Mabur.co – Tak banyak yang tahu, terdapat sebuah kesenian wayang unik yang pernah lahir dan tumbuh di Yogyakarta sekitar tahun 1920 hingga 1960-an.
Sayangnya, saat ini kesenian wayang itu bisa dikatakan telah punah, karena tak lagi ada yang memainkannya. Namanya Wayang Cina Jawa atau biasa disebut Wacinwa.
Sesuai namanya, wayang satu ini terbilang unik karena memadukan unsur budaya Jawa dan Cina.
Dilansir dari laman resmi Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Minggu (27/9/2026), Wacinwa pertama kali muncul di Yogyakarta pada awal abad ke-20.
Keberadaan dan perkembangan Wacinwa ini tidak bisa dilepaskan dari ketertarikan masyarakat peranakan Tionghoa terhadap kebudayaan Jawa.
Salah satu tokoh perintisnya adalah seniman peranakan bernama Gan Thwan Sing. Ia membuat wayang dengan karakter visual Tionghoa dan menggunakan cerita rakyat serta legenda dari negeri tirai bambu tersebut sebagai lakonnya.
Pementasan Gunakan Tradisi Pedalangan Jawa
Meski tokohnya berbeda dari wayang Jawa pada umumnya, namun cara pementasannya tetap menggunakan tradisi pedalangan Jawa.
Pertunjukan Wacinwa tetap menggunakan dalang sebagai figur utama, gamelan sebagai musik pengiring, serta sejumlah unsur pakem seperti gunungan, prajurit dan emban yang tetap dipertahankan.
Karena menceritakan kisah masyarakat Cina, maka bentuk wayang Wacinwa juga memiliki karakter manusia berbusana Tionghoa.
Selain itu wayang ini juga memiliki sejumlah ragam hias berupa senjata, kapal, kereta, hingga makhluk mitologi Cina seperti liong dan kilin.
Wacinwa Berbahasa Jawa Beraksara Hanacaraka
Tidak hanya bentuk visual, pembauran juga terjadi dalam bahasa. Naskah lakon Wacinwa ditulis menggunakan bahasa Jawa dengan aksara Hanacaraka.
Sejak kemunculan pertamanya sekitar 1920-an, Wacinwa mengalami perkembangan yang luar biasa pesat hingga sekitar tahun 1960-an.
Sejumlah warga Cina peranakan seperti Lie Jing Kiem, cucu Lie Toen, juga aktif menggelar pertunjukan wayang Wacinwa untuk masyarakat umum.
Pertunjukannya tidak hanya dikenal di Yogyakarta, tetapi juga menyebar ke sejumlah wilayah lain di Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur dan Cirebon.
Keberadaan Wacinwa yang mempertemukan dua kebudayaan dalam satu kesenian ini kemudian menjadi salah satu jejak sejarah akulturasi budaya di Indonesia.
