Wonomulyo Ingin Jadi Kota: Antara Identitas Kappung Jawa dan Pasar Modern (Bagian 4-Selesai)

3 Min Read
Two men in traditional clothing stand on a rural concrete road beside flooded rice fields at sunset, with palm trees and distant mountains in the background.
Potensi persawahan di Wonomulyo, Polewali Mandar yang mulai terancam dengan kedatangan perkebunan sawit (Dok. Pribadi)

“Pasar Wonomulyo lebih ramai daripada pasar Polewali,” begitu kalimat yang diulang-ulang di warung kopi Pasar Sentral. Dan itu bukan bualan.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/kampung-jawa-di-tanah-mandar-bagian-1/

Media lokal Paceko.com mencatat: “Sebelum Sulbar terbentuk 2004, Wonomulyo sudah dikenal sebagai pusat perekonomian dan perdagangan di Polewali Mamasa (ketika Mamasa masih bergabung dengan Polewali Mandar). Bahkan menjadi kiblat pedagang di kawasan barat Sulsel.”

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/ada-luka-di-hutan-mulia-bagian-2/

Di era 2000-an, belasan bank BUMN, swasta, BPR buka kantor di sini. Kecamatan dengan penduduk 51 ribu jiwa ini punya denyut lebih kencang dari ibu kota kabupatennya sendiri. Dari denyut itulah lahir wacana lama yang kembali panas: Wonomulyo menuntut menjadi kota otonom baru.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/lidah-jawa-generasi-keempat-masih-bisa-berbahasa-ngoko-krama-di-tanah-mandar-bagian-3/

Di Sulbar, isu ini sensitif. Komunitas Blogger Indonesia (Kombi.id) menulis 2025: “Sulawesi Barat adalah satu-satunya provinsi di Sulawesi yang tidak memiliki kota otonom.”

Moratorium pemekaran wilayah, pusat menahan segalanya. Jika Mamuju ibu kota Sulbar ngotot jadi kota, Wonomulyo juga merasa layak.

Mereka punya syarat historis, Distrik Colonie 1937, hutan mulia yang dibuka kolonis Jawa dan syarat sosiologis, heterogen tapi rukun.

Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Wonomulyo, M. Thalib, yang dilantik Mei 2024, mengatakan, “Wonomulyo adalah kecamatan yang terdiri dari banyak suku atau etnis.”

Modal Politik Identitas

Ada Mandar, Jawa, Bugis, Toraja. Inilah modal politik identitas yang dipakai, bukan Mandar murni, bukan Jawa murni, tapi Kappung Jawa yang berhasil merawat kebersamaan.

Paceko.com menegaskan: “Kehidupan masyarakatnya yang heterogen. Tapi konsisten merawat kebersamaan dan saling menghargai. Tapi apa yang akan hilang ketika kota itu akhirnya datang? Dua hal: pasar tradisional dan sawah.

Pertama, pasar modern. Sandeq.co.id melaporkan, Bupati Polman, Samsul Mahmud, akhirnya mengeluarkan kebijakan, “Moratorium pembangunan toko swalayan sambil menunggu kajian sosial ekonomi. Penutupan toko swalayan yang tidak memenuhi peraturan.”

Di Wonomulyo, Indomaret-Alfamart tumbuh di tiap perempatan Jalan hingga Jalan Padi Unggul, menggerus lapak-lapak yang pernah ditertibkan Satpol PP di halaman kantor camat.

Kedua, sawit dan kemarau. Paceko 15 September 2026 melaporkan, warga Wonomulyo menggelar salat Istisqa di pelataran Masjid Merdeka.

Pengurus masjid Syarifuddin bilang: “Sudah hampir lima bulan tidak turun hujan. Dampaknya banyak, mulai sawah-sawah mengering hingga krisis air bersih. Sawah warisan kolonisasi yang dulu jadi simbol ‘hutan yang memuliakan’ kini menyusut, sebagian jadi kebun sawit plasma di Mapilli dan Matakali.”

Pak Haji Mukidjo, saksi sejarah Wonomulyo, pernah bilang, “Wonomulyo artinya hutan yang diolah agar memberi kebahagiaan. Jika jadi kota otonom, pertanyaannya: hutan siapa, mulia untuk siapa?” ***

TAGGED:
Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar