Arsitektur Pesanggrahan Ngeksiganda Bergaya Indis Tropis, Bangunan Termegah di Kompleks Cagar Budaya Kaliurang Peninggalan Sultan HB VII

4 Min Read
Open courtyard with single-story buildings and red-tiled roofs surrounded by tall trees under a blue sky; a flagpole stands near the left building.
Kompleks Pesanggrahan Ngeksiganda di kawasan Cagar Budaya Kaliurang, Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Sebuah kompleks bangunan kuno nampak berdiri megah di kawasan cagar budaya Kaliurang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. 

Dari sekian banyak bangunan bergaya Indis yang ada di kawasan ini, kompleks bangunan ini nampak paling mewah mirip sebuah istana. 

Selain memiliki halaman paling luas, kompleks ini juga memiliki sejumlah bangunan khas yang tak dimiliki kompleks lainnya.

Kompleks bangunan itu adalah Pesanggrahan Ngeksiganda milik Keraton Yogyakarta. Berdasarkan catatan sejumlah sumber, bangunan cagar budaya ini awalnya merupakan vila milik orang Belanda. 

Pada 1927, Sri Sultan Hamengku Buwono VII  membeli bangunan ini beserta tanah dan seluruh perabotannya untuk dijadikan tempat peristirahatan bagi keluarga Sultan.

Sri Sultan HB VII sendiri dikenal sebagai Raja Kesultanan Yogyakarta yang paling kaya sehingga mendapat julukan sebagai Sultan Sugih.

Arsitektur Bergaya Indis Tropis

Dikutip dari situs resmi Dinas Kebudayaan DIY, Rabu (23/9/2026), Pesanggrahan Ngeksiganda memiliki arsitektur bergaya Indis tropis dengan konstruksi utama berbahan kayu.

Kompleks bangunan ini menghadap ke barat daya dan memiliki halaman serta taman yang cukup luas. Di dalamnya terdapat empat bagian utama, yakni Bangunan Induk, Gedhong Gongso, Gedhong Telepon Rumah Diesel, serta sejumlah paviliun. 

Cluster of dark blue cottages with red tile roofs set in a tropical, tree-filled courtyard under a clear blue sky.
Sejumlah bangunan di Kompleks Pesanggrahan Ngeksiganda. (Foto: JH Kusmargana)

Bangunan induk Pesanggrahan Ngeksiganda sendiri dibuat dengan gaya arsitektur khas bangunan Indis. Yakni dengan atap limasan serta dinding dari papan kayu dan kaca.

Sementara bangunan menyolok lainnya adalah Gedhong Gongso. Bangunan ini merupakan tempat untuk menyimpan alat kesenian gamelan serta menggelar pertunjukan kesenian Jawa.

Sejarah Diplomasi Indonesia

Selain menyimpan sejarah arsitektur peninggalan kolonial, Pesanggrahan Ngeksiganda juga menyimpan sejarah penting diplomasi Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Di lokasi tersebut menjadi saksi perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) yang melibatkan Amerika Serikat, Australia, dan Belgia untuk membahas penyelesaian konflik antara Indonesia-Belanda pada 1948.

Jika pertemuan utama digelar di Wisma Kaliurang, maka Pesanggrahan Ngeksiganda ini digunakan sebagai tempat kerja para staf dan delegasi karena lokasinya yang berada tepat di seberang Wisma Kaliurang. 

Glass-walled pavilion with a red tiled roof, decorative tiled base, and surrounding greenery in a park setting.
Bangunan Gedhong Gongso di Kompleks Pesanggrahan Ngeksiganda Kaliurang. (Foto: JH Kusmargana)

Tak hanya itu, menurut Staf Ahli Dinas Kebudayaan Sleman bidang arkeologi dan pelestarian warisan budaya kolonial, Lengkong Sanggar Ginaris, Pesanggrahan Ngeksiganda juga digunakan sebagai tempat menjamu para tamu.

“Jadi Gedhong Gongso ini dulu digunakan untuk menggelar pertunjukan kesenian untuk menghibur tamu-tamu delegasi di sela pembicaraan perundingan,” ujarnya.

Kompleks Paling Mewah

Tak banyak yang tahu, Pesanggrahan Ngeksiganda ini juga merupakan salah satu kompleks paling mewah dan modern di masanya. Pasalnya di awal abad 20 pesanggrahan ini sudah memiliki peralatan telepon hingga jaringan listrik.

Dibuktikan dengan keberadaan bangunan Gedhong Telepon yang dahulu digunakan untuk menempatkan peralatan telepon, serta Rumah Diesel yang digunakan untuk menyimpan mesin diesel sebagai sumber listrik. 

Dengan jejak sejarah yang luar biasa itu pesanggrahan keluarga ini pun ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya yang telah memiliki registrasi nasional.

Hingga kini kompleks bangunan ini masih kerap digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga Keraton Yogyakarta.

Sejumlah bangunannya juga terlihat terawat dengan baik. Sayang tempat ini tidak terbuka untuk umum sehingga tidak bisa dikunjungi tanpa izin khusus dari keraton. *** 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar