Jenang Alot Tercatat dalam Prasasti Berusia 1000 Tahun, Masih Bisa Dicicipi hingga Kini

2 Min Read
Jenang alot kuliner tradisional. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Tak banyak yang tahu di sebuah desa di pelosok Sleman, Yogyakarta, terdapat sebuah kuliner tradisional yang berusia lebih dari 1000 tahun dan masih eksis hingga saat ini.

Kuliner itu adalah jajan pasar bernama jenang alot asal Kalurahan Sendangmulyo, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dua Prasasti Abad 10

Kuliner yang sangat mirip dengan jenang dodol ini disebut-sebut merupakan hidangan tradisional yang tercatat dalam dua buah prasasti era Kerajaan Mataram Hindu dan Buddha di abad 10.

Dilansir dari situs resmi Kalurahan Sendangmulyo, Senin (28/9/2026), jenang alot terbuat dari bahan seperti beras ketan, santan kelapa, dan gula Jawa. 

Meski mirip jenang dodol, jenang alot memiliki tekstur yang lebih lembut namun tetap liat dan padat. Hal itu tak lepas karena proses pembuatannya yang masih sangat tradisional. 

Adonan harus dimasak menggunakan kayu bakar dan terus diaduk secara manual selama berjam-jam hingga benar-benar didapat tekstur yang diinginkan. 

Makna Simbolis Jenang

Dalam tradisi masyarakat Jawa, jenang tidak hanya dibuat sekadar sebagai makanan. Lebih dari itu jenang  juga memiliki makna simbolis sehingga kerap digunakan dalam berbagai upacara adat yakni sebagai perlambang doa, harapan, dan rasa syukur.

Jenang alot ini bahkan disebut dalam prasasti Sangguran berangka tahun 928 Masehi serta Prasasti Alasantan berangka tahun 939 Masehi.

Jenang alot biasanya dibuat bersama krasikan mawar. Meski menggunakan bahan dasar yang hampir sama, keduanya memiliki karakter berbeda.

Jenang alot bertekstur halus, liat, dan berwarna cokelat tua. Sementara krasikan dibuat dari ketan yang disangrai sehingga teksturnya lebih kasar dengan warna cokelat muda.

Keduanya dibuat tanpa bahan pengawet. Jenang yang diolah dengan cara tradisional ini bahkan disebut dapat bertahan hingga sekitar 20 hari pada suhu ruang tertentu.

Rasanya yang manis, tekstur yang khas, serta sejarah panjang yang melatarbelakanginya membuat kedua makanan tradisional ini sebagai kekayaan budaya yang harus terus dilestarikan agar tetap eksis dan tidak hilang begitu saja. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar