Benteng Vredeburg, Saksi Sejarah Kukuhnya Belanda Menjajah Indonesia

6 Min Read
Entrance to Vredeburg fort with white columns, an arched gateway, and a flag atop a tall pole under a bright sun.
Benteng Vredeburg adalah saksi sejarah betapa kuatnya pengaruh Belanda dalam menjajah Indonesia. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Jejak perjuangan kemerdekaan Indonesia terekam dalam museum-museum sejarah yang tersebar di beberapa penjuru Yogyakarta.

Salah satu yang paling populer adalah Museum Benteng Vredeburg. Benteng Vredeburg adalah saksi sejarah betapa kuatnya pengaruh Belanda dalam menjajah Indonesia.

Karena posisinya yang strategis di tengah kota, tepatnya di depan Keraton Yogyakarta, Benteng Vredeburg telah merekam peristiwa-peristiwa penting dan telah mengalami perubahan fungsi dari waktu ke waktu.

Kepala Museum Benteng Vredeburg, Vincensius Agus Sulistyo, menuturkan, Benteng Vredeburg didirikan pada 1760 atas perintah Sultan Hamengku Buwono I yang menyetujui permintaan Belanda untuk membangun benteng di dekat keraton.

Saat itu, Belanda merasa khawatir dengan kemajuan keraton yang sangat pesat dan berdalih pembangunan benteng adalah upaya Belanda menjaga keamanan keraton.

Belanda Memantau Perkembangan Keraton

Akan tetapi, di balik dalih tersebut Belanda mempunyai maksud tersendiri yaitu untuk memudahkan Belanda dalam mengontrol seluruh perkembangan di keraton.

“Letak benteng yang hanya berjarak satu tembakan meriam dari keraton dan menghadap ke jalan utama menuju keraton menjadi tanda bahwa benteng tersebut digunakan Belanda sebagai benteng strategi, intimidasi, penyerangan, dan blokade. Dengan kata lain, Belanda bermaksud mengantisipasi jika sewaktu-waktu Sultan berubah pihak memusuhi dan menyerang Belanda,” ucapnya, Sabtu (19/9/2026).

Self-portrait of a man wearing glasses and a batik shirt, sitting in blue theater seats inside a conference hall.
Kepala Museum Benteng Vredeburg, Vincensius Agus Sulistyo. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Agus, Benteng Vredeburg pertama kali dibangun dengan sangat sederhana. Temboknya berbahan tanah dan ditopang dengan tiang-tiang kayu pohon kelapa/aren dengan atap ilalang.

Benteng tersebut berbentuk persegi yang di masing-masing sisinya dilengkapi bastion. Kemudian pada masa berikutnya, gubernur Belanda W. H. van Ossenberg, mengusulkan pembangunan benteng secara permanen dengan dalih keamanan yang lebih terjamin.

Pada 1767, pembangunan benteng permanen dimulai di bawah pengawasan arsitek Belanda, Ir. Frans Haak.

“Ketika selesai dibangun pada 1867, benteng tersebut diberi nama Rustenburg yang berarti benteng peristirahatan. Namun gempa hebat melanda Yogyakarta pada 1867 dan benteng tersebut pun runtuh. Benteng Rustenburg kemudian dibangun kembali dan namanya diubah menjadi Vredeburg yang berarti benteng perdamaian sebagai simbol perdamaian antara Belanda dan keraton,” katanya.

Agus menuturkan, sejak saat itu, Benteng Vredeburg merekam berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di Kota Yogyakarta.

Geger Sepoy

Mulai dari penguasaan Inggris pada 1811-1816 di mana terjadi peristiwa bersejarah yaitu penyerangan serdadu Inggris dan kekuatan-kekuatan pribumi ke Keraton Yogyakarta yang dikenal sebagai peristiwa Geger Sepoy.

Pada 5 Maret 1942, Benteng Vredeburg sempat diambil alih oleh tentara Jepang ketika menduduki Kota Yogyakarta. Selain digunakan sebagai markas Kempetai dan gudang senjata, Benteng Vredeburg juga digunakan sebagai tempat tawanan orang Belanda dan Indonesia yang melawan Jepang.

Open courtyard with red-tiled roofs, trees, and a large black cannon sculpture in the foreground under a blue sky.
Benteng Vredeburg merekam berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di Kota Yogyakarta. Mulai dari penguasaan Inggris pada 1811-1816 di mana terjadi peristiwa bersejarah yaitu penyerangan serdadu Inggris dan kekuatan-kekuatan pribumi ke Keraton Yogyakarta yang dikenal sebagai peristiwa Geger Sepoy. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 1945, Benteng Vredeburg berhasil diambil alih oleh instansi militer Indonesia.

Namun, Belanda melalui Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 berhasil menguasai kembali Benteng Vredeburg.

Selain digunakan sebagai tempat penyimpanan alat-alat tempur, Belanda juga menggunakan benteng ini sebagai markas Dinas Rahasia Belanda.

Agus menjelaskan, hingga akhirnya pada Serangan Umum 1 Maret 1949, TNI beserta sejumlah elemen masyarakat berhasil menguasai Benteng Vredeburg selama enam jam.

“Pasca-mundurnya pasukan Belanda dari Yogyakarta pada 29 Juni 1949, pengelolaan Benteng Vredeburg dipegang oleh APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia),” katanya.

Arsitektur Benteng Vredeburg

Agus mengatakan pula, Benteng Vredeburg bangunan arsitekturnya Indische atau Hindia yang mencerminkan gaya bangunan khas Eropa.

Gaya arsitektur ini merupakan perpaduan kebudayaan Eropa, Indonesia, dan beberapa dari kebudayaan Tionghoa. 

Indische Empire Style diperkenalkan oleh H.W. Daendels yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Pemerintahan Belanda tahun 1801-1811.

”Benteng Vredeburg merupakan generasi pertama yang mengadopsi style tersebut. Hal ini terlihat jelas dari pilar-pilar bergaya Doria di area gerbang masuk yang mencerminkan gaya bangunan khas Yunani-Romawi. Memasuki area bagian dalam, terdapat dua gedung pengapit bergaya Yunani era Renaissance,” ucapnya.

Agus menuturkan lagi, karakter bangunan kolonial juga terlihat dari penggunaan jendela besar dan dinding yang tebal.

Terdapat pula hiasan puncak bangunan atau nok acroterie berukuran pendek yang memiliki bentuk seperti cerobong asap yang diukir.

“Sementara karakter javanese terlihat dari bentuk atap limasan bergaya joglo,” katanya.

Three-story beige building with blue-gray balconies and a wide staircase, people walking in a paved courtyard under a clear blue sky.
Benteng Vredeburg bangunan arsitekturnya Indische atau Hindia yang mencerminkan gaya bangunan Eropa. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Di mata Agus, untuk meningkatkan ketertarikan agar anak muda berminat mengunjungi museum harus memiliki effort.

Artinya museum harus meningkatkan program publik. Di samping meningkatkan program publik, museum juga harus melakukan revitalisasi, pembenahan-pembenahan.

Baik itu revitalisasi fisik bangunan, revitalisasi program, revitalisasi pengelolaan, kemudian revitalisasi dalam perencanaan dan seluruhnya.

Paradigma Partisipatoris

Jadi, ada upaya untuk menghidupkan kembali semangat untuk museum, salah satunya adalah sekarang museum juga sudah mulai mengalami pergeseran paradigma partisipatoris.

Kata kuncinya adalah keterlibatan. Jadi, museum ingin melibatkan publik bukan hanya sebagai mitra yang pasif tetapi mitra yang aktif.

“Mereka kita ajak duduk bersama untuk membuat program bersama-sama. Kalau dulu kita membuat program kemudian mereka menjadi peserta, sekarang tidak. Mereka kita ajak ayo duduk bareng kita membuat program bareng-bareng, kita mencari publik bareng-bareng sehingga museum ini akan berkembang bersama komunitas,” katanya.

Kembali Agus menuturkan, untuk tingkat kunjungan sekarang, sudah lumayan cukup bagus.

“Pada 2025 pengunjung kita sudah mencapai kurang lebih 600.000-an. Saya berharap tingkat kunjungan ke museum selalu meningkat, dari tahun sebelumnya,” pungkasnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar