Inovasi Program Beranda Perpusnas, Ajak Masyarakat Baca Kembali Jejak Sejarah Sriwijaya

3 Min Read
Two men sit in armchairs on a stage with a large screen behind them displaying a profile of Herald van der Linde and Indonesian text; a talk or interview is taking place.
Suasana peluncuran buku “SRIVIJAYA: Power, Trade, and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire” karya Herald van der Linde di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. (Foto: Dok Kemendikbud)

Mabur.co – Siapa tak kenal Sriwijaya. Salah satu kerajaan tertua di Nusantara ini tercatat sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar di kawasan Asia Tenggara pada sekitar abad 7 Masehi.

Jauh sebelum Indonesia memiliki negara kepulauan seperti sekarang, Sriwijaya telah membangun jaringan maritim yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara lewat jalur perdagangannya.

Tak hanya itu, dalam catatan perjalanan biksu I Tsing pada 670 Masehi, Sriwijaya yang terletak di Pulau Sumatra (sekarang Palembang) ini juga merupakan tempat penting dalam pembelajaran agama Buddha di Asia.

Hal itulah yang mengemuka dalam peluncuran buku “SRIVIJAYA: Power, Trade, and Faith in Indonesia’s First Maritime Empire” karya Herald van der Linde di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, belum lama ini.

Diluncurkan dalam program publik perdana Museum Nasional Indonesia, Beranda (Berbincang Ragam Budaya), di Ruang Teater Gedung C, kegiatan ini menghadirkan narasumber sang penulis buku Herald van der Linde.

Telaah Ratusan Literatur

Herald mengatakan, penyusunan buku dilakukan melalui penelaahan ratusan literatur dan sumber sejarah. 

Pembahasannya terkait berbagai hal mengenai sejarah Sriwijaya, mulai dari catatan perjalanan I Tsing, sosok Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang tercatat dalam prasasti, hubungan dengan Wangsa Syailendra, hingga era pembangunan Borobudur.

Muara Jambi Sentral Perdagangan Maritim

Salah satu bagian yang dibahas adalah Muara Jambi di Sumatra. Kawasan tersebut disebut sebagai salah satu pusat pembelajaran penting pada masanya, ketika pengetahuan dan aktivitas keagamaan berkembang bersama jaringan perdagangan maritim.

Pelabuhan juga menjadi bagian penting dalam sejarah Sriwijaya. Jalur laut tidak sekadar digunakan untuk mengangkut barang, tetapi menjadi penghubung perdagangan dan diplomasi antara berbagai wilayah.

Herald juga mengulas kaitan sejarah Sriwijaya dengan asal-usul pendirian Singapura. Hal itu menunjukkan luasnya jaringan hubungan yang terbentuk di kawasan Asia Tenggara pada masa tersebut.

Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, mengatakan peluncuran buku ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat kembali sejarah melalui koleksi dan narasi yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia.

“Acara kali ini merupakan book launching, karena menurut Pak Herald, acara-acara sebelumnya mengenai buku Sriwijaya merupakan acara yang digelar terbatas. Jadi ini adalah acara pertama yang dibuka secara resmi untuk masyarakat umum,” ungkap Indira sebagaimana dikutip dari rilis resmi Kementerian Kebudayaan RI, Selasa (29/9/2026). 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar