Mabur.co – Tradisi Kirab Budaya dan Ruwat Bumi kembali digelar Vihara Dhamma Budhi Bhakti yang terletak di Kota Tangerang, Banten, Minggu (27/9/2026).
Tradisi ini digelar dalam rangka memeriahkan Sejit Tjie Thien Ta Sen Bio atau perayaan hari kelahiran suci dewa utama kelenteng, sekaligus hari jadi ke-43 Vihara Dhamma Budhi Bhakti.
Perayaan 7 Tahun Sekali
Yang menarik dari tradisi ini adalah perayaannya yang hanya digelar setiap 7 tahun sekali.
Dalam perayaan ini acara akan diisi dengan kirab Joli Suci atau tandu suci yang digunakan untuk membawa arca dewa-dewi dalam tradisi masyarakat Tionghoa.
Dilansir laman resmi Pemerintah Kota Tangerang, Senin (28/9/2026) tahun ini ada sebanyak 90 Joli Suci diarak mengelilingi Kota Tangerang.
Joli yang ikut dalam kirab tidak hanya berasal dari Tangerang, tetapi juga didatangkan dari Jakarta, Bogor, Karawang, Sukabumi, Semarang, hingga Palembang.
Pendiri Vihara Dhamma Budhi Bhakti, Benny Susanto, mengatakan tradisi ini menjadi momen yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat karena hanya digelar setiap 7 tahun sekali.
“Antusiasnya luar biasa, ribuan orang tumpah ruah memadati jalanan kota dari ujung ke ujung ingin menyaksikan kirab tujuh tahun sekali ini,” ujar Benny.
Vihara Dhamma Budhi Bhakti sendiri merupakan kelenteng dengan dewa utama Tjie Thien Ta Sen. Karena itu perayaan ini digelar untuk menghormati kelahiran dewa suci tersebut.
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, Tjie Thien Ta Sen juga dikenal dengan nama Ce Thian Tay Seng atau Tay Seng Ya. Sosok ini diidentikkan dengan Sun Wukong, tokoh kera sakti dalam kisah klasik Tiongkok.
Dalam tradisi kelenteng, Sejit merupakan perayaan untuk menghormati dewa utama atau dewa tuan rumah.
Tjie Thien Ta Sen dikenal sebagai sosok yang dikaitkan dengan keberanian, kebijaksanaan, dan perlindungan terhadap umat.
Kolaborasi Komunitas Berbagai Daerah
Peringatan tersebut kemudian dipadukan dengan ruwat bumi dan kirab budaya yang melibatkan komunitas dari berbagai daerah.
Puluhan Joli Suci dari berbagai daerah membuat arak-arakan berlangsung semarak. Selain tandu berisi patung dewa-dewi, sejumlah kesenian tradisional turut mengiringi perjalanan kirab.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, Boyke Urif Hermawan, menyambut baik penyelenggaraan kirab ini karena mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga masyarakat di berbagai daerah.
“Kirab berjalan sangat meriah, puluhan usung-usungan joli dan kesenian budaya juga diarak mengelilingi kota disaksikan langsung ribuan pasang mata pengunjung yang berdatangan tidak hanya dari dalam kota bahkan luar Kota Tangerang,” kata Boyke.
Selain dapat menjadi hiburan tersendiri bagi warga masyarakat, adanya tradisi ini juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan kekayaan budaya peranakan Tionghoa yang berkembang di Kota Tangerang.
Terlebih tradisi ini juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wisata budaya karena mempertemukan unsur keagamaan, kesenian, dan kehidupan komunitas dalam satu rangkaian acara. ***
