Candi Palgading Simpan Jejak Peradaban Kuno, Hadirkan Nuansa Arkeologis Autentik

6 Min Read
Stone pedestal monument on a tiered platform in a sunny park, with two people sitting on the steps and dense greenery behind the scene.
Candi Palgading yang terletak di Dusun Palgading, Desa Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan kemegahan Borobudur atau Prambanan. Situs ini menghadirkan nuansa arkeologis autentik dengan fragmen batu berserakan dan proses rekonstruksi yang masih berlangsung. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Di antara persawahan hijau Kapanewon Ngaglik, Sleman, tersimpan jejak peradaban kuno yang belum banyak dijamah wisatawan.

Candi Palgading yang terletak di Dusun Palgading, Desa Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman menawarkan pengalaman berbeda dari kemegahan Borobudur atau Prambanan.

Fragmen Batu Berserakan

Situs ini menghadirkan nuansa arkeologis autentik dengan fragmen batu berserakan dan proses rekonstruksi yang masih berlangsung.

Ketenangan dan nilai edukatif menjadi daya tarik utama tempat wisata ini. Situs cagar budaya ini berada sekitar 10 kilometer di sebelah utara Kota Yogyakarta. Kawasan ini ditetapkan sebagai struktur cagar budaya peringkat kabupaten. 

Konservator Balai Pelestarian DIY, R. Wikanto Harimurti, menuturkan, di situs ini terdapat empat struktur candi bercorak Buddha yang dinamai Candi Palgading A, B, C, dan D.

Dari empat struktur, hanya bangunan A yang memungkinkan dan sudah dipugar. Pemugaran dan penelitian di sekitar situs menghasilkan perkiraan bahwa Candi Palgading merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-9 hingga abad ke-10.

“Pada 1980 dan 1998, Candi Palgading baru diteliti kembali oleh SPSP DIY (sekarang BPCB DIY), yang menghasilkan temuan berupa batu yang dihiasi relief, antefiks, dan fragmen batu candi bertakik.

Kemudian, sekitar 100 meter dari situs, ditemukan pula Arca Akshobya, arca singa, arca kera, serta pinakel-pinakel kecil. Sebagai langkah pengamanan dan pelestarian situs, BPCB DIY melakukan ekskavasi,” ucapnya, Rabu (23/9/2026).

Man in light shirt holding a megaphone outdoors near stone steps; others stand nearby with hats.
Konservator Balai Pelestarian DIY R. Wikanto Harimurti. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut R. Wikanto Harimurti, ekskavasi penyelamatan tahap pertama yang dilaksanakan pada 20-30 November 2006 menghasilkan temuan berupa struktur stupa sebagai pelengkap bangunan candi dan batu-batu candi bagian kaki, tubuh, serta atap.

Ekskavasi tahap dua yang berlangsung antara 21-28 Juli 2008 berhasil menampakkan sebuah candi yang dibangun menghadap barat. Bagian yang terlihat adalah kaki candi, yang terdiri atas empat lapis berukuran panjang 7,8 meter.

Tempat Pemujaan Avalokitesvara

Diduga, struktur ini merupakan tempat pemujaan Avalokitesvara, salah satu Dhyani Bodhisattwa dalam agama Buddha.

Dari hasil studi yang dilakukan di Candi Palgading hingga 2011, setidaknya ditemukan empat struktur candi, yakni Candi Palgading A berupa bangunan stupa.

Sebanyak 80,26 persen material bangunan ini berhasil ditemukan, sehingga bisa dipugar pada 2016 lalu. Bangunan candi ini memiliki denah berukuran 8,85 x 8,85 meter dan berada di paling utara.

Candi Palgading B hanya menyisakan bagian kaki candi dan material yang ditemukan hanya sedikit sehingga tidak memungkinkan untuk dipugar.

Bangunan ini berada di sebelah selatan Candi Palgading A, dan memiliki denah berukuran 8,6 x 6,35 meter. Candi Palgading C belum selesai digali, sehingga masih memerlukan ekskavasi lebih lanjut untuk mengungkap bentuknya.

Bangunan yang berjarak sekitar dua meter di sebelah selatan bangunan B ini memiliki denah berukuran 13,23 x 17 meter.

Candi Palgading D juga belum bisa diungkap secara total karena terkendala masalah tanah.

Selain struktur candi, di situs Palgading juga ditemukan pagar di sisi timur. Berdasarkan data arkeologi yang ditemukan, Candi Palgading merupakan sebuah kompleks bangunan keagamaan Buddha. 

Hal itu diketahui berdasarkan temuan beberapa struktur bangunan beserta komponen batu penyusunnya yang terdiri atas stupa, serta temuan arca Avalokitesvara dan Aksobya.

Candi Palgading diduga kuat merupakan Candi Buddha beraliran Mahayana yang berasal dari abad ke-9 hingga abad ke-10.

Karakteristik Arsitektur Buddha Klasik

R. Wikanto Harimurti, menuturkan, ekskavasi di Situs Palgading menghasilkan berbagai fragmen batu yang menunjukkan karakteristik arsitektur Buddha klasik. Stupa menjadi salah satu elemen dominan yang ditemukan di lokasi ini.

Arca dan batu berukir juga ditemukan dalam proses penggalian. Artefak tersebut memberikan petunjuk tentang fungsi religius bangunan pada masa kejayaannya.

“Bagi peneliti dan mahasiswa arkeologi, situs ini menjadi laboratorium alam yang berharga. Proses ekskavasi, rekonstruksi, dan pemugaran masih berlangsung secara bertahap. Pengunjung dapat melihat bagaimana fragmen batu disusun kembali berdasarkan hasil penelitian. Proses ini memberikan pemahaman mendalam tentang metode konservasi cagar budaya,” ucapnya.

Menurut R. Wikanto Harimurti pula, Candi Palgading menawarkan pengalaman berbeda dari destinasi candi populer di Yogyakarta.

Menciptakan Atmosfer Kontemplatif

Suasana sepi dan belum ramai pengunjung menciptakan atmosfer kontemplatif yang ideal untuk edukasi mendalam.

“Menjelajahi situs purbakala memang menjadi kesenangan tersendiri untuk orang-orang yang suka dengan sejarah. Selain mendapatkan pengetahuan baru mengenai peninggalan sejarah yang ada di Indnesia, kita juga dapat mengetahui beberapa peninggalan sejarah yang jarang diketahui orang ini.

Jika dilihat dari sejarahnya, banyak sekali candi yang berada di Sleman yang ditemukan secara tidak sengaja pada saat menggali tanah, seperti Candi Palgading,” ucapnya.

R. Wikanto Harimurti mengatakan pula, pada saat ini candi tersebut telah menjadi objek wisata yang bisa dikunjungi dan dipelajari sejarahnya.

“Candi ini merupakan sebuah peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dan tergolong dalam Candi Buddha. Candi tersebut ditemukan sekitar tahun 2006 dan berada di daerah permukiman warga. Lokasi candi lebih tepatnya berada di depan kantor Kapanewon Ngaglik. Luas candi mencapai 1 hektare. Tidak banyak yang tahu mengenai keberadaan candi ini karena memang belum familiar seperti Candi Prambanan,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar