Mabur.co – Nama Hotel Yamato atau kini dikenal Hotel Majapahit tidak bisa dipisahkan dari salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah perjuangan Indonesia di Surabaya.
Di hotel inilah pada 19 September 1945, pemuda Surabaya dengan gagah berani merobek warna biru pada bendera Belanda, hingga tinggal menyisakan merah dan putih yang merupakan warna kebanggaan bendera Indonesia.
Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai peristiwa perobekan bendera atau insiden Yamato yang menjadi simbol keberanian rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia sekaligus tonggak awal pertempuran heroik 10 November 1945.
Namun, jauh sebelum peristiwa bersejarah perobekan bendera itu terjadi, ternyata bangunan Hotel Yamato yang ikonik ini juga menyimpan kisah sendiri.
Dibangun pada 1910
Dilansir dari situs Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Sabtu (19/9/2026), Hotel Yamato awalnya bernama Hotel Oranje. Hotel ini dibangun pada 1 Juni 1910 di Jalan Tunjungan 65 Surabaya oleh Lucas Martin Sarkies bersaudara.
Arsiteknya adalah James Afprey, seorang arsitek asal Inggris. Jejak pembangunan hotel ini bahkan masih tercatat pada salah satu bagian bangunan induk melalui catatan berbahasa Belanda.
Berdiri di kawasan Jalan Tunjungan yang sejak dulu menjadi pusat keramaian Kota Surabaya, Hotel Yamato atau Hotel Oranje merupakan sebuah hotel mewah dengan jaringan internasional di beberapa negara lainnya.
Arsitektur Art Nouveau
Dari sisi arsitektur, hotel ini terbilang sangat mewah di masanya. Dilansir dari laman Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, bangunan ini awalnya mengusung gaya art nouveau.
Gaya tersebut terlihat dari penggunaan ornamen yang mengambil bentuk hewan dan tumbuhan serta kaca berwarna-warni.
Namun, pada 1931, arsitektur Hotel Oranje diperbarui menggunakan gaya art deco yang lebih praktis. Perubahan itu dilakukan oleh arsitek Belanda Charles Prosper Wolff Schoemaker.
Lima tahun kemudian, perubahan kembali dilakukan pada bagian depan hotel. Lobi baru bergaya art deco ditambahkan, sementara menara kembar yang sebelumnya menjadi bagian bangunan dirobohkan.

Taman Bergaya Eropa dan Timur Tengah
Salah satu bagian yang cukup menarik dari hotel ini adalah keberadaan taman hijau yang terletak di dalam kompleks hotel. Dilansir dari situs Universitas Ciputra, taman ini memadukan berbagai unsur gaya.
Arsitek Surabaya, Maureen Nuradi, menjelaskan penataan taman yang geometris dan simetris dengan sebuah kolam kecil di tengahnya, menunjukkan adanya pengaruh gaya taman formal dari Prancis yang jadi tren di Eropa tahun 1900-an.
Menurutnya, taman tersebut juga memiliki karakter yang mengingatkan pada unsur Timur Tengah. Taman dengan kolam dan pohon palem menjadi salah satu buktinya.
Menurut Nuradi pula, perpaduan gaya tersebut kemungkinan tidak terlepas dari latar belakang pendiri hotel yang berasal dari Armenia, sementara arsitekturnya mendapat pengaruh dari Eropa.
Meski dipengaruhi gaya Eropa dan Timur Tengah, taman ini juga tetap memiliki karakter lokal lewat tanaman tropis asli Indonesia. Beberapa di antaranya adalah pohon beringin, palem, flamboyan, hingga furing.
Pernah Dikunjungi Charlie Chaplin
Kemewahan dan keindahan Hotel Oranje pada saat itu begitu terkenal hingga membuatnya menjadi tempat persinggahan tokoh-tokoh dunia di masa itu.
Dilansir dari situs Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, salah satu tamu terkenal yang pernah singgah adalah Charlie Chaplin.
Saat itu Charlie Chaplin mengunjungi Indonesia untuk berlibur ke Bali dengan melewati dan singgah di sejumlah kota termasuk Surabaya.
Bintang film komedi tanpa suara itu bahkan hadir langsung saat peresmian lobi hotel baru bergaya art deco pada 1936.
Selain menjadi hotel mewah yang dikelola orang Belanda, hotel ini juga pernah difungsikan sebagai markas militer saat pendudukan Jepang terjadi di Indonesia.
Di momen itulah hotel ini kemudian berubah nama dari Hotel Oranje menjadi Hotel Yamato. Sempat dinamai Hotel Merdeka, hotel ini kemudian berganti nama lagi menjadi Hotel Majapahit dan berlangsung hingga saat ini.
Dari penelusuran di sejumlah situs penyewaan hotel per September 2026 ini, Hotel Majapahit yang terkenal mewah dan eksklusif ini menawarkan tarif sewa yang cukup mahal. Yakni berkisar Rp1,8 juta per kamar per malam. ***
