Mengenal Batik Gumelem Banjarnegara, Baru Saja Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 

7 Min Read
A woman works on a fabric on a loom, painting or applying wax to create batik-like circular motifs on a white cloth.
Ilustrasi. Seorang perajin tengah membatik. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Batik Gumelem khas Banjarnegara, Jawa Tengah, baru-baru ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Penetapan ini sekaligus menambah deretan ragam jenis batik di berbagai wilayah Nusantara yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. 

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/21-warisan-budaya-jateng-ditetapkan-sebagai-wbtbi-2026-salah-satunya-batik-gumelem-banjarnegara/

Namun seperti apakah sebenarnya Batik Gumelem khas Banjarnegara? Bagaimana sejarahnya dan seperti apa perkembangannya hingga ditetapkan sebagai WBTbI?

Muncul Sejak Masa Mataram Islam

Dari namanya Batik Gumelem sendiri dikenal sebagai jenis batik yang diproduksi masyarakat Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. 

Sejarah awal mula Batik Gumelem diyakini berkaitan dengan Kademangan Gumelem yang memiliki hubungan sejarah dengan Keraton Mataram Islam sejak abad 16.

Menurut penelitian Amelia Chandra Dewi dari Universitas Negeri Yogyakarta, dikutip mabur.co, Selasa (29/9/2026), sejarah Batik Gumelem tidak lepas dari sosok Ki Ageng Udhakusuma atau Ki Ageng Gumelem. Ia dikenal sebagai kerabat Keraton Mataram sekaligus demang pertama Kademangan Gumelem.

Disebutkan, Ki Ageng Gumelem datang ke wilayah yang saat itu bernama Padukuhan Karang Tiris untuk menjalankan perintah Panembahan Senopati merawat makam Ki Ageng Giring di kawasan Girilangan.

Atas jasanya, Ki Ageng Gumelem kemudian diberi hak mengelola wilayah Kademangan Gumelem dengan tata pemerintahan sendiri atau menjadi tanah perdikan.

Motif Batik Keong Mas. (Foto: Dok. Batik Tunjung Biru)

Dari situlah Kademangan Gumelem kemudian berkembang pesat dengan memilki sejumlah tenaga ahli layaknya keraton, termasuk pembatik yang membuat kain untuk kebutuhan keluarga, kerabat, dan lingkungan pemerintahan.

Pengaruh lingkungan Keraton Mataram dalam tradisi Batik Gumelem juga terjadi saat masa Perang Diponegoro. 

Perpindahan sejumlah punggawa, budayawan, dan seniman batik ke wilayah Banyumas ikut membawa perkembangan corak batik yang kemudian berpengaruh sampai Gumelem.

Sejumlah hal itulah yang kemudian membuat tradisi Batik Gumelem memiliki karakter yang tidak hanya dipengaruhi tradisi Keraton Mataram awal, tetapi juga budaya Banyumasan.

Dihidupkan Kembali Sejak Era 2000-an

Meski pernah berkembang pesat, perkembangan Batik Gumelem mulai redup usai Kademangan Gumelem mengalami perubahan dan akhirnya terpecah menjadi Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon.

Batik yang sebelumnya banyak digunakan untuk kebutuhan lingkungan kademangan, acara pemerintahan, dan ritual adat semakin terbatas penggunaannya.

Aktivitas membatik kemudian lebih banyak dilakukan perempuan lanjut usia untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Jumlah pembatik pun terus berkurang dan keberadaan Batik Gumelem sempat mengalami kemunduran.

Upaya menghidupkan kembali Batik Gumelem mulai mendapat perhatian pemerintah daerah pada awal 2000-an, setelah sejumlah pembatik generasi baru muncul dan memperkenalkan kembali Batik Gumelem kepada masyarakat.

Decorative fabric pattern featuring repeating circular sunburst medallions with elephant silhouettes in brown and white.
Motif Gajah Nguling (Foto: Dok Batik Tunjung Biru)

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara juga mendorong pelestarian melalui berbagai upaya mulai dari pelatihan membatik, bantuan peralatan, lomba motif, hingga dukungan permodalan dan sebagainya. 

Dari situlah Batik Gumelem akhirnya bisa kembali berkembang dengan lahirnya desain motif baru dan karakter yang khas tanpa menghilangkan jati diri sehingga banyak disukai dan dikenal ke berbagai daerah.

Ragam Jenis Motif dan Corak Batik Gumelem

Menurut penelitian Amelia Chandra Dewi dari Universitas Negeri Yogyakarta, Batik Gumelem dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni motif klasik, tradisional, dan kontemporer. 

Ketiganya menunjukkan perkembangan yang tidak hanya mempertahankan corak lama, tetapi juga melahirkan motif baru yang mengambil inspirasi dari lingkungan dan kehidupan masyarakat Banjarnegara.

Kelompok motif klasik memiliki hubungan kuat dengan corak batik tradisional Jawa dan pengaruh lingkungan Kademangan Gumelem. 

Beberapa motif yang termasuk dalam kelompok ini antara lain Cebong Kumpul, Pring Sedapur, Gajah Nguling, Semen Klewer, dan Keong Mas. 

Selain itu, terdapat motif Udan Liris, Rujak Senthe, Sido Mukti, Sido Luhur, Sekar Jagad, Parang Angkrik, Gabah Wutah, Kopi Pecah, dan Grinting. 

Ragam tersebut memperlihatkan pengaruh budaya Mataraman sekaligus hubungan dengan tradisi batik di wilayah Banyumas. Pengaruh lingkungan Keraton Solo dan Yogyakarta juga terlihat dalam sejumlah coraknya.

Sementara itu, motif tradisional berkembang dari corak yang diwariskan secara turun-temurun dan kemudian menjadi bagian dari identitas Batik Gumelem. 

Motif yang termasuk kelompok ini antara lain Candi Arjuna, Parang Cendhol, Cendhol Salak, Lung Semanggen, Parang Salak, Kali Serayu, hingga Trisula Wajik.

Berbeda dengan motif yang banyak mempertahankan corak klasik Jawa, kelompok ini lebih kuat menampilkan unsur lokal Banjarnegara. Alam, tanaman, hasil pertanian, kehidupan masyarakat, hingga objek wisata menjadi sumber gagasan dalam penciptaannya.

Decorative textile pattern with turquoise pagodas and light teal leaves on a dark background, repeating motifs across the fabric.
Motif Batik Candi Arjuna. (Foto: Dok Batik Tunjung Biru)

Salah satu contohnya adalah motif Candi Arjuna yang terinspirasi dari kompleks Candi Arjuna di kawasan Dieng.

Unsur salak juga muncul dalam motif Cendhol Salak dan Parang Salak, sedangkan Sungai Serayu menjadi sumber inspirasi motif Kali Serayu. 

Penggunaan unsur lokal ini membuat motif Batik Gumelem tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan lingkungan, budaya, dan potensi daerah.

Sedangkan kelompok motif kontemporer antara lain seperti Sekar Tirta, Gedong Kosong, Manggaran, Pare Anom, Kantil Rinonce, Sekar Pudhak, Tameng Projo, Sekar Gadung, Sekar Bumi, Pakis Tanjung, Sekar Puri, Pilih Tanding, Sambung Nyawa, Sidang Siring, dan Kupu Mutiara. 

Motif-motif tersebut merupakan hasil pengembangan baru yang mengambil inspirasi dari lingkungan Gumelem, kehidupan masyarakat, hasil bumi, kuliner, serta berbagai potensi wisata Banjarnegara. 

Karena dibuat dengan gagasan yang lebih baru, bentuk, susunan ornamen, dan komposisinya juga lebih beragam dibandingkan motif klasik atau tradisional.

Selain motif, corak warna juga menjadi salah satu ciri penting Batik Gumelem. Warna hitam dikenal cukup dominan dan kerap menjadi dasar yang kemudian dipadukan dengan merah, putih, hijau, biru, kuning, atau oranye. 

Meski begitu dalam perkembangannya, Batik Gumelem juga menggunakan warna cokelat, biru tua, dan biru muda. Perpaduan tersebut dibuat dengan tetap menempatkan motif sebagai bagian yang paling menonjol. 

Dengan beragam jenis, motif dan corak yang dimilikinya, tentu orang awam akan sangat sulit untuk membedakan Batik Gumelem. Karena itulah dibutuhkan kurasi dari seorang ahli batik yang benar-benar mengenalnya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar