Kerajaan Mataram Islam menjadi dua antara Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, dalam klausul Perjanjian Giyanti itu dinyatakan, setiap kali VOC meminta lahan untuk kebutuhan mereka pihak Kesultanan maupun Kasunanan wajib menyediakan tanah.
Dari perjanjian itu pula akhirnya hunian-hunian Belanda masuk ke Yogyakarta. Hunian pertama saat itu adalah Benteng Vredeburg pada 1756.
Setelah itu kemudian Benteng Vredeburg overload (penuh), bergeser ke Loji Kecil yang berada di Panembahan Senopati Prawirodirjan, Gondomanan, Kota Yogyakarta.
“Bangunan Loji Kecil sekarang sudah tidak ada, yang ada sekarang tinggal bangunan Societiet Taman Budaya Yogyakarta. Ada bangunan heritage sebelah utaranya. Setelah itu Loji Kecil overload lagi, penuh karena semakin banyak orang Belanda dan Eropa datang ke Yogyakarta waktu itu,” ucapnya.
Menurut Erwin, di Vredeburg era VOC, sedangkan di Loji Kecil setelah Perang Jawa 1825 sampai 1830. Oleh sebab itu, Loji Kecil dibangun karena Benteng Vredeburg sudah overload. Kemudian ada yang namanya proses tanam paksa.
Orang Belanda di Vredeburg datang ke Yogyakarta untuk mengawasi tanam paksa. Akhirnya Loji Kecil penuh dan geser lagi permukiman mereka yang ketiga di Bintaran, sebagai kawasan kolonial sampai tanam paksa berakhir sekitar tahun 1870. Setelah itu baru kemudian ada penanaman modal asing atau disebut ekonomi liberal.
19 Pabrik Gula
Modal asing kemudian masuk, akhirnya Yogyakarta dikepung pabrik gula. Ada sekitar 19 pabrik gula yang berdiri di Yogyakarta sehingga kemudian banyak sekali orang Eropa datang lagi ke Yogyakarta.
Bintaran pun overload penuh, akhirnya kemudian pemerintah kolonial waktu itu meminta lahan untuk membangun sebuah permukiman baru tahun 1917. Berdasarkan arsip keraton namanya Reichsblad van Sultanat nomor 12 tahun 1917.
Pihak keraton dalam hal ini Sri Sultan Hamengku Buwono VII menyewakan lahan tersebut untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun rumah-rumah.
“Rumah di sini modelnya kayak real estate yang disewakan. Tanah milik kesultanan tapi bangunan milik pemerintah kolonial. Terus kemudian disewakan kepada perusahaan-perusahaan. Akhirnya mereka menyewa lagi di Kotabaru. Kawasan Kotabaru dulu merupakan tanah kesultanan, sepanjang perjalanan sejarah tanah kesultanan ada beberapa yang sudah menjadi milik pribadi,” ucapnya.
Menurut Erwin pula, Kotabaru didesain sangat modern di zamannya. Berkonsep Garden City, artinya kota hijau atau kota taman.
”Pemerintah kolonial pada saat itu mau menciptakan permukiman di tengah kota tapi nuansanya perdesaan. Tetapi tidak mau jauh dari fasilitas publik, maka kemudian dibikin kawasannya betul-betul sangat asri,” katanya. ***
