Mabur.co – Candi Gebang terletak di Dusun Gebang, Desa Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Candi Gebang berjarak sekitar 11 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta.
Nama Gebang mungkin sudah tidak asing bagi sebagian warga Sleman. Bahkan, nama ini digunakan sebagai penanda jalan di beberapa kawasan.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Gebang sebenarnya merujuk pada sebuah candi bersejarah yang berada di Dusun Gebang, Desa Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi Gebang berdiri di kawasan yang relatif tenang, tepatnya di sebelah barat laut Perumahan Gebang Permai.
Letaknya yang berada di tengah hamparan persawahan dengan ketinggian sekitar 179 meter di atas permukaan laut membuat suasana di sekitar candi terasa sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk kota.
Bercorak Hindu
Konservator Balai Pelestarian DIY, R. Wikanto Harimurti, menuturkan, Candi Gebang bercorak Hindu yang ditemukan warga setempat pada November 1936 saat akan mengambil batu untuk bahan bangunan membuat rumah.
Kemudian para ahli arkeologi melakukan penelitian tentang adanya kemungkinan candi di lokasi penemuan patung itu. Dengan asumsi bahwa patung Ganesha adalah bagian bangunan.
“Setelah adanya kepastian candi di daerah tersebut maka dilakukan penggalian rekonstruksi dan pemugaran yang pada 1937 sampai 1939 di bawah pimpinan Van Romondt,” katanya, Rabu (23/9/2026).
R. Wikanto Harimurti mengatakan pula, dari keberadaan lingga, yoni, dan arca Ganesha, dapat dipastikan bahwa Candi Gebang merupakan Candi Hindu.
Kemudian dilihat proporsi tinggi pada bagian kaki menjadi tanda bahwa candi dibangun pada 730-800 M. Candi Gebang merupakan bangunan dengan denah dasar persegi yang berukuran 5,25 x 5,25 meter dengan tinggi 7,75 meter.
“Bahan dasar yang digunakan adalah batu andesit dengan tubuh candi berdiri di atas kaki setinggi 2 meter,” ucapnya.
Menurut R. Wikanto Harimurti, bagian kanan kiri pintu masuk terdapat relung tempat arca. Relung utara terdapat arca Nandiswara, sedangkan relung bagian selatan dalam keadaan kosong.
Konon, relung tersebut tadinya terdapat arca Mahakala. Di sisi barat, terdapat relung Ganesha yang duduk di sebuah yoni dengan belalai ke utara.
Tidak ditemukan tangga untuk naik ke selasar. Muncul dugaan, tangga tersebut dibuat dari bahan yang rapuh, meskipun belum ada informasi tentang ketiadaan tangga tersebut.
“Di dalam candi terdapat ruangan yang di bagian tengahnya terdapat yoni dan lingga. Saat ini, lingga yang tertancap di atas yoni sudah tidak ada di tempatnya. Sementara, atap candi tersusun dengan puncak berundak yang tegak di atas seroja.
Pada atap bagian luar terdapat relief dengan bentuk kepala manusia yang dibingkai oleh sebuah jendela. Relief yang sama juga dijumpai pada Candi Bima yang terdapat di kompleks Candi Dieng, yang biasa disebut Arca Kudu,” katanya.
Arsitektur Klasik Tua
R. Wikanto Harimurti menuturkan, dari segi gaya bangunan, Candi Gebang termasuk dalam kategori arsitektur klasik tua. Hal ini terlihat dari bentuk bangunan yang relatif gemuk serta pahatan arca yang bergaya naturalis.
“Pada bagian atas pintu masuk terdapat hiasan kepala kala tanpa rahang bawah, yang menjadi salah satu ciri khas seni bangunan candi pada masa klasik awal. Di dalam tubuh candi terdapat satu bilik yang di dalamnya ditemukan yoni sebagai lapik, dengan lingga yang dahulu berdiri di atasnya,” katanya.
Di sisi kanan dan kiri pintu masuk terdapat relung yang sebelumnya diisi arca Nandiswara. Namun, saat ini arca tersebut sudah tidak berada di tempatnya. Relung di sisi utara dan selatan yang biasanya diisi arca Mahakala juga ditemukan dalam kondisi kosong.
“Salah satu daya tarik Candi Gebang terletak pada bagian dinding barat. Di sisi ini terdapat relung yang berisi arca Ganesha, dengan yoni dan cerat yang mengarah ke utara di bagian bawahnya,” ucapnya. ***
